Sejarah Dinamika Gonta-Ganti Nama dari Hotel Pelangi

Sejarah Dinamika Gonta-Ganti Nama dari Hotel Pelangi

Gambar 01: Palace Hotel (Pelangi) Tempo Doeloe Sekitar Tahun 1930 (Sumber Foto: www.tropenmuseum.nl.)

Jika kita berkunjung ke Alun-Alun Kota Kota Malang, maka tepat di Jl. Merdeka Selatan No.3, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, di depan Bank Mandiri, terlihat sebuah hotel klasik yang tegak berdiri. Hotel tersebut bernama Hotel Pelangi. Hotel tersebut adalah salah satu hotel tertua di Malang yang penuh dengan sejarah panjang.

Menurut seniman dan budayawan Dwi Cahyono pemilik Resto Inggil dan Museum Tempo Doeloe, dalam bukunya yang berjudul “Malang Telusuri dengan Hati”, tahun 2007, pada halaman 101, menjelaskan: “Hotel Pelangi awalnya adalah Palace Hotel mempunyai ciri-ciri khas bangunan kolonial tahun 1900-1915 yaitu di tengah bangunan terdapat Double Tower (Lihat Gambar 01, red) yang menjulang tinggi untuk pengawasan dan mempunyai dua blok di sisi kanan dan kiri yang menjorok ke depan. Dibangun tahun 1916, sebelum menjadi hotel yang memiliki 126 kamar pada saat itu, tempat ini, memang menjadi tempat favorit untuk didirikan hotel,” tulis Dwi dalam bukunya itu.

Gambar 02: Hotel Malang Sebelum Tahun 1880 Cikal Bakal Hotel Pelangi
(Sumber Foto: www.tropenmuseum.nl.)

Sebenarnya embrio pendirian dari hotel ini lebih lama lagi, Pada awalnya gedung Hotel Pelangi ini bernama “Hotel Lapidoth” yang didirikan sekitar tahun 1860 oleh orang Belanda bernama Abraham Lapidoth (1836-1908). Kemudian pada tahun 1870 namanya diganti menjadi Hotel Malang (Berlokasi di Jl. Aloon-aloon Kidoel No.3 (kini Jl. Merdeka Selatan) Malang, red). Hotel ini masih berarsitektur rumah joglo dengan tradisi Jawa yang sangat tradisional bahkan cenderung layaknya rumah tinggal besar (pendopo). Kamar mandi serta fasilitas lainnya masih sangat sederhana. Jalan di depannya pun masih berupa jalan tanah belum diaspal. Tetapi nama Hotel Malang juga tak bertahan lama, pada sekitar tahun 1900 namanya menjadi Hotel Jensen. Saat itu di Kota Malang hanya terdapat dua hotel, selain Hotel Jensen juga terdapat Hotel Jansen yang terletak di Regentstraat (sekarang Jl. H Agus Salim). Keduanya berkapasitas 50 kamar. Sekitar tahun 1920 Hotel Jansen dihancurkan dan dibangun menjadi gedung pertokoan. Pada saat ini berubah menjadi pertokoan Mitra dan Gajah Mada Plaza. (Sumber Data: Moch. Antik. “Hotel Pelangi (Palace Hotel)”, diakses dari www.ngalaim.id, 17/10/2018:10:58 WIB).

Gambar 03: Hotel Malang Tampak dari Arah Alun-Alun
(Sumber Foto: www.tropenmuseum.nl.)

Kemudian, Dwi Cahyono di dalam slide show No. 14 di Power Point (PPT)-nya yang disampaikan dalam sebuah acara yang berjudul “Sosialisasi Perlindungan dan Penyelamatan Arsip Sejarah Tahun 2018”, yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang, pada tanggal 17 April 2018 di Hotel Ijen Suites Resort & Convention, menyatakan bahwa: “Dibangun tahun 1915 mempunyai Double Tower untuk pengawasan dan dua blok bertingkat sebelah kanan kiri yang menjorok kedepan. Arsiteknya kemungkinan dari Belanda yaitu Biro Arsitek Kazemeir dan Tonkens”, tungkas Dwi dalam pemaparannya. Jadi, setelah pemilik Hotel Jensen meninggal, hotel itu dijual dan dijadikan Hotel Palace oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1915.

