Sungai Mewek, Representasi Kesedihan Ken Dedes

Sungai Mewek, Representasi Kesedihan Ken Dedes

Para Mahasiswa Melakukan Kegiatan Bersih-Bersih Sungai Mewek dengan Warga (Sumber Foto: www.lingkungan.itn.ac.id)

Sungai Mewek atau biasa masyarakat menyebutknya dengan sebutan Kali Mewek, merupakan satu dari beberapa anak aliran Sungai Brantas dengan letak kordinat 7°55’30″S 112°39’3″E sampai dengan 7°56’30″S 112°40’3″E (Adam & Maftuch, 2014:111). Sungai Mewek ini memiliki panjang sungai sebesar 8.647 m dan lebar 20 m. Debit air rata-rata maksimum 0.456 m3/detik dan debit air rata-rata minimum 0.228 m3/detik dengan dasar kali berbentuk huruf ‘U’, berbatu. Arus air lemah dengan kedalaman air rata-rata 3 meter (Sumber data LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) Kecamatan Lowokwaru, tahun 2013, di halaman 13). Bukan sekadar sungai, namun Kali Mewek juga memiliki kisah historis yang cukup  panjang. Devan Firmansyah, Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) pun menelusuri kisah Kali Mewek untuk demi menemukan asal muasal penamaan sungai yang membelah sebagian wilayah Kota Malang itu.

Jika kita melihat dan mengamati aliran Sungai Mewek pada “Peta Kota Malang dan Perkembangannya”, maka kita akan dapati bahwa Sungai Mewek bersama dengan anak-anak sungainya melewati setidaknya lima buah kelurahan yaitu Tasikmadu, Tunjungsekar, Polowijen, Balearjosari dan Arjosari. Hulu Sungai Mewek memiliki kontur berbukit-bukit dan lerengnya curam sehingga banyak jeram.Pada bagian tengah Sungai Mewek, kondisinya relatif landai, berkelok-kelok dan banyak aktivitas penduduk. Kemudian bagian hilir Sungai Mewek, kondisinya landai, subur dan banyak areal pertanian.

Gambar 02: Aliran Sungai Mewek yang Mengalir dengan Derasnya
(Sumber Foto: www.ngalam.co)

Sedangkan untuk ekosistem dari Sungai Mewek sendiri, dapat kita dapati beberapa jenis flora dan fauna alami yang mendiami sekitar DAS Mewek. Untuk jenis-jenis flora, fauna dan bahkan beberapa kesenian tradisional masyarakat yang ada di sepanjang aliran DAS Mewek, akan dijabarkan berikut ini (Data di bawah ini dilansir dari laman www.sungai.weebly.com, 12/08/2018:17:26 WIB):

  • Tumbuhan Perdu (Semak Belukar): Ki Korejat/Ki Tolod (Laurentia longiflora); Bandotan/Babadotan (Ageratum Conyzoides); Suplir (Adiantum Sp); Paku Kenying (Asplenium Scandicium); Ajeran  (Bidens Spilosa); Calincing (Oxallis Barrelieri); Putri Malu (Mimosa Pudica); Temu Wiyang/Jonge (Emilia sonchifolia); Talas (Colocasia esculenta); Awar-awar (Ficus Septicum); Boroco/Bayam Ekor Belanda (Celosia Argentea); Sidaguri (Sida Rhombifolia); Pegagan/Antanan (Centella Asiatica); Suruhan (Peperomia Pellucida); Sintrong (Crassocephalum Crepidioides); Mikania (Mikania Micrantha); Kenikir (Cosmos Caudatus); Wedelia (Sphagneticola  Trilobata); Kirinyuh (Chromolaena Odorata); Genjer/Paku Rawan (Limnocharis Fava); Patikan Kebo (Euphorbia hirta); dan Salak (Salacca zalacca).                                           
  • Tumbuhan Rerumputan: Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum); Rumput Teki (Cyperus Rotundus); Padi (Oriza Sativa); Rumput Belulang (Eleusine indica); Tebu (Saccharum officinarum); Rumput Raja (Pennisetum purpupoides); Rumput Benggala atau Guinea grass; dan  Rumput Setaria (Setaria sphacelata).                                                                      
  • Tumbuhan Air: Kiambang (Salvinia Natans); Semanggi (Marsilea Crenata); dan Wewehan.                                                                          

Selain berbagai macam flora yang tersebar di sepanjang DAS Mewek, kita dapati juga beberapa fauna juga bertebaran sepanjang DAS Mewek. Adapun beberapa jenis-jenis fauna tersebut antara lain:

  • SeranggaBelalang (Dissosteira Carolina) dan Kupu-kupu (Appias Libythea).
  • Reptil: Kadal (Mabuya multifasciata); dan Ular (Naja Haje).
  •  Molusca: Keong Sawah (Pila Ampullacea).
  • Annelida: Cacing Tanah (Lumbricus Rubellus).
  • Burung (Aves): Bangau Putih (Bubulcus Ibis) dan Burung Walet (Collocalia Esculenta).

Dari paparan di atas, dapat kita ketahui bahwa flora dan fauna yang menyebar di sekitar DAS Mewek begitu banyak dan beragam. Hal ini tentu menjadi kekayaan ekosistem disekitar DAS Mewek. Selain kekayaan berupa flora dan fauna yang sudah disebutkan diatas, terdapat kekayaan lain disekitar DAS Mewek, yaitu kekayaan budaya berupa seni tradisi lokal masyarakat agraris di sepanjang desa atau kelurahan yang dilalui Sungai Mewek. Seni tradisi lokal yang ada di desa-desa yang dilewati Sungai Mewek, antara lain Pengajian Senin PonKesenian Jador dan Jaran Kepang. Hal ini semakin memperkaya khazanah budaya di sekitar DAS Mewek.

  1. Kali Mewek Diantara Dua Versi Kisah Ken Dedes

Gambar 03: Ilustrasi Penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung dalam Diorama di Museum Mpu Purwa Kota Malang  
(Sumber Foto: www.ngalam.co)

Toponimi kata Mewek berdasarkan tradisi oral (lisan atau legenda) yang dipercaya oleh sebagian masyarakat sampai saat ini. Ada dua kisah yang berkembang di masyarakat. Cerita lisan pertama berdasarkan cerita yang berasal dari penduduk di sekitar DAS Mewek (yaitu meliputi Desa/Kelurahan Tunjungsekar, Tasikmadu, Polowijen, Balearjosari dan Arjosari). Sedangkan cerita lisan yang kedua berdasarkan cerita rakyat Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Walaupun jalan cerita penuturan lisan di dua wilayah tersebut berbeda, akan tetapi keduanya memiliki kesamaan yaitu ada pada tokoh utamanya yang bernama “Ken Dedes”. Berikut pemaparannya: