Transformasi Panjang Lambang Pemerintahan Kota Malang

Transformasi Panjang Lambang Pemerintahan Kota Malang

Gambar 01: Transformasi Lambang-lambang Pemerintahan Kota Malang (Layout Gambar: Devan Firmansyah, 2018)

Lambang adalah suatu tanda yang memiliki maksud tertentu dalam setiap bentuk yang disampaikan. Setiap pemerintahan daerah baik kota maupun kabupaten di Indonesia pasti memiliki lambang pemerintahan masing-masing. Begitu juga dengan Kota Malang. Lambang Kota Malang memiliki sejarah panjang sejak masa Hindia-Belanda sampai kemerdekaan. Kendati demikian tak banyak warga Kota Malang sendiri yang tahu sejarah lambang kotanya. Berikut paparan sejarah transformasi panjang lambang pemerintahan Kota Malang dari masa ke masa.

Kota Malang resmi berkembang menjadi kota pemerintahan secara resmi dibentuk pada 1 April 1914. Pada sekitar tahun 1920-an Kota Malang sudah tampak sebagai kota yang akan tumbuh dengan pesat dan teratur. Pihak kota (Gemeente) memandang perlu untuk membuat lambang kota. Untuk itu dibuatlah beberapa rancangan lambang untuk Kota Malang. Sampai saat ini, Kota Malang mengalami beberapa kali pergantian lambang dan semboyan kota. Selama masa kolonial, Kota Malang menggunakan beberapa lambang seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini. Lambang pertama dikenalkan pada tahun 1921 dan yang kedua pada tahun 1936 (Sumber: Mochamad Antik, 2014 diakses dari www.ngalam.id, 11/4/2018:06:26 WIB).

Gambar 02: Lambang Tidak Resmi Stadsgemeente Malang pada Tahun 1921
(Sumber Gambar: www.ngalam.id)

Lambang Gemeente Malang mulai dikenalkan pada tanggal 17 Juni 1921 yang berwujud dua ekor singa Belanda (De Nederlandsche Leeuw). Oleh seorang ahli sejarah Belanda dari Batavia, yaitu Dr. Frederik de Haan, ditambahkan sebuah semboyan dalam Bahasa Latin yang berbunyi “Malang Nominor Sursum Moveor” yang berarti “Malang Kotaku Maju Tujuanku” (Staadsgemeente Malang 1914-1939: XLVII). Lambang Gemeente Malang terinspirasi dari Kerajaan Singhasari, salah satu kerajaan kuno yang pernah berdiri di wilayah Malang pada abad XIII. Lambang Kota Malang tersebut berupa dua ekor singa Belanda yang mengapit sebuah perisai berwana dasar biru. Di tengah perisai terlukis setangkai bunga teratai (sari) berwarna putih dan seekor singa (Singha). Bila kedua kata itu digabungkan akan menjadi Singhasari. Bunga teratai dan singa itu mengambang di atas air yang tampak bergelombang. Tangkai bunga teratai tersebut tepat berada di tengah-tengah singa yang berjalan gagah dengan menjulurkan lidah merahnya. Hal itu melambangkan arti nama Malang yang konon berarti melintang, menghalangi atau menghalang jalan (Sumber: Mochamad Antik, 2014 diakses dari www.ngalam.id, 11/4/2018:06:26 WIB).

Gambar 03: Usulan Lambang Stadsgemeente Malang Sekitar Tahun 1930
(Sumber Gambar: www.ngalam.id)

