UMM Buka Suara Tentang Kebingungan Warga Kampung Hijau Desa Beji

UMM Buka Suara Tentang Kebingungan Warga Kampung Hijau Desa Beji

Dosen pendamping mahasiswa UMM yang praktikum di Desa Beji, Jamroji. (Foto: istimewa-aremamedia.com)

BATU – Universitas Muhammadiyah Malang akhirnya buka suara terkait kebingungan warga Kampung Hijau “Tempenosaurus”, Beji, Batu.

Dosen pendamping mahasiswa UMM yang praktikum di Desa Beji, Jamroji S.Sos, M.Comms kepada aremamedia.com menjelaskan kronologinya, Senin (8/4/2019) malam.

Jamroji membenarkan Kampung Hijau inisiatif Jatim Park 3 sebagai bentuk Corporate Sosial Responsibility (CSR). Tujuannya untuk memberdayakan warga sekitar. Kemudian JTP 3 merangkul PT. indana utk mewujudkan ide tersebut.

“Indana lantas menggandeng UMM untuk lebih detail mengonsep perberdayaan dan mengeksekusinya jadi kampug wisata. Lalu dari UMM via praktikum yang saya handle muncullah ide utk mural, optimalisasi potensi tempe sampai ide buat replika tempe berbentuk dinosaurus yg bisa pecahkan rekor muri. Ada juga nama tempenosaurus dan penghijauan dengan bunga matahari,” jelas Dosen Ilmu Komunikasi FISIP, UMM itu.
(Baca juga: Fakta Terbaru Desa Wisata Kampung Hijau, Masyarakat Bingung, Pj Kepala Desa Beji juga Bingung)

Perihal masyarakat Kampung Hijau yang kebingungan setelah kampung wisata diresmikan, Jamroji juga menjelaskan pihaknya akan melanjutkan pendampingan.

Dia menambahkan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Prospero sesungguhnya secara formal sudah selesai praktikum pada Januari lalu. Karena beberapa program belum selesai, maka secara moral mereka harus menuntaskan tanggung jawab sampai kampung diresmikan.

“Berikutnya nanti, kelompok ini masih akan mendampingi, walau tidak seintensif sebelumnya. Sambil nanti kita kirimkan kelompok praktikum baru untuk melanjutkan program pemberdayaan masyarakat pasca peresmian,” tambahnya.

Pendampingan yang dimaksud Jamroji, UMM akan fokus ke optimalisasi pemasaran dan produk olahan berbahan baku tempe.

“Untuk produksi tempe yg berbentuk karekter dino atau hewan lain belum bisa kontinyu dilaksanakan karena keterbatasan pemasaran. Padahal potensi pasarnya besar, terurtama segmen keluarga yang punya balita,” urainya.

Jamroji bahkan memproyeksikan bentuk tempe yang imut dan unik supaya anak-anak suka makan tempe. “Karena seperti kita ketahui, tempe sumber protein nabati yg utama,” terangnya.

Bahkan mahaaiswa dengan warga (ibu-ibu) beberapa kali berkreasi membuat produk olahan berbahan baku tempe.

“Tempe kita kreasi menjadi pizza, es krim, steak, puding, dll. Rasa sudah lumayan. Tinggal penyempurnaan tampilan luar agar menggoda lidah,” tuturnya.

Gagasan lain yang belum berhasil, kata Jamroji, adalah penanaman bunga matahari di setiap sudut kampung. “Kalau sudah berbunga, bagus untuk spot foto. Setelah itu bunga bisa dipotong lalu dirangkai jadi sclapture yang unik bertema purba. Disamping itu bijinya bisa dimanfaatkan untuk minuman kesehatan,” jelasnya.

Salah satu sudut Kampung Hijau. (Foto: Doi Nuri-aremamedia.com)

Sementara itu, perwakilan JTP 3, Simon Purwo Ali
membenarkan program CSR di Kampung Hijau oleh Jatim Park 3, PT. Indana dan UMM.

Kepada aremamedia.com Simon mengatakan, Indana adalah pelopor pengecatan kampung. Terkait pendampingan kemasyarakatan akan dilakukan oleh UMM secara berkelanjutan.

Hanya saja Simon tidak menjawab ketika ditanya pemilihan lokasi CSR adalah kampung yang bersebelahan dengan JTP 3. Padahal Dusun Karang Jambe secara konsep lebih matang dan tidak terkesan dipaksakan ada seperti Kampung Hijau.

“Kegiatan itu CSR kita kerja sama dengan PT Indana. Mereka gandeng UMM yang kebetulan sedang praktikum disitu menggarap kampung wisata,” jawab Simon singkat karena sedang ada kesibukan di Ponorogo (**)

Pewarta : Doi Nuri
Editor : Noordin Djihad