Pilgub Jatim, Pemuda Nahdliyin Ajak Pemilih Lebih Selektif

Pilgub Jatim, Pemuda Nahdliyin Ajak Pemilih Lebih Selektif

Malang – Memasuki tahun politik, Forum Kajian Pemuda Nahdliyin menggelar FGD bertema “Kepemimpinan Religius dan Nasionalis dalam Mempertahankan NKRI untuk Memimpin Jatim,” di kafe Kopo Lima, Jl Joyogrand Kota Malang, Jumat (27/4/2018).

Hadir dalam FGD itu dua pemateri, Medea Ramadhani Utomo S.P, MSi (Dosen Sosiologi Pedesaan Pertanian, Universitas Brawijaya) dan Yusuf Mahardika Nurin (aktifus Nadliyin Kabupaten Pasuruan).

Dalam rilis yang dikirim kearemamedia.com, Medea mengatakan, calon pemimpin Jawa Timur yang tepat adalah yang mampu menyelesaikan semua persoalan. Oleh karena itu masyarakat harus mampu memilih pemimpin yang tepat agar dapat membawa Jawa Timur memiliki daya saing di segala bidang.

Saat ini, lanjutnya, paslon cagub – cawagub telah melontarkan visi misi untuk membangun Jawa Timur pada lima tahun mendatang. Visi misi ini dikuatkan dengan beragam slogan yang merupakan janji manis, mulai janji memberikan rasa aman, tentram, dan program pengentasan kemiskinan hingga pembangunan infrastruktur.

“Janji politik itu tentunya akan mampu menarik simpati masyarakat pemilih. Pertanyaannya, siapa yang mampu melaksanakan dan apakah didukung semua elemen masyarakat?” kata Medea beretorika.

Untuk itu, Medea berharap masyarakat pemilih harus selektif dan cermat untuk mencari pemimpin religius dan berjiwa nasionalis. “Karena pemimpin yang memiliki spirit perbaikan moral dapat menjamin adanya perbaikan dan penyelesaian problematika keumatan kebangsaan di Indonesia, khususnya di Jawa Timur,” terangnya.

Sementara Yusuf Mahardika Nurin menyebutkan corak masyarakat Jawa Timur adalah masyarakat yang sangat kental terhadap kultur daerah. “Sehingga apabila dikaitkan dengan kondisi saat ini maka itu menjadi akar dari segala persoalan sosial budaya dan ekonomi,” katanya.

Secara historis, kerajaan di Jawa Timur telah menyatukan antara agama dan pemerintahan. Ini dapat dilihat dari berbagai nama raja dan juga prosesi pemerintahan selaras dengan agama yang ada. Gelar raja yang dikaitkan dengan titisan dewa. Ini menunjukkan tidak ada pemisah antara aspek agama dan pemerintahan yang mempengaruhi sifat kepemimpinan.

Untuk itu, sosok pemimpin yang tepat adalah yang religius dan nasionalis. Kereligiusan ini akan berpengaruh terhadap pola dan segala kebijakan yang akan dilaksanakan, terutama tingkat kepercayaan masyarakat Jawa Timur terhadap pemimpinnya sehingga program yang dicanangkan dapat berjalan sesuai harapan.

Sedangkan pemimpin nasionalis, diharapkan dapat menekan terjadinya konflik horizontal dan vertikal sehingga mampu menjaga keutuhan NKRI, khususnya di wilayah Jawa Timur. (*)

Pewarta : Noordin Djihad

Editor : Shuvia Rahma