Gambar 04: Hotel Palace Dibangun dengan Dua Tower
(Sumber Foto: www.tropenmuseum.nl.)

Menariknya, dalam surat kabar bernama “Tjahaja Timoer”, yang keluar pada edisi 22 Agustus 1924, dengan artikel berjudul “Soenan Solo”, pada halaman 2, yang dikutip oleh Sejarawan dan Dosen Universitas Negeri Malang (UM), R. Reza Hudiyanto, dalam bukunya yang berjudul “Menciptakan Masyarakat Kota Malang di Bawah Tiga Penguasa 1914-1950”, di halaman 190-191, menyinggung sepintas terkait Hotel Palace, sebagai berikut: “Faktor budaya juga membuat tradisi Jawa tidak berakar kuat pada masyarakat Malang jika dibandingkan dengan kota-kota lain yang berada di dekat pusat Negara Tradisional. Ini dapat dibuktikan pada sikap penduduk Kota Malang saat menyaksikan Sunan Pakubuwono X keluar dari Hotel Palace menuju ke pendapa kabupaten. Penduduk kota sama sekali tidak melakukan sembah atau jongkok, yaitu sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang rakyat saat berhadapan dengan seorang raja”.

Lebih jauh lagi, Nur Purba Prasetya dalam artikelnya yang berjudul “Palace Hotel”, yang dimuat di dalam buku “Malang Tempoe Doeloe Djilid Satoe”, tahun 2006, di halaman 246, menjelaskan: “Ketika Bangsa Belanda masih berkuasa di Malang pastilah pemilik hotel itu orang Belanda. Hal itu terlihat dari nama hotel itu yakni Palace Hotel. Tahun 1942, Bangsa Belanda bertekuk lutut pada bala tentara Jepang. Dengan sendirinya seluruh aset Bangsa Belanda diambil alih oleh Jepang, salah satunya Palace Hotel tersebut. Oleh PemerintahanJepang di Malang, nama hotel itu pun diganti menjadi Hotel Asoma,” terang Nur Purba Prasetya dalam artikelnya. Kemudian, pada buku karya Sejarawan dan Dosen Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Purnawa Basundoro dalam bukunya yng berjudul “Dua Kota Tiga Zaman Surabaya dan Malang Sejak Kolonial sampai Kemerdekaan”, tahun 2009, pada halaman 191, menjelaskan “Pada Agustus 1945 tidak beberapa lama setelah berita proklamasi kemerdekaan diterima masyarakat Malang … Palace Hotel (Hotel Asoma, red) sempat berubah menjadi Hotel Merdeka …”, terang Purnawan Basundoro di dalam bukunya itu.

Selanjutnya, Sejarawan Malang, Suwardono dalam buku karyanya dengan Supiyati Rosmiayah yang berjudul “Monografi Sejarah Kota Malang”, pada halaman 25 menjelaskan: “… Tentara belanda kembali menduduki Kota Malang pada tanggal 21 Juli 1947. Aksi militer Belanda tersebut kita kenal dengan nama Clash I. Pemerintah Belanda menamakannya Aksi Polisionil, yang maksudnya mengadakan pembersihan terhadap para pengacau keamanan (para tentara kita). Melihat gelagat itu, sebelum tentara Belanda memasuki kota, Pemerintah Kota Malang segera bertindak. Gedung Balai Kota Malang ditinggalkan. Sebelum ditinggalkan gedung itu dibumihanguskan agar tidak dapat dipakai lagi oleh Pemerintah Belanda. Pemerintahan Kota Malang waktu itu mengungsi ke Hotel Palace (Hotel Merdeka, red) (sekarang hotel Pelangi yang didirikan tahun 1915). Pemerintahan Kota Malang akhirnya mengungsi ke Kepanjen, di luar Kota Malang”, terang Suwardono dalam bukunya itu.

