Serunya Wisata Volcano, dari Wedhus Gembel hingga Batu Allien

Serunya Wisata Volcano, dari Wedhus Gembel hingga Batu Allien

SLEMAN – Sisa-sisa keganasan Wedhus Gembel Gunung Merapi masih terlihat kuat di wisata Vulcano di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta.

       Kawasan erupsi Gunung Merapi seluas 97.4460 hektar yang ditinggalkan penduduk (351 jiwa) saat Merapi meletus tahun 2010 kini menyejahterakan masyarakatnya lewat wisata.

       Bekas aliran lahar, rumah yang hancur dihantam hujan batu hingga terpaan Wedhus Gembel yang menghancurkan rumah, kendaraan hingga rumah penjaga Gunung Merapi yang legendaris kini dimanfaatkan oleh warga sekitar menjadi tempat wisata Volcano.

     Wisatawan yang berkunjung dapat menelusuri jejak-jejak letusan Gunung Merapi dengan menggunakan jeep 4×4. Meskipun tahun kendaraannya sudah sangat tua, ada yang keluaran tahun 1954 masih ganas di medannya.

    Di kawasan ini wisatawan bisa memilih satu dari 800 jeep dari 15 operator jeep yang beroperasi di kawasan ini. Setiap operator jeep akan menawarkan tiga paket wisata petualangan yang bisa dipilih.

     Mulai dari paket short seharga Rp 350 ribu dengan durasi waktu selama 1,5 jam dengan mengunjungi tiga obyek yakni Mini Museum sisa hartaku (Omahku Memoriku), Batu Allien dan Bunker Kali Adem atau Rumah Mbah Marijan.

     Paket kedua adalah paket medium dengan tarip Rp 450 ribu, dengan paket ini, wisatawan diajak mengunjungi Mini Museum sisa hartaku (Omahku Memoriku), Batu Allien dan Bunker Kali Adem dan Rumah Mbah Marijan atau wisata air Kali Kuning.

     Paket ketiga adalah paket long dengan durasi waktu 2,5 jam. Agar bisa merasakan paket ini wisatawan cukup merogoh kocek sebesar Rp 550 ribu per jeep.

    Satu jeep bisa diisi 4 hingga 5 orang. Wisatawan akan diajak untuk berkeliling di beberapa tempat yang menjadi paket wisata tersebut.

   Sepanjang perjalanan menuju lokasi, wisatawan bisa merasakan sensasi naik jeep di medan yang sulit dan berbatu. Bahkan sepanjang perjalanan debu mengepul begitu pekat, tapi jangan khawatir karena operator jeep sudah memberikan masker khusus.

    Wisatawan pertama kali diajak ke Omahku kenanganku dimana rumah ini adalah milik warga setempat yang bernama Sarsuwadji.

    Di tempat ini wisatawan bisa melihat keganasan Wedhus Gembel yang disemburkan Gunung Merapi. “Di dalam Wedhus Gembel ini tidak hanya awan panas, tapi juga ada bebatuan, kerikil dan material gunung lainnya, karena itu rumahnya hancur seperti ini, “ kata tour guide, Agus Triyanto.

      Selepas itu mereka wisatawan diajak untuk mengunjungi Bunker Kaliadem merupakan sebuah benteng pertahanan dari awan panas merapi.

       Saat ini Kaliadem menjadi sebuah lokasi wisata yang memungkinkan untuk melihat keindahan Gunung Merapi dan jejak keganasan letusannya.

    Wisatawan juga diajak datang ke Batu Allien, sebuah Batu berbentuk wajah manusia yang berada  persis di tepi bantaran sungai Gendol dengan tebing yang curam.

   “Dulu letaknya tidak di sini, karena itu disebut oleh Allien, bukan berarti mahluk Alien tapi dari bahasa alihan atau perpindahan, “ ujarnya.

   Dulu di tempat yang berlatar belakang Gunung Merapi adalah sebuah desa, tapi seluruh rumah di kawasan ini sudah musnah tertimbun material gunung. Di sini ada juga sebuah gardu pandang yang memiliki pemandangan menakjubkan, sangat sayang jika dilewatkan.

      Wisatawan juga diajak ke petilasan Mbah Marijan, dimana jasad Mbah Marijan ditemukan tewas dalam keadaan bersujud. Di tempat ini juga ada bangkai mobil APV yang digunakan relawan untuk mengevakuasi warga.

     Tidak hanya relawan, H Tutur Priyanto yang ada di mobil APV saat itu, namun ada juga wartawan Yuniawan Wahyu Nugroho ikut serta. Keduanya akhirnya meninggal dunia bersama Mbah Maridjan.

    “Jadi bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya letusan saat itu, ada yang menyelamatkan diri, namun akhirnya harus meninggal dunia juga,“ ujar salah seorang wisatawan Mistiani.

   Lokasi obyek wisata ini berjarak 30 kilometer dari pusat Jogjakarta. Untuk mencapai tempat ini wisatawan bisa menggunakan angkutan publik, salah satunya sarana transportasi online.(*)

 

Pewarta : Muhammad Dhani Rahman

Editor : Shuvia Rahma