Pada lambang Gemeente Malang itu terdapat dua ekor singa dan gambar mural berbentuk mahkota dengan gaya Hindu serta semboyan Malang Nominor Sursum Moveor. Tetapi Hooge Raad van Adel (Dewan Tinggi Bangsawan) menolak mahkota mural yang tidak sesuai dengan kebiasaan umumnya dan beberapa komposisi lambang tersebut. Menurut mereka jenis mahkota mural itu tidak dapat diterima karena mahkota pada lambang harus berbentuk sama dengan semua kota lainnya. Pemerintah kota bereaksi bahwa secara historis Malang telah menjadi kota berdinding.Tetapi Hooge Raad van Adel tetap pada keputusannya, bahkan mereka juga menolak semboyan Malang Nominor Sursum Moveor dicantumkan. Akhirnya lambang Gemeente Malang tersebut harus menyertakan mahkota sebagaimana lambang-lambang kota yang digunakan di Belanda dengan disertai dua ekor singa yang mengapit perisai tetapi tanpa adanya semboyan. Dewan Kota (Gemeenteraad) akhirnya mengadopsi desain baru, tapi masih menggunakan mahkota lama untuk waktu yang cukup lama (Sumber: Mochamad Antik, 2014 diakses dari www.ngalam.id, 11/4/2018:06:26 WIB)..

Gambar 04: Rancangan Lain Lambang Gemeente Malang
(Sumber Gambar: www.ngalam.id)

Pada versi lainnya terdapat perbedaan gambar di bagian perisai. Sebuah perisai yang berwarna dasar biru diapit dua ekor singa Belanda dan bermahkota mural. Juga terdapat sebuah pita dengan semboyan Malang Nominor Sursum Moveor. Perbedaannya terdapat pada perisai yang menggambarkan seekor singa yang sedang berjalan dengan lidah berwarna merah menjulur. Di bagian pojok kiri atas terdapat setangkai bunga teratai yang berwarna hijau dengan latar warna putih. Lambang Gemeente Malang juga tercantum dalam daftar perangko yang diterbitkan oleh Koffie Hag, Amsterdam, sekitar tahun 1925-1935. Di bawah ini merupakan sebuah perangko berwarna dengan lambang Gemeente Malang yang diterbitkan oleh Koffie Hag (Sumber: Mochamad Antik, 2014 diakses dari www.ngalam.id, 11/4/2018:06:26 WIB).

Gambar 05: Sebuah Perangko yang Dikeluarkan Sekitar 1930
(Sumber Gambar: www.ngalam.id)

Kemudian baru secara resmi tampaknya Hooge Raad van Adel menyetujui semboyan Malang Nominor Sursum Moveor dicantumkan pada lambang Kota Malang tersebut. Hal ini diketahui dengan diterbitkannya surat keputusan Stadsgemeenteraad Malang pada tanggal 7 Juni 1937 No. AZ 407/43 dan disahkan oleh Gouvernemen Besluit tanggal 25 April 1938 No. 027, saat masa pemerintahan Walikota J.H. Boerstra (1936-1942). Bentuk lambang Gemeente Malang sebuah perisai berwarna biru dengan mahkota kuning emas berdasar merah di bawahnya sedang dibawa oleh dua ekor singa yang berdiri di atas dua kakinya dan berwarna kuning emas pula dengan lidah merahnya yang menjulur. Kaki singa berdiri di atas pita biru yang berjuntai. Di dalam perisai terdapat seekor singa berwarna kuning emas. Di belakangnya terdapat bunga teratai putih dengan tangkainya yang panjang, serta lembah perkebunan. Pada pita yang berjuntai terdapat semboyan yang berbunyi “MALANG NOMINOR SURSUM MOVEOR”, artinya “Malang Namaku Maju Tujuanku” (Sumber: Suwardono dan Rosmiayah, “Monografi Sejarah Kota Malang”, tahun 1997, halaman 2 dan Dukut Imam Widodo, “Malang Tempoe Doeloe Djilid Doea”, tahun 2006, halaman 193).

Gambar 06: Lambang Resmi Stadsgemeente Malang tahun 1937
(Sumber Gambar: www.ngalam.id)

Makna lambang di atas sebagai berikut: Melalui lambang ini disimbolkan kala itu Malang merupakan bagain dari Kerajaan Belanda.adapun singa dalam perisai tersebut merupakan simbol dari “kepahlawanan”. Sedangkan bunga teratai putih berarti melambangkan “sari atau kesucian”. Jika digabung maka artinya, kota yang mempunyai “voorstad” yaitu ‘pintu gerbang Singhasari yang bertekad dan berjiwa kepahlawanan membela kebenaran dalam naungan Kerajaan Belanda’ (Sumber: Suwardono dan Rosmiayah, “Monografi Sejarah Kota Malang”, tahun 1997, halaman 2 dan Dukut Imam Widodo, “Malang Tempoe Doeloe Djilid Doea”, tahun 2006, halaman 193).

