Wawali Malang Apresiasi Negeri Payung Mbah Rasimun Go to Solo

Wawali Malang Apresiasi Negeri Payung Mbah Rasimun Go to Solo

Wawali saat membuka pameran tunggal Mbah bertajuk Negeri Payung Karimun di DKM. (Foto: Doddy Rizqy-aremamedia.com)

MALANG – Mbah Rasimun, sang maestro payung nasional asal Kelurahan Pandanwangi Kec Blimbing Kota Malang, merasa sangat tersanjung saat Wakil Wali Kota Ir H Sofyan Edi Jarwoko menghadiri pembukaan pameran budaya negeri di pelataran  Dewan kesenian Malang( DKM), Kamis (20/11/2020).

Mbah Rasimun  yang membawa puluhan payung fashionable itu berharap dapat dukungan dari Pemerintah Kota Malang khususnya dan umumnya Propinsi Jawa Timur. Selain bakal meramaikan seni payung, sekaligus dapat memotivasi seniman tari payung yang bakal merebut perhatian di Kota Solo awal Desember  2020.

“Kami berharap bukan hanya meramaikan pameran payung. Yang tersisa karya saya saja. Yang lain sudah dipanggil pemilik hidup. Untuk itu kami sangat berterima kasih pada Pak Wawali,” tutur Mbah Mun yang kini berusia 96 tahun.

Dalam sambutannya Edi mengajak untuk memelihara seni payung ini sebagai wujud keaneragaman budaya. “Dukungan ini akan memotivasi para maestro seni budaya sekaligus mendorong kreativitas anak muda untuk terus berkesenian,” ujar politisi Golkar ini.

Pameran tunggal karya payung Mbah Rasimun bertajuk  ‘Negeri Payung’ itu menarik minat Wawali. “Gelar seni ini luar biasa untuk menyambut pameran dan kompetisi 100 payung di Solo,” katanya.

Lebih jauh Edi mengaku baru tahu seniman Tari payung Kota ikuti Kompetisi di Solo. “Sebaiknya terus koordinasi  sehingga dinas terkait bisa membantu. Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata insyaallah merespon kegiatan in,” tegasnya.

Sementara itu, ketua panitia pameran, Yuyun Sulastri, mengatakan, sebagian payung yang dipamerkan akan dibawa ke kantor Mbah Mun, sedangkan lainnya dibawa ke Solo.

“Semoga Pemkot Malang mendukung perjalanan kami ke Solo dan Prambanan karena kami ini kan sebenarnya mewakili kota,” beber Yuyun.

Dikatakan Yuyun, keterampilan ilmu payung diwariskan Mbah Mun ke 10 anaknya, sebab diakui pembuat payung seni yang tersisa di Malang dua seorang.

“Yang tersisa karya saya saja. Yang lain sudah dipanggil pemilik hidup. Karena itu kehadiran Wawali bisa jadi penyemangat seniman tua untuk tetap eksis dan mendorong kaum muda berprestasi,”  tutur Mbah Mun, sapaan akrabnya.(*)

pewarta: Doddy Rizqy
editor     : Noordin Djihad