Setelah para penjajah tersebut benar-benar pergi dari bumi pertiwi Indonesia, hotel ini pun kembali mengalami dinamikanya kembali. Nur Purba Prasetya, dalam artikelnya yang sudah disinggung di atas, dalam halaman 257 menjelaskan: “Tahun 1953 hotel tersebut dimiliki oleh H. Syachran Hosein dan namanya diubah menjadi Hotel Pelangi. Tidak ada catatan apakah menara kembar (Double Tower, red) hotel ini masih ada atau tidak. Bisa jadi kedua menara itu sudah roboh pada waktu pertempuran hebat melanda Kota Malang pada bulan Juli 1947. Hotel Pelangi sendiri luasnya 600 m2 dan bertingkat dua ini, pada awalnya memiliki 125 kamar yang dapat digunakan. Akan tetapi, sekarang ini hanya 86 kamar saja yang difungsikan. Lobi maupun kantornya terletak di tengah huruf U yang dikelilingi kamar-kamar. Dikatakan huruf U karena hotel ini memang berbentuk huruf U”, terang Nur Purba Prasetya dalam artikelnya itu.

Gambar 05: Hotel Pelangi Dimasa Kini
(Sumber Foto: Agus Nurchaliq, 2017)

Sebagai tambahan informasi, sekarang Hotel Pelangi memiliki 75 kamar terdiri dari 4 tipe kamar yaitu standart room, superior room, executive deluxe room dan suite room. Semua ruangan bernuansa modern aristokrat. Kamar sangat luas serta akses mobil langsung di depan kamar. Suite room ini sangat cocok untuk kalangan keluarga. Sedangkan executive deluxe room dengan desain minimalis, nyaman dan bersih. Superior room dengan suasana seperi tinggal di kamar pribadi dan standard room yang didesain cocok untuk keperluan bisnis maupun liburan Anda di Malang. Fasilitas lain yang ada di hotel, di antaranya ballroom, ruang meeting, coffee shop, tempat penitipan bayi, dan money changer. Ballroom dan ruang meeting yang dapat menampung sampai dengan 250 orang untuk berbagai macam acara seperti pesta pernikahan, meeting, dan pertemuan. Hall dengan 4 macam tipe ruangan dan style yang bisa dipilih yaitu Concordia Hall (30-250 orang), Palace Meeting Room (25-40 orang), Sjachran Hoesin Ballroom (50-100 orang) dan VIP Meeting Room (5-10 orang). Lodji Coffee Shop buka 24 jam yang menyajikan menu masakan khas Indonesia, Chinese dan Eropa. Di sini bernuansa kolonial Belanda dengan lukisan dan keramik peninggalan lama. Selain itu juga terdapat fasilitas free hot spot (Sumber Data: Moch. Antik. “Hotel Pelangi (Palace Hotel)”, diakses dari www.ngalaim.id, 17/10/2018:10:58 WIB). Guna mempermudah meilhat perubahan-perubahan nama dari Hotel Pelangi ini, perhatikan tabel dibawah ini.

Tabel 01: Perubahan Nama-Nama dari Hotel Pelangi dari Masa ke Masa

No. Nama Hotel Tahun
1. Hotel Lapidoth 1860
2. Hotel Malang 1870
3. Hotel Jensen ± 1900
4. Hotel Palace 1915
5. Hotel Asoma 1942
7. Hotel Merdeka 1945
8. Hotel Pelangi 1953-Sekarang

(Tabel Oleh: Devan Firmansyah, 2018)

Pewarta : Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])

Editor : Noordin Djihad