Setelah Indonesia merdeka, lambang itu tidak sesuai lagi dan diganti yang sesuai dengan alam kemerdekaan. Lambang baru itu dibentuk berdasarkan surat keputusan DPRD Kotapraja Malang tanggal 30 Oktober 1951, sekaligus mencabut lambang lama dengan Nomor. 51/DPR dan disahkan oleh Presiden RI tanggal 29 November 1954 No. 237. Adapun deskripsi bentuk lambangnya adalah sebagai berikut: Burung Garuda berwarna emas yang membentangkan sayapnya. Di dadanya tergantung sebuah perisai berwarna hijau yang berlukiskan tugu dengan untaian padi dan kapas, harimau dengan bunga teratai yang berkembang. Di bawah telapak kaki harimau terdapat sebuah pita yang berjuntai dengan semboyan: “MALANG NAMAKU MAJU TUJUANKU”. (Sumber: Suwardono dan Rosmiayah, “Monografi Sejarah Kota Malang”, tahun 1997, halaman 2-3 dan Dukut Imam Widodo, “Malang Tempoe Doeloe Djilid Doea”, tahun 2006, halaman 193).

Gambar 07: Lambang Kotapraja Malang pada Tahun 1951
(Sumber Gambar: www.ngalam.id)

Makna lambang diatas adalah sebagai berikut: Kota Malang dalam lambang tersebut digambarkan sebagai daerah otonom yang berkembang dalam rangkuman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI, pen). Gambar harimau (singa) dan teratai (sari) merupakan lambang dari kota yang berpintu gerbang SINGHASARI. Sedangkan tugu berarti lambing perjuangan nasional. Karangan padi dan kapas berarti melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Adapun burung garuda adalah merupakan lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI, pen) (Sumber: Suwardono dan Rosmiayah, “Monografi Sejarah Kota Malang”, tahun 1997, halaman 3 dan Dukut Imam Widodo, “Malang Tempoe Doeloe Djilid Doea”, tahun 2006, halaman 193).

Tidak lama kemudian pada tahun 1964, semboyan “Malang Namaku Maju Tujuanku” diganti dengan surat keputusan DPRGR tanggal 10 April 1964 No. 7/DPRGR. Semboyan yang baru itu berbunyi “MALANGKUҪEҪWARA”, sedangkan lambangnya sendiri tetap berbentuk seperti lambang sebelumnya (Sumber: Suwardono dan Rosmiayah, “Monografi Sejarah Kota Malang”, tahun 1997, halaman 3).

Gambar 08: Lambang Kota Malang yang Ditetapkan pada 1970
(Sumber Gambar: www.ngalam.id)

Lambang Garuda dengan semboyan “Malangkuҫeҫwara”, inipun diganti lagi berdasarkan surat keputusan DPRGR tanggal 14 Juli 1970 No. 4 Tahun 1970. Disahkan oleh menteri Dalam Negeri dengan surat keputusan tanggal 11 Februari 1971 No. PEMDA 10/4/27-32. Lambang berupa perisai bersudut lima dengan warna merah putih. Dasar perisai berwarna hijau. Bintang bersudut lima berwarna kuning. Tugu di tengah berwarna biru serta pita putih dengan semboyan “MALANGKUҪEҪWARA” (Sumber: Suwardono dan Rosmiayah, “Monografi Sejarah Kota Malang”, tahun 1997, halaman 3 dan Dukut Imam Widodo, “Malang Tempoe Doeloe Djilid Doea”, tahun 2006, halaman 194). Adapun bagian detail dari makna-makna simbol dalam lambang Kota Malang terbaru diatas akan dijelaskan secara rinci dengan mengutip langsung dari penjelasan buku “64 Tahun Kota Malang”, tahun 1978, halaman 18-20, sebagai berikut:

1. Bagian-Bagian Lambang:

a) Lambang berbentuk perisai bersudut lima, membawakan bentuk “GUNUNGAN” dalam pewayangan kedepan, berbingkai Merah-Putih.

b) Semboyan berbunyi: MALANGKUҪEҪWARA.

c) Bintang bersudut lima sama dengan Bintang pada Perisai pada Lambang Negara Republik Indonesia, Ketuhanan Y.M.E.

d) Tugu ditengah adalah Tugu Kemerdekaan Kotamadya Malang yang terletak di Alun-Alun bunder di depan Balaikota Kodya Malang.

