UKT UM Dianggap Mahal karena Minim Fasilitas, Begini Kata Wakil Rektor III

UKT UM Dianggap Mahal karena Minim Fasilitas, Begini Kata Wakil Rektor III

Wakil Rektor III UM, Mu'arifin, saat menemui massa unjuk rasa di depan kantor rektorat. (Foto: Doi Nuri-aremamedia.com)

MALANG – Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) dalam aksi mereka di depan Gedung Graha Rektorat UM tepat di Hari Pendidikan Nasional kemarin pagi (2/5/2019) memberikan kritik terkait mahalnya UKT serta minimnya infrastruktur untuk penyandang disabilitas.

Dalam orasinya, para mahasiswa menyatakan, UKT yang mahal tersebut tidak dibarengi dengan fasilitas yang sesuai. Perwakilan dari aliansi pun bermediasi dengan pihak rektor. Setelah itu, Wakil Rektor III Dr. Mu’arifin, M.Pd menemui para demonstran.

Menurut Mu’arifin, mahal tidaknya UKT subjektif karena dalam penentuan nominal, ada formulanya. “UKT sendiri bersifat subjektif. Mungkin terjadi pada segelintir orang, tidak pada ribuan orang. Jika merasa punya masalah yang seperti itu dipersilakan untuk menghubungi Bidang II,” tegas wakil rektor III itu.

Parameter atau ukuran mahal tidaknya UKT, lanjut Mu’arifin, harus jelas dulu. “Definisi mahal atau murah itu tergantung kriterianya,” katanya.

Dijelaskan Mu’arifin, UKT UM masih tergolong murah. Penentuan UKT di UM sendiri disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa masing-masing. “Acuan normatif kita pakai, masalah nominal UKT kami sesuaikan dengan kemampuan mahasiswa masing-masing. Bahkan yang bayar hanya Rp 1 juta juga banyak,” tegas Mu’arifin.

Dijelaskan Mu’arifin, orang yang benar-benar tidak mampu di UM maka akan bisa tidak membayar UKT sama sekali, bahkan mendapat Bidikmisi. Apabila mampunya hanya Rp 1 juta maka bayarnya juga hanya Rp 1 juta.

“Masalah seperti ini tidak bisa dipukul rata. Maka itu saya tekankan, sebelum menggelar isu, pahami dulu duduk masalahnya, kuasai peta konfliknya,” pungkasnya. (*)

Pewarta: Doi Nuri
Editor: Noordin Djihad