Perjuangan Ugik Arbanat Kenalkan Lagu Daerah Dan Nasional Sejak 2002

Perjuangan Ugik Arbanat Kenalkan Lagu Daerah Dan Nasional Sejak 2002

Ugik bersama Arbanat String Ansamble dalam acara Simfoni Cinta Tanah Air di SD Negeri Polowijen 3 Kota Malang. (Foto: Doi Nuri-aremamedia.com)

MALANG – Minimnya pengetahuan musik tradisional, lagu daerah dan lagu nasional, di kalangan anak-anak, dikampanyekan seniman musik asal Kota Malang, Sugiarto. Pria yang akrab disapa Ugik Arbanat ini berkeliling dari sekolah ke sekolah di Bumi Arema. Ia dibantu seniman-seniman lainnya dari tahun 2002 mengawali perjuangannya, dengan harapan musik tradisional, musik dolanan dan lagu nasional tidak punah.

Berawal dari keprihatinannya melihat banyaknya anak-anak kecil yang lebih mengenal lagu-lagu dewasa, Ugik mencoba menawarkan diri untuk bermain musik di sekolah-sekolah. Melibatkan seniman lainnya, ia melakukan provokasi budaya dengan cara unik.

Tidak hanya dengan musik, Ugik memperkenalkan lagu-lagu Nasional juga lewat metode dongeng, menari dan melukis. Menurutnya, anak-anak cepat bosan jika hanya menggunakan satu metode saja. Karenanya ia mengajak pelaku seni yang sejalan dengan tujuannya untuk membumikan lagu-lagu dolanan.

“Miris saja, bagaimana anak-anak hampir tahu semua lagu-lagu cinta namun tidak lagi bisa mengenal permainan tradisional, lagu tradisional bahkan lagu nasional. Agar mereka tertarik, saya libatkan kawan-kawan teater, perupa, penari dan seniman lainnya agar anak-anak lebih tertarik untuk saya giring pada tujuan saya, memprovokasi mereka agar mencintai lagu selayaknya usia mereka,” jelas Ugik.

Kendati demikian, perjalanan Ugik Arbanat tidak selalu berjalan sempurna. Selama tujuh belas tahun ia memperjuangkan kebudayaan, bukan berarti gerakannya tersebut tanpa kendala. Mulai dari cemoohan hingga kendala perizinan pernah ia alami, namun tekadnya terlalu bulat untuk dihancurkan pengalang cita-cita besarnya.

“Wah kalau suka duka ya jelas ada. Pernah di salah satu sekolah saat saya menawarkan diri, kepala sekolah tidak mau menemui, bahkan stafnya mengatakan tidak ada alokasi dana untuk kegiatan saya. Padahal sejak awal saya mengatakan jika kegiatan saya ini murni sosial. Saya hanya minta waktu beberapa jam dan tempat untuk performance saja,” imbuhnya.

Sementara itu nama ‘Arbanat’ yang melekat padanya, ia dapatkan karena julukan tetangganya yang menyamakan saat dia bermain biola dengan penjual jajanan tradisional arbanat yang menggunakan alat musik gesek Rebab. Selain mengenalkan lagu tradisional, ia juga memperkenalkan beberapa jenis alat musik etnik.

“Dulu saat awal saya belajar alat musik gesek, mungkin tetangga bising dengan nada yang saya mainkan, akhirnya saya dipanggil bakul Arbanat. Namun justru panggilan itu saya jadikan nama kelompok musik saya Arbanat String Ansamble. Dari situ saya juga terinspirasi mengenalkan alat musik etnik, seperti sapek, karinding, kulcapi, babamboo dan beberapa alat musik lainnya,” tandasnya.

Mendatang, Ugik berharap semakin banyaknya pelaku seni yang peduli terhadap lagu-lagu dolanan, tradisional dan nasional, adalah jaminan tidak akan punahnya kebudayaan bangsa. Ia juga berharap, agar semua pihak sanggup dan mau bersama mengawal masa depan bangsa melalui pembinaan mental tunas muda. (*)

Pewarta: Doi Nuri
Editor: Noordin Djihad