Wajah Baru Gang Tato Jabung, ternyata Ini Penyebabnya

Wajah Baru Gang Tato Jabung, ternyata Ini Penyebabnya

Seoramg anak sedang asyik membaca di gubuk baca yang sederhana namun kaya pengetahuan. (Foto: Emil Meidiza-aremamedia.com)

MALANG – Di sore yang cerah, Rafli (7) terlihat duduk manis. Matanya serius sekali membacoa sebuah buku cerita. Perpaduan gambar dan narasi yang menarik dari buku tersebut membuatnya bergeming kursi. Tak dihiraukan dua temannya yang sedang asyik bermain alat musik di depannya.

Di belakang Rafi terdapat rak penuh buku, rapi dengan judul-judul buku yang disesuaikan. Di luar itu, sesekali terlihat lalu-lalang masyarakat yang sesekali menyapa ketiga anak tersebut saat melewati gubuk baca.

Seperti itulah keseharian suasana Gang Tato, Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Sangat jauh berbeda dibanding dahulu jika menilik namanya, Gang Tato. Tak ada lagi remaja-remaja nakal yang badannya bertato.

Dengan kesadaran diri para remaja mengubah stigma buruk, kini muncul rasa simpati. Semua itu berkat munculnya gubuk baca.

Setidaknya saat ini di Kecamatan Jabung sendiri terdapat 16 gubuk baca. Salah satunya berada di Gang Tato, tepatnya di latar depan rumah Febri Firmansyah.

Papan nama gubuk baca di Gang Tato, Jabung. (Foto: Emil Meidiza-aremamedia.com)

Gubuk baca berukuran 3×6 meter ini sangat artistik. Bangunannya merupakan perpaduan kayu dan bambu yang diikat sangat kuat. Gubuk tersebut juga dipenuhi origami dan berbagai pernak-pernik lain.

Di gubuk itulah, pemuda 33 tahun yang lebih dikenal warga sekitar dengan nama Lukas menjadi pengurus. Ia sering membimbing anak-anak kecil untuk bermain atau belajar bersama. Selain itu, gubuk ini juga menjadi tempat silaturahim warga sekitar atau pengunjung yang hadir.

“Tempat ini dibangun bersama-sama, dipakainya juga sama-sama. Jadi ini tempat milik bersama,” tutur Febri alias Lukas yang sebagian lengannya dihiasi rajah.

Tentang rajah atau tato di lengannya, Lukas yang sehari-hari sebagai sopir itu menyebut akibat faktor lingkungan. Dampaknya, dia merasa sulit bergaul dengan orang-orang baik.

Namun, ia akhirnya sadar diri. Terlebih ketika gubuk baca didirikan. “Banyak sekali pengalaman positif yang saya dapat dari gubuk baca,” aku Lukas yang sekarang disegani warga sekitar terutama anak-anak.

Lukas sekarang memang bukan Lukas yang dulu memiliki pengalaman buruk. “Kalau generasi saya tidak memulai untuk melakukan perubahan, lalu bagaimana nanti generasi adik-adik saya?” ujarnya bernada retoris.

Buku-buku tersusun rapi di rak untuk memudahkan pembaca, (Foto: Emil Meidiza-aremamedia.com)

Sejarah kelam Gang Tato dibenarkan Fachrul Alamsyah. Pria yang akrab disapa Irul inilah sosok di balik berdirinya gubuk baca. Menurutnya, dulu pemuda Gang Tato sangat terkenal perilaku buruknya.

“Banyak penduduk yang bertato, konsumsi miras yang tak kenal tempat, sampai tawuran. Bahkan beberapa penduduk terjerumus narkoba,” kenangnya.

Penilaian masyarakat terhadap keburukan itulah yang pada akhirnya melabeli gang tersebut dengan nama Gang Tato. “Namun penilaian buruk tersebut perlahan mulai luntur ketika berdiri gubuk baca,” lanjutnya.

Irul memulai perjuangannya mengubah perilaku secara perlahan. Saat itu Irul berpikiran tidak mungkin mengubah gang tersebut langsung ke penduduk yang berperilaku buruk.

“Maka saya mencoba membuat perpustakaan mini untuk anak-anak. Harapan saya dari ketertarikan anak-anak kecil tersebutlah yang akan berakibat langsung ke orang-orang dewasa,” kata Irul membuka resep perjuangannya.

Perlahan tapi pasti, orang-orang dewasa pasti sadar bahwa anak-anak kecil tersebut berada pada arah yang baik. “Setidaknya kalau mereka sudah sadar, perlahan-lahan akan mengubah diri mengikuti arah anak-anak kecil itu,” tuturnya.

Harapan lebih luas, pendirian gubuk baca bisa berdampak ke semua warga sekitar. Selain itu, kegiatan-kegiatan positif juga digalakkan untuk aktivitas warga. “Mulai olahraga, seni, pementasan, dan banyak lainnya yang menjadi agenda rutin di kampung,” kata Irul.

Pada akhirnya, setiap haril selalu ada kegiatan-kegiatan positif yang nantinya akan menghilangkan kegiatan buruk. “Efeknya ke semua orang, hasilnya juga ke semua orang. Setidaknya mereka bisa berbangga dengan jerih payahnya terhadap lingkungannya,” ujar Irul bangga.

Harapan pria asli Malang tersebut terwujud. Banyak orang yang berkunjung ke sarana edukasi ini. Salah satunya musisi asal Malang, Iksan Skuter.

Lewat kemampuannya, Iksan turut berkontribusi dengan membuat lagu anak bersama anak-anak. Tujuannya agar lagu anak tetap memiliki eksistensi untuk dinyanyikan anak-anak.

Yang menarik, kehadiran Iksan Skuter bukan karena diundang. “Dia, yang punya inisiatif sendiri untuk berkontribusi di sini,” jelas Irul lagi. (*)

Pewarta: Emil Meireza (Mg-2)
Editor : Noordin Djihad