Oleh : Yunan Syaifullah

Tendangan Kaki Sang Juara

Tendangan Kaki Sang Juara

Yunan Syaifullah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Penulis Buku Filosofi Bola,Penikmat Bola

TENDANGAN Ricky Kayame adalah tendangan sang juara. Sontekan kaki Kayame akibat kesalahan kiper Persebaya yang tidak akurat menangkap bola, akhirnya menghunjam gawang Persebaya pada menit 90 + 1 memastikan Arema FC menjuarai Piala Presiden 2019. Skor akhir ditutup 2-0 untuk kemenangan Arema.

Hasil akhir itu menjawab optimisme dan harapan kolektif masyarakat Malang bahwa Piala Presiden edisi tahun ini dapat dipersembahkan.

Final Leg 2 menjadi suguhan menarik dan mendebarkan meski laga ini batal dihadiri Presiden Joko Widodo. Kedua kesebelasan memainkan permainan terbuka untuk ingin membuktikan sebagai yang terbaik. Bahkan menit-menit awal, Kayame hampir membuka kebuntuan. Namun peluang itu terbuang sia-sia. Karena sontekan kakinya sedikit melebar dari gawang Persebaya. Baru menit ke-42 Nur Hardianto mampu menutup keunggulan 1-0 di babak awal.

Sosok Kayame menjadi pembeda. Sejak Leg 1, Kayame adalah ancaman dan menjadi sosok yang menebarkan ketakutan bagi Persebaya.

Saat Leg 1, Kayame memiliki 2 dari 7 peluang besar yang hampir bisa mengantarkan kemenangan Arema dalam leg 1 tersebut. Sedangkan, dalam Leg 2, kelebihan Kayame benar-benar dibaca Persebaya. Keputusan Persebaya menurunkan Ruben Sanadi adalah untuk bisa menghambat kelincahan Kayame. Terlebih sama-sama putra Papua yang pernah satu tim di Persipura dan Persebaya. Namun, keputusan berani itu harus dibayar mahal. Mengingat Ruben Sanadi belum sepenuhnya bugar karena baru mengalami cedera. Kayame mampu mengoyak segala sisi Persebaya. Ujungnya, Kayame mampu membuktikan tendangan kakinya sebagai tendangan sang Juara.

Derbi klasik memang diwarnai banyak kisah menarik. Menjadi rugi untuk tidak disimak. Tidak hanya semata soal bola yang dimainkan di lapangan. Namun juga masalah di luar lapangan yang tidak berhubungan langsung dengan bola mampu memberikan andil tentang dinamika pertandingan.

Ribuan bahkan jutaan mata yang tertuju satu titik: Stadion Kanjuruhan Malang. 42 ribu pasang mata sebagai saksi sejarah untuk memastikan tendangan kaki sang Juara. Belum lagi yang berada di luar stadion untuk merasakan aura pertandingan derbi. Maupun, mereka yang lebih memilih dan fokus di depan siaran langsung salah satu stasiun televisi swasta. Mengaktifkan layar monitor i-pad atau laptop untuk menyimak laga klasik melalui saluran streaming. Kemacetan terurai. Jalanan sepi. Kantor senyap lebih awal dari jam kerja. Kemacetan hanya terjadi pada titik menuju stadion atau saluran frekwensi televisi atau streaming.

Sepak bola mampu menghopnotis saluran kehidupan. Sepak bola mampu menyatukan perbedaan atas nama fanatisme. Itulah fragmentasi bola. Meminjam istilah Franklin Foer (2004), memahami kehidupan lewat sepak bola.

Final Presiden 2019 setidaknya sukses ekonomi mampu diraih. Pendapatan kotor hasil seluruh pertandingan mampu meraih angka 18 milyar rupiah. Bisnis turunan dari sepak bola terbangun. Pedagang asongan menggeliat. Belum lagi usaha parkir. Usaha Transportasi pun memperoleh imbasnya.

Laga klasik diliputi dengan berbagai kecemasan dan ketakutan yang menghinggapi banyak kalangan berkaitan dengan masalah pinggir lapangan. Masalah friksi dan konflik antar pendukung karena faktor sejarah masa lalu.

Kondisi pinggir lapangan sedikit banyak menjalar dalam strategi perang dan bertanding keduanya. Keduanya bermain dengan tingkat kehati-hatian tinggi. Akibatnya, bermain tidak dengan hati dan jiwa bukan sebagai para juara.

Dalam Sepak bola, gol adalah pintu juara. Gol pembuka itulah, akhirnya bisa menyingkap tabir kecemasan dan ketakutan diri pemain kedua kesebelasan. Permainan yang semula cenderung negative sedikit demi sedikit mulai terbuka dan ofensif. Permainan terbuka ditunjukkan keduanya.

Pertandingan kali ini makin membuktikan bahwa setiap ada derbi Arema dan Persebaya musuhnya sesungguhnya adalah bukan pendukung fanatiknya. Tetapi, musuh mereka adalah dirinya sendirinya. Bila setiap pemain masuk ke lapangan dan bertanding tidak dengan jiwa dan hatinya sebagai pejuang sejati maka yang terjadi adalah masuk ke lapangan hanya memanggul rasa cemas, ragu, dan takut. Kemampuan bermain bolanya hampir hilang dan tidak terlihat. Mereka memiliki pemain yang levelnya nasional. Strategi pelatih tidak bisa berjalan maksimal.

Senyum begitu mahal dalam diri pemain. Lapangan bola hanya dihuni sepertiga lapangan dari depan gawang. Keduanya menumpuk pemain di wilayah pertahanan. Tidak sedikit pertahanan mereka dan garis tengah berkerumun hingga 5-6 pemain.

Arema FC masuk ke lapangan memanggul harapan kolektif masyarakat untuk menjadi sang juara.

Satu hal yang menonjol dipertontonkan Arema FC mampu memperlihatkan bermain dengan hati dan jiwanya sebagai pejuang sejati untuk kemenangan. Harapan kolektif bukan beban. Harapan kolektif adalah energi bagi setiap diri pemain.

Hasilnya, mereka memiliki pikiran lepas, tidak dibebani oleh hal lain. Ujungnya, para pemain Arema relatif lebih mudah senyum mengembang.

Kondisi hal itu tidak ada dan tidak diperlihatkan dalam wajah-wajah pemain Persebaya. Kondisi tersebut tidak lepas dari masalah bahwa Persebaya masuk ke lapangan untuk membuktikan sejarah baru. Selain juara dan untuk membuktikan selama ini bila bertanding di Malang selalu hasilnya nihil.

Final Piala Presiden 2019 dalam Leg 2 akhirnya benar-benar ditutup senyum dan bahagia kolektif melalui tendangan Sang Juara dari diri Kayame. Selamat sebagai Juara secara terhormat.

Sarangan Atas, 13/04/19