Asal-usul Nama di Malang Raya (9)

Tutup, Dusun Tertua di Batu Tempat Pemujaan Arwah Leluhur

Tutup, Dusun Tertua di Batu Tempat Pemujaan Arwah Leluhur

Gambar 01: Lokasi Dusun Torongtutup di Kota Batu (Sumber Foto: www.mapcarta.com|Desain: Devan Firmansyah, 2018)

Mulai edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran jurnalis aremamedia.comDevan Firmansyah yang juga pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya

 

Dusun Torongtutup atau dikenal dengan nama “Dusun Tutup” (karena nama depannya yaitu “Torong” mengikuti nama desanya) terletak di wilayah Kota Batu. Dalam buku “Nama-Nama Dusun dalam Desa di Jawa Timur”, yang ditulis/disusun oleh Biro Pemerintahan Desa Sekretariat Wilayah / Daerah (SEKWILDA) Tingkat I Jawa Timur, pada halaman 306, ditulis bahwa Dusun Tutup, bersama dengan dusun-dusun tetangganya yaitu Dusun Klerek dan Dusun Ngukir secara administratif berada di Kecamatan Junrejo, (Kota Batu, red). Secara geografis letak dusun ini berada di antara lereng Gunung Arjuna dan juga anak gunungnya yaitu Gunung Wukir. Selain itu dusun ini letaknya tepat berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Lanang. Dusun Tutup boleh dikatakan adalah salah satu dusun  tertua di wilayah Batu. Hal ini dapat dilihat pada peninggalan arkeologisnya yang dipundenkan oleh masyarakat sekitar.

Gambar 02: Papan Penunjuk Punden Tutup (Punden Mbah Ganden/Tunggul Wulung)
(Sumber Foto: Anggara Pradnya Widhiantara, 2015)

Punden tersebut dinamakan Punden Mbah Ganden/Tunggul Wulung oleh masyarakat atau Punden Tutup berdasarkan nama dusun dimana tempat Punden tersebut berada. Menurut sejarawan Malang M. Dwi Cahyono da;am bukunya yang berjudul “Sejarah Daerah Batu: Rekontruksi Sosio-Budaya Lintas Masa”, tahun 2011, halaman 53, dijelaskan bahwa Punden Mbah Ganden/Tunggul Wulung (Punden Tutup, red) sebenarnya adalah bangunan megalithic yang berbentuk punden berundak yang berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap arwah nenek moyang (ancestors worship). Sedangkan dalam catatan dosen UM jurusan sejarah, Slamet Sujud Purnawan Jati & Deny Yudo Wahyudi, dalam artikel mereka yang berjudul “Situs-Situs Megalitik di Malang Raya: Kajian Bentuk dan Fungsi”, yang dimuat dalam Jurnal “Sejarah dan Budaya, Tahun Kesembilan, Nomor I, Juni 2015”, pada halaman 121, dicatat dan dijelaskan bahwa sayang sekali bentuk punden berundak di Torongrejo (di Dusun Tutup, red) sudah tidak jelas lagi. Tinggalan arkeologis yang tersisa di Punden Tutup ini berupa 1 menhir kecil, 2 lingga kecil, 2 yoni tanpa kaki, 1 batu kenong, dan beberapa fragmen batu. Punden ini berorientasi ke puncak gunung tinggi yang berada di sebelah utaranya, yakni Gunung Arjuna yang dipandang sebagai tempat tinggal roh nenek moyang.

Gambar 03: Dua Buah Lingga Kecil di Punden Tutup
(Sumber Foto: Anggara Pradnya Widhiantara, 2015|Desain: Devan Firmansyah, 2018)

Kemudian, Slamet Sujud Purnawan Jati & Deny Yudo Wahyudi, dalam artikelnya di halaman yang sama tersebut menjelaskan: “Berdasarkan konteks dan perbandingan fungsi punden berundak di daerah lain, maka dapat diperkirakan punden berundak yang dijumpai di Punden Tutup (Torongrejo) berfungsi sebagai tempat suci untuk menjalankan ritus pemujaan terhadap arwah leluhur. Ritus pemujaan di situs punden berundak tersebut mungkin di- maksudkan untuk memperoleh berkah kesuburan. Sepertinya tinggalan megalitik di Punden Tutup ini masih dikeramatkan,” terang keduanya dalam artikel tersebut. Seperti yang telah disinggung di awal bahwa Punden Tutup mengalami kerusakan yang sangat berat, bentuk aslinya tidak diketahui lagi, dan banyak artefak yang raib dari punden tersebut. Menurut keterangan dari M. Ikhsan (29) bahwa artefak-artefak yang berada di Punden Tutup hilang dicuri oleh sejumlah oknum dari Bali pada tahun 1990-an, terutama artfek Batu Kenong yang saat itu jumlahnya cukup banyak.

Gambar 04: Artefak Batu Kenong yang Tersisa dan Sejumlah Fragmen Batu di Punden Tutup
(Sumber Foto: Anggara Pradnya Widhiantara, 2015|Desain: Devan Firmansyah, 2018)

Dengan demikian jelaslah bahwa berdasarkan peninggalan arkeologis di Dusun Tutup cukup untuk membuktikan bahwa daerah ini adalah salah satu daerah terkuno di wilayah Kota Batu. Kemudian sampailah pada pertanyaan inti kita mengapa daerah ini dinamakan “Tutup”? berdasarkan keterangan dari laman Desa Torongrejo yang berjudul “Sejarah Desa Torongrejo” (dikases dari www.infotorongrejo.com, pada 17/09/2018:16:38 WIB), dijelaskan, “Asal usul nama Dusun Tutup diambil dari sebuah pohon yang dahulu banyak tumbuh di daerah ini. Pohon tutup sendiri sudah hampir punah, hanya tinggal satu dua yang tersisa. Sedangkan yang membuka Dusun Tutup adalah salah satu seorang prajurit Pangeran Diponegoro bernama Mbah Iro yang datang sekitar abad ke-18 dan mendirikan padepokan sebagai tempat sekaligus sebagai tempat murid mencari ilmu, sehingga daerah ini dan sekitarnya sampai sekarang terkenal sebagai daerah Ndhempok”, terang laman desa tersebut. Pendapat berikutnya terkait asal usul dari nama Dusun Tutup berasal dari budayawan Batu, yaitu Mad Berlin (48) yang menerangkan, “Pada masa setelah Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830, banyak pengikutnya yang lari ke daerah Jawa Timur, salah satunya yaitu “Mbok Srigati”. Beliau adalah salah satu senopati Pangeran Diponegoro. Beliau lari ke daerah Dusun Tutup yang saat itu banyak ditumbuhi Pohon Tutup. Daerah yang rimbun itu digunakan sebagai tempat bersembunyi untuk “menutup” dirinya dari kejaran tentara Belanda. Beliau di desa itu menyamar sebgaai penari tandak dan mengajarkan kesenian itu pada penduduk desa sekitar. Suatu ketika Belanda singgah ke daerah tersebut dan diadakah perjamuan besar sekaligus diadakan sendratari tandak. Dalam acara yang meriah tersebut tentara Belanda lengah karena mabuk dan pada saat mabuk itulah mereka semua dihabisi oleh Mbok Srigati beserta pengikutnya,” terang Mad Berlin saat kami wawancarai (30/04/2018) di sebuah warung kopi dan ketan di depan Alun-Alun Kota Batu beberapa saat yang lalu.