Penjualan Fasum oleh Pengembang Perum Mountain View, Reahkan Warga

Penjualan Fasum oleh Pengembang Perum Mountain View, Reahkan Warga

Pembongkaran paving fasum yang diperkarakan warga, sedang dilakukan oleh pekerja pihak ketiga. Tokoh masyarakat terlihat mencegah aktivitas tersebut. (Foto: Doi Nuri)

BATU – Warga Dusun Kajang, RW 1, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo di Perumahan Mountain View Residence diresahkan dengan sikap pengembang, Maripin, yang menjual fasilitas umum (Fasum) kepada pihak ketiga. Selain dianggap menyalahi aturan, pihak ketiga yang merasa membeli Fasum tersebut menutup akses menuju lahan pertanian warga.

Salah satu warga setempat mengatakan, keberatan berawal dari adanya pihak ketiga yang mengaku telah membeli dari Maripin selaku pengembang. Padahal menurut warga, dari awal pembangunan tanah tersebut sudah berbentuk jalan umum bukan hunian, sehingga tanah tersebut digunakan untuk kepentingan bersama.
“Kami sudah melakukan komunikasi untuk duduk bersama. Ketika memang ada permasalahan fasum kita selesaikan bersama secara kekeluargaan. Akhirnya kami mengadu ke Kepala Desa untuk memfasilitasi permasalahan kami,” kata warga yang tidak mau disebutkan namanya, Kamis (12/3/2020).
Pada regulasi Tata ruang dan Wilayah yang menyebutkan pada perumahan, lanjut dia, khususnya di Kota Batu diwajibkan minimal 30 persen tanah untuk Fasum atau Fasos. “Setahu kami, setiap pembangunan perumahan itu harus ada Fasum untuk warga. Intinya kami hanya meminta segera dikembalikan tanah tersebut menjadi Fasum,” ungkapnya.
Sumber ini juga mempertanyakan izin lokasi sebagai acuan pengembang untuk membangun suatu perumahan, salah satunya mempertegas dampak lingkungan dan wajib menyediakan Fasum. “Selain itu, seharusnya pengembang memberikan konpensasi terhadap lingkungan sekitar, seperti memberikan tanah 2 persen dari luas keseluruhan tanah perumahan,” ujar dia.
Ia menambahkan, pihaknya sudah dua kali menghentikan upaya pembongkaran lahan fasum yang menurut informasi telah diperjualbelikan. “Bahkan sempat sudah ada yang beli. Kemudian kita berikan pemahaman, jika lahan yang dibeli merupakan lahan untuk fasum, tapi tetap saja dibongkar. Saat ini lahan tersebut ditutup dengan pagar, sehingga warga sekitar tidak bisa lewat” tambahnya.
Upaya yang dilakukan warga untuk mencapai titik temu dengan pengembang pun sempat berbuah manis. Kepala Desa Mojorejo, Rujito, berjanji bakal memfasilitasi dengar pendapat antara warga lingkungan RW 1 perumahan dan pengembang.
“Ya, kalau terkait dengan keberadaan pengembang (Maripin) informasinya berada di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Lowokwaru dengan kasus yang sama. Permintaan dari warga, pihak ketiga diminta menahan diri untuk tidak lagi melakukan alih fungsi Fasum sambil menunggu pertemuan lanjutan,” ujar Rujito.
Kebijakan tersebut, masih kata dia, itu bukan berarti warga akan menuruti permintaan pihak ketiga. “Kabarnya pihak ketiga sudah mau menyerahkan Fasum kepada warga, asal dibeli. Namun warga tidak berkenan. Jika tetap tidak ada titik temu, maka dengan terpaksa warga bakal melakukan upaya hukum,” pungkasnya. (*)

Pewarta: Doi Nuri
Editor: Noordin Djihad