Parasut Kolaps, Atlet Paralayang Terjun Bebas

Parasut Kolaps, Atlet Paralayang Terjun Bebas

BATU – Teriakan Allahu Akbar begitu keras diucapkan oleh atlet Paralayang Fasi, Kab Jombang, Cherly Aurelia, warga Jatigedong, Ploso, Kabupaten Jombang saat melihat parasut INA yang digunakan terlipat.

Begitu parasut terlipat atau dalam sebutan olahraga Paralayang disebut kolaps, mendadak parasut full stall (terjun bebas) dari ketinggian kurang lebih 100 meter dan langsung terhempas ke tanah.
“Dia seperti kehabisan angin, Dia turun langsung jatuh, parasut sudah terlipat, Dia berteriak Allahu Akbar, “ ujar saksi mata Haryanto.
Melihat itu, Haryanto langsung menggeber gas motornya untuk memberikan pertolongan kepada korban yang jatuh di kawasan Hutan Pinus.
“Badannya utuh, tidak terlihat ada luka robek di tubuh, tapi hidung dan telinga sudah mengeluarkan darah, “ ujar Haryanto.
Saat itu, saksi mata menyakini bahwa korban sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Peristiwa ini terjadi saat atlet paralayang dari FASI Kabupaten Jombang berlatih di spot Gunung Banyak Songgoriti untuk menyambut Paragliding Accuracy World Cup tahun 2018 seri 4 yang dilaksanakan di Kota Batu 13 Juli 2018 mendatang.
“Atlet Paralayang ini sudah berlatih sejak hari Sabtu (9/6/2018), kita masih mengembangkan penyelidikan terkait peristiwa itu. Korban jatuh dari ketinggian 100 meter, “ ujar Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Anton Widodo.
Di tempat terpisah Ketua FASI, Marsma TNI Andi Wijaya mengucapkan turut berduka cita atas kejadian tersebut.
“Kita ingin tahu kenapa bisa terjadi, kalau semua Standart Operasional Prosedur (SOP) dilaksanakan dengan baik, saya rasa tidak ada masalah,” ujarnya.
Selanjutnya kata Andi, ia menunggu dari pihak keluarga apakah minta diotopsi atau langsung dikebumikan.
Ia menjelaskan korban sudah mempunyai lisensi terbang. Ia tercatat sebagai atlet paralayang Junior dari Kabupaten Jombang yang sudah memiliki jam terbang sebanyak 60 kali.
Sementara Ketua Paralayang Jatim, Arif Eko Wahyudi menjelaskan bahwa saat peristiwa terjadi ada Senior korban, Sugik yang sedang latihan ring di Gunung Banyak.
Saat itu ia tidak melihat kondisi korban, Sugik baru tahu ada peristiwa itu saat ada instruksi di HT yang meminta korban untuk membuka parasut cadangan.
Sementara di bawah ada senior lain yakni Prasojo sudah melihat parasut kolaps (terlipat) kesebelah kiri.
“Begitu kolaps, full stall (terjun bebas), parasut bisa terbang kalau ada air sky yang kecepatannya mencapai 25 km perjam, namun saat itu kondisi itu tidak terpenuhi, “ ujar Arif.
Korban sudah menggunakan parasut tipe INA yang tersertifikasi untuk atlet pemula. “Kita harus cari penyebab kenapa stall? Sementara kita menduga tali strap tidak terpasang sempurna, sehingga tubuh si pilot melorot mengikuti gravitasi, hingga mengakibatkan toggle tertarik dan melorot mengakibatkan stall, “ urainya.
Cabor Paralayang Jatim melakukan evaluasi terhadap kejadian ini, Arif mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi agar tidak terjadi lagi.
“Berbeda dengan kejadian sebelumnya, sebelumnya karena cuaca, tapi sekarang cuaca sangat bagus,” ujar Arif sembari berharap agar para atlet muda tetap bersemangat berlatih. (*)

Pewarta : Muhammad Dhani Rahman
Editor: Shuvia Rahma