Toleransi Umat Budha saat Waisak di Bulan Ramadan

Toleransi Umat Budha saat Waisak di Bulan Ramadan

Umat Buddha sedang memperingati Waisak, terlihat Bante Khanthidaro bersama umat Buddha lainnya. (Foto: Doi Nuri)

BATU – Hari raya Waisak 2563 BE pada Ahad (19/5/2019) dihadiri Umat Budha dari berbagai penjuru berkumpul di Vihara Dhammadipa Arama. Pembacaan Parita Manggala dan Avamanggala dan dilanjutkan dengan meditasi bersama, dilaksanakan di Vihara bertempat di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Istimewanya, perayaan hari Waisak di Vihara Dhammadipa Arama sendiri baru akan dilaksanakan nanti pada 16 Juni 2019, sebagai bentuk toleransi umat Budha kepada kaum muslimin yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Seperti yang sudah diagendakan, beberapa kegiatan besar seperti kirab budaya keliling desa yang selalu dilaksanakan setiap Waisak ditiadakan. Selain itu Vihara juga menunda pertunjukkan seni budaya.

“Waisak tahun ini bertemakan ‘Mencintai Kehidupan Berbudaya Penjaga Persatuan’. Untuk itulah kami saling bertoleransi dengan saudara kami kaum muslimin,” ungkap Kepala Vihara, Bhante Khantidharo.

Khantidaro menambahkan “Bukan hanya saat ini saja Waisak bersamaan dengan Ramadan. Sudah dua tahun ini kita konsentrasi peribadatan dalam vihara saja,” imbuhnya.

Menurut Khantidharo momen Waisak ini menjadi momen refleksi kehidupan berbangsa. Dimana sebuah perbedaan dan keragaman di NKRI adalah anugerah. Ia juga mengingatkan kondisi bangsa dimana banyak kebencian yang tersebar yang menjadi korban adalah umat.

“Sebisa mungkin kita jangan mudah diadu domba. Dengan bersatu hidup akan tentram dan damai, Kasihan bagi umat yang menjadi korban. Agama itu kan mencintai. Kalau tidak saling mencintai bertentangan dengan ajaran agama, saling kasih, sayang dan mencintai itu upaya kami menjaga persatuan bangsa,” pungkasnya. (*)

Pewarta: Doi Nuri
Editor: Noordin Djihad