Selama Pandemi Covid-19, 10 Ribu Debitur Ajukan Restrukturisasi Kredit

Selama Pandemi Covid-19, 10 Ribu Debitur Ajukan Restrukturisasi Kredit

Jajaran perbankan berfoto usai menyerahkan kepedulian dampak Covid-19. (Foto: istimewa)

MALANG – Akibat pandemi Covid-19, 10 ribu debitur mengajukan restrukturisasi kredit. “Kemungkinan akan berkembang akhir tahun nanti, meski saat ini tercatat 10 ribu debitur dengan nilai berkisar Rp3 triliun,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Sugiarto Kasmuri.

Sugiarto menyampaikan hal itu kepada wartawan usai penyerahan bantuan sosial dari Perbankan kepada Gugus Tugas Cavid 19 di halaman Balaikota Malang, Selasa (12/5/2020).

Menurutnya, hal ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial pihak lembaga jasa keuangan di Kota Malang. “Harapan kami, dengan restruturisasi kredit itu, menjadi stimulus bagi debitur, untuk tidak dimasukkan dalam kategori kredit macet,” ujarnya.

Kalau tidak dilakukan restruturisasi, lanjutnya, akan tercatat sebagai debitur bermasalah. “Kalau tergolong debitur macet mereka akan tercatat di OJK, dan kesulitan untuk mendapatkan kredit. Dampaknya adalah usaha mereka akan terkendala dari sisi permodalan,” ucap Sugiarto.

Ditambahkan, skema restruturisasi itu bentuknya bisa perpanjangan jangka waktu pembayaran kredit, pengurangan tunggakan bunga, dan pemberian penundaan pembayaraan. Bisa juga pembayarannya digeser pada periode berikutnya.

Dari beberapa skema rekstruturisasi itu, yang paling diminati debitur adalah perpanjangan jangka waktu. Umumnya mereka mengajukan pembayaran secara bertahap sesuai kemampuan.

“Kalau sesuai dengan kemampuan mereka, diberikan penundaan tiga bulan pertama. Nanti ada perpanjangan lagi. Tetapi yang perlu dicatat tidak semua debitur mengajukan restruturisasi,” sambungnya.

Sugiarto mengakui selama pandemi Covid-19 tidak semua sektor perkonomian terdampak. Ada sektor perdagangan seperti makanan, sembako yang justru pertumbuhannya bagus. Mereka sangat menikmati pertumbuhan bisnis yang dilakukan.

“Di sisi lain, yang jatuh ada juga seperti sektor pariwisata perhotelan, angkutan, atau usaha yang pangsa pasarnya turis asing. Bahkan ada sejumlah hotel di Kota Malang ini yang memilih untuk merumahkan karyawanya,” ujarnya.

Sementara itu Sugiarto menyampaikan jika kepedulian sosial penyelenggara jasa keuangan di Kota Malang sangat besar.

Seperti yang mereka lakukan di Balaikota Malang, hasil koordinasi BI dan OJK dengan perbankan dan nonperbankan. “Ini bagian dari kepedulian teman-teman perbankan pada saat pandemi Covid-19,” tukasnya.

OJK Malang, pada kesempatan tersebut, membawa perwakilan dari Asosiasi Asuransi Indonesia, Asosiasi perusahaan pembiayaan Leasing, dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Malang, Azka Subkhan Aminurrido, menambahkan perbankan dan lembaga keuangan bisa berpartisipasi menangani dampak sosial Covid-19.

“Kami berkomunikasi dengan perbankan meskipun mereka sudah bergerak sesuai lembaga masing-masing.

Azka juga mengaku sangat senang lantaran kepedulian perbankan sangat besar, meskipun diawal mereka sudah melakukan kegiatan sosial yang mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.(*)

Pewarta : Noordin Djihad