BERISIKAN:

1. Lima lingga menjulang keatas membawakan Lima Sila Pancasila.

2. Bambu runcing (ditengah-tengah lingga tersebut) melambangkan kebulatan kekuatan kesatuan, persatuan, keperintisan dan kepahlawanan 17-8-1945.

3. Tiga lingga yang tampak di depan membawakan arah tujuan perkembangan Kotamadya Malang menjadi kota: – (1) Pendidikan – (2) Industri – (3) Pariwisata.

e) Pokok dasar sebagai motif Lambang ini adalah: Angka keramat 5 (lima) seperti kita jumpai pada bentuk perisai bersudut lima, Bintang bersudut lima, dan tgu kemerdekaan dengan kelima lingganya.

2. WARNA:

a) Merah Putih lambang Kebangsaan kita.

b) Putih lambang kesucian/kebersihan.

c) Kuning lambang keluhuran/kebesaran.

d) Hijau lambang kesuburan, kemakmuran harapan, kelangsungan kelanggengan.

e) Biru muda lambang kesetiaan kepada Tuhan, Tanah Air dan Bangsa.

f) Hitam tidak melambangkan apa-apa, hanya merupakan garis pemisah.

3. PENJELASAN

a) Bentuk rangka dan warna lambang disusun demikian rupa hingga keselruhannya dengan motif berdasarkan pokok angka keramat lima.

b) Lambang ini berwujud perisai (tameng, pen), erat hubungannya (kaitannya, pen) dengan perjuangan pengamanan, perlindungan bersudut lima membawakan bentuk GUNUNGAN.

Lambang ini membawakan:

1. Semangat perjuangan serta kepahlawanan.

2. Sifat Kota Malang sebagai Kota Pegunungan.

3. Semangat untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur berdasarkan panca Sila. Bingkai Merah Putih sekeliling Perisai membawakan lambang kebangsaan yang sekaligus membawakan penonjolan sifat nasional.

c) Semboyan MALANGKUҪEҪWARA = Tuhan menghancurkan yang bathil, menegakkan yang hak, membawakan keyakinan kita bahwa Rahmat Tuhan Y.M.E. kita pasti dapat menghancurkan segala rintangan kearah tercapainya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.Semboyan ini pendek, padat artinya ekspresif. Arti semboyan tercermin dalam keseluruhan lambang.

Terperinci:

MALA = Segala sesuatu yang kotor, kecurangan, kepalsuan/bathil. ANGKUҪA atau ANGKUҪ = Menghancurkan/membinasakan. IҪWARA = Tuhan (Bahasa Sanskerta).Semboyan ini diberikan oleh almarhum Profesor Dr. RADEN MAS NGABEHI POERBATJARAKA.

d) Bintang bersudut lima berasal dari lambang Negara, membawakan Sila I ke Tuhanan Y.M.E. lambang Nureaya, lambang kesucian, keluhuran, keagungan Tuhan Semesta Alam, tempat kesetiaan (warna biru muda) kita, yang telah memberikan rahmat-Nya kepada perjuangan Bangsa dan Kemerdekaan kita sebagai jembatan emas menuju masyarakat Sosialis Indonesia berdasarkan Pancasila.

e) Gambar Tugu Kemerdekaan ditengah lambang ini dengan lima lingganya membawakan kedepan kebesaran Pancasila, kesatuan dan persatuan yang kokoh kuat. Bentuk Tugu ini ditetapkan dengan keputusan Presiden R.I. membawakan juga arah tujuan perkembangan Kotamadya Malang sebagai Kota: 1. Pendidikan; 2. Industri; dan 3. Pariwisata. (*)

Pewarta : Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Editor : Noordin Djihad