Setahun, BNN Kabupaten Malang ‘Panen’ Puluhan Pelajar Pencandu Narkoba

Setahun, BNN Kabupaten Malang ‘Panen’ Puluhan Pelajar Pencandu Narkoba

Kepala BNN Kab Malang Letkol (Laut) PM Agus Musrichin (kiri) saat tes urine di Kantor BNN Kab Malang, di wilayah Kec Pakisaji, Kab Malang, beberapa minggu lalu. (Foto: Cahyono-aremamedia.com)

KAB MALANG – Dalam setahun terakhir, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang telah merehabilitasi 55 pencandu narkoba. Dari jumlah tersebut, ada yang sudah dinyatakan pulih, dan beberapa masih menjalani fase atau pemulihan dari kecanduan narkoba.

Menurut, Kepala BNN Kabupaten Malang Letkol (Laut) PM Agus Musrichin, Senin (2/12/2019), dari 55 orang yang menjalani rehabilitasi, 23 orang berstatus pelajar, dan masih dibawah umur 19 tahun.

“Dari kalangan pelajar yang direhabilitasi didominasi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa baru (maba). Banyaknya pelajar yang menjalani rehabilitasi, juga terjadi pada beberapa tahun sebelumnya,” katanya.

Agus lantas menyebutkan pada 2018 lalu, tercatat 95 orang yang menjalani rehabilitasi, 51 di antaranya usia pelajar. “Rata-rata para pelajar yang menjalani rehabilitasi ini kecanduan natkotika jenis pil Double L,” sambungnya.

Dengan banyaknya para pelajar yang kencanduan narkoba, maka pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dan instansi lainnya, terus melakukan antisipasi melalui sosialisasi dan kampanye anti narkoba.

”Kami sering melakukan sosialisasi terkait bahaya narkoba di kalangan pelajar. Bahkan para pengajar dan guru Bimbingan Konseling (BK) juga kami berikan penyuluhan demi mencegah anak didiknya kecanduan narkoba,” papar Agus.

Menurutnya, sosialisasi dan kampanye sangat efektif sebagai langkah upaya pencegahannya.

Selain fokus mengantisipasi pelajar mengkonsumsi narkoba, BNN mengarahkan yang pernah mengonsumsi atau sudah kecanduan narkoba untuk menjalani rehabilitasi.

Agus juga mengingatkan agar keluarga dan sekolah tidak menyembunyikan siswa yang kecanduan narkoba. “Itu bahaya karena harus segera direhabilitasi, bukan malah ditutupi,” ingatnya.

Yang lebih penting lagi, lanjutnya, penanganan pasca rehabilitasi tetap harus diperhatikan. Kalau tidak, meski sudah dinyatakan pulih, para pecandu narkoba kadang bisa kembali mengonsumsi narkoba,” tuturnya.

Agus juga menjelaskan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan pasca menjalani rehabilitasi, yakni faktor lingkungan, pergaulan, dan orang tua. “Meski direhabilitasi berkali-kali, kalau ketiga faktor itu tidak diawasi, proses rehabilitasi akan sia-sia,” kata Agus lagi.

Mengawasi anak yang sudah direhabilitasi, lanjutnya, sangat penting.
“Jika tidak diawasi pergaulannya, kemungkinan besar mereka akan mengonsumsi narkoba kembali,” ingatnya lagi.(*)

Pewarta : Cahyono
Editor : Noordin Djihad