Samba Arjuna-Srikandi, Rektor IBU: Lesatkan Anak Panah ke Pelosok Negeri

Samba Arjuna-Srikandi, Rektor IBU: Lesatkan Anak Panah ke Pelosok Negeri

Rektor IBU, Dr H Nurcholis Sunuyeko, M.Si. (Foto: Ist-aremamedia.com)

MALANG – Jika di kampus lain muncul perpeloncoan untuk menyambut mahasiswa baru (Maba), tidak demikian dengan IKIP Budi Utomo (IBU). Institusi yang mencetak guru dan tenaga kependidikan ini mengedepankan kebudiutamaan. Para Maba disambut dengan acara resmi dan penghormatan melalui Samba (Sambut Mahasiswa Baru). Untuk Kamis (24/9/2020) di Kampus C Jalan Citandui ini, memasuki Episode Srikandi sebagai kelanjutan Arjuna minggu lalu.

Rektor IBU, Dr H Nurcholis Sunuyeko M.Si, mengatakan, Arjuna dan Srikandi merupakan pasangan tokoh kesatria dalam pewayangan memberantas kejahatan. “Harapan kami tentu saja para Maba ini bisa memberantas kejahatan dalam hal ini ketertinggalan anak-anak Indonesia mendapat pendidikan,” ujarnya.

Sebagai negara kepulauan yang cukup luas, tidak mungkin mengandalkan pemerintah di sektor pendidikan. Banyak faktor yang menghambat salah satunya keterbatasan tenaga pendidik untuk anak-anak di pelosok Nusantara. “Para Maba inilah yang bakal menjadi Arjuna dan Srikandi melesatkan anak panah keilmuan ke pelosok Nusantara. Adapun busurnya adalah IBU,” jelasnya.

Kebetulan kedua tokoh pewayangan yang juga pasangan suami istri ini dikenal sebagai pemanah andal. Melalui anak panah yang dilesatkan lewat busur, membunuh balakurawa di medan peperangan Bharatayuda. Bahkan Srikandi menjadi senopati atau panglima perang menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang tewas oleh Bisma.

Tujuan lain dengan mengenalkan tokoh pewayangan, untuk menunjukkan bahwa kampus sebagai institusi pendidikan jangan sampai melupakan seni dan budaya. “Terlebih IBU dikenal sebagai miniatur Indonesia sehingga mahasiswa harus bisa beradaptasi dengan aneka budaya yang ada maupun dibawa mahasiswa lain,” terangnya.

Tarian Nusantara salah satu kegiatan mahasiswa IBU yang dikenalkan ke Maba. (Foto: ist-aremamedia.com)

Seperti minggu lalu, peserta Srikandi ini 50 Maba saat tatap muka, sementara 350 lain melalui daring. Mereka berpakaian rapi dan harus menunjukkan nilai-nilai kebudiutamaan, yakni keindonesiaan, kemanfaatan, kepedulian, kepatuhan dan kepatutan. “Saat memasuki kampus, mereka harus melalui protocol kesehatan seperti tcek suhu, disemprot di bilik disinfektan, cuci tangan, dan memakai masker selama acara berlangsung. Selain itu Maba harus memastikan diri dalam kondisi sehat sebelum datang ke acara,” lanjut ketua panitia, Yulianto Dwi Saputro.

Selain mengenalkan tentang kampus, Samba diisi dengan dialog bersama para Wakil Rektor dan Ketua Prodi. “Agar mahasiswa baru mendapat gambaran yang lengkap dan tepat sehingga tidak salah mengambil langkah menyongsong akademik mereka,” ujarnya.

Di tengah acara, panitia menyuguhkan tarian Nusantara dan silat untuk menunjukkan kepada Maba beberapa kegiatan yang ada di IBU. “Setidaknya Maba bisa menyalurkan bakatnya masing-masing di unit kegiatan kampus,” pungkasnya seraya berharap untuk Maba yang belum daftar ulang bisa segera daftar ulang sehingga bisa mengikuti Samba episode berikutnya.(*)

Pewarta: Noordin Djihad

Sumber: Rilis Humas