Monumen Chairil Anwar Menunggu ‘Mati Dikoyak Sepi’ Jika Tidak Diperhatikan Pemkot Malang

Monumen Chairil Anwar Menunggu ‘Mati Dikoyak Sepi’ Jika Tidak Diperhatikan Pemkot Malang

Gambar 01: Foto Peresmian Monumen Chairil Anwar tahun 1955 oleh Walikota Malang. (Foto: Dwi Cahyono, 2007 | Repro: Devan Firmansyah, 2018-aremamedia.com)

MALANG – Bila kita melewati areal Kayu Tangan tepatnya di antara Jl. Basuki Rahmad dan Jl. M.G.R Sugiono Pranoto, kita akan menemukan “Monumen Chairil Anwar” yang terletak di depan Gereja Katholik “Hati Kudus Yesus” Kayutangan dan diseberang Toko “Oen”. Lokasinya cukup strategis karena tidak jauh dari “Alun-Alun Kotak” di Jl. Merdeka Kota Malang. Mungkin sebagian dari generasi muda bertanya tanya tokoh Chairil Anwar ini.

Dina Amalia Susamto, dalam artikelnya berjudul “Chairil Anwar: Antara Vitalitas dan Kematian”, yang disampaikan dalam Diskusi Klub Baca Badan Bahasa Pertemuan II (Kamis, 2 Maret 2017), dengan Tema: Chairil Anwar Vitalitas dan Kematian, pada halaman 1, menuliskan, “Chairil mengalami hidup selama 27 tahun (1922- 1949). Sebuah hidup singkat untuk seorang yang memiliki bakat terbaik pada masanya. Bagaimana Chairil dalam masa yang singkat tersebut berbuat sesuatu untuk bangsa, seperti yang dikatakannya dalam baris puisi “Kerawang Bekasi”, Sekali Berarti Sudah itu Mati? … Chairil Anwar adalah seorang penyair bohemian yang nakal, jalang, lahir di Binjai, Medan dalam suasana penjajahan Belanda di Kesultanan Deli pada tahun ke-58. Ayahnya Tulus bin Manan, seorang contreluer Belanda, seorang pribumi dari Taeh, Payakumbuh yang bertugas menjembatani hubungan kepentingan antara Belanda dan para residen serta stafnya. Ibu Chairil, Saleha adalah putri bangsawan dari Koto Gadang. Ia masih bersaudara dekat dengan Sutan Syahrir. Ayah Saleha atau kakek Chairil dari pihak ibu, seorang kepercayaan pengusaha Tionghoa yang melegenda di Kota Medan, Thong A Fie, dan adiknya Tjong Yong Hian. Nenek Chairil seorang Jawa-Surabaya. Sang nenek dari pihak ibu ini yang kemudian berperan besar dalam masa pengasuhan Chairil kecil hingga remaja. Nenek Tupin, orang terdekat Chairil setelah ibunya, yang menjadi tempat pelarian Chairil ketika orangtuanya bertengkar. Kedekatan Chairil dengan sang nenek ini kemudian menjadi puisi pertamanya. “Nisan” puisi yang ditulis Chairil setelah mengalami peristiwa meninggalnya sang nenek. Hasan Aspahani mengatakan puisi itu ditulis di Batavia, sedangkan Tim Tempo mengatakan di Payukumbuh”.

Gambar 02: Foto Chairil Anwar Muda. (Foto: www.merahputih.com)

“Chairil mengalami dunia pergerakan bawah tanah (klandestin) bersama Syahrir yang menolak bekerja sama dengan Jepang. Ia adalah bagian dari Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31. Di barisan Syahrir, Chairil bekerja untuk mengonsolidasi satu titik simpul pergerakan ke titik simpul lain. Ia pernah merasakan memegang pistol untuk melindungi diri, meskipun setelah tidak terpakai, ia menyimpannya di bawah tanah … Puisi “Aku” karyanya menyebarkan semangat individualisme yang sebenarnya tidak cocok atau bahkan memberontak terhadap propaganda Jepang dengan semboyan persaudaraan Asia-Raya. Rosihan Anwar mengomentari sajak itu, “Saudara bisa digebukin orang!”. Jepang mendirikan lembaga kebudayaan (Keimin Bunka Sidosho) untuk mendudukung kekuasaan Jepang, yang di dalamnya bekerja Rosihan Anwar, Sanusi dan Armyn Pane serta Usmar Ismail. Lembaga ini sering mengadakan acara kesenian, diskusi termasuk pembacaan puisi. Puisi-puisi yang disukai Jepang bertema semangat, mengorbankan semangat peperangan …,” tambah Dian di dalam tulisannya pada halaman 2-3.

Gambar 03: Lukisan Dinding Chairil Anwar dan Sepenggal Puisinya
(Sumber Foto: www.solo.tribunnews.com)

“Nasib sajak “Aku” memang tidak dimuat oleh Asia Raya milik pemerintah Jepang, tetapi dimuat di Panji Pustaka dengan usulan judul yang diganti menjadi “Semangat” untuk mengelabui pihak Jepang … Di penghujung hidupnya, ia tujuh hari terbaring di rumah sakit. Chairil wafat pada tanggal 28 April 1949, hanya empat tahun merasakan gelora puisi Perjanjian dengan Bung Karno menjadi kenyataan, yang itu pun ia tetap merasakan pedihnya agresi militer Belanda II. Dokter secara resmi mengatakan Chairil meninggal karena tifus, infeksi, dan usus pecah. Seperti pesannya, ia dimakamkan di TPU Karet. Ia meninggalkan seorang anak, Evawani Alissa yang dibawa mantan istrinya Hapsah. Ia mewariskan juga satu ons gula merah, sepasang sepatu dan kaos kaki hitam, selembar uang rupiahan, dan satu map berisi kertas tulisan tangan sajak-sajaknya,” terang Dian di penghujung akhir artikelnya di halaman 3-5.

Semangat kebebasan Chairil Anwar yang anti penjajah itu dituangkan di dalam karya-karya sastranya guna menggelorakan semangat juang pemuda Indonesia. Karena itu tidaklah mengherankan jika kemudian para seniman beserta budayawan yang menghormati gagasannya membangun monumen untuk mengenangnya. Salah satu monumen itu terletak di Kota Malang.

Gambar 04: Monumen Chairil Anwar Ditengah Hiruk Pikuk Kota Malang. (Foto: Febby Soesilo, 2018 for aremamedia.com)

Seperti yang telah dikutip dalam laman www.ngalam.id (diakses 15/10/2018:09:25 WIB) dalam artikel yang berjudul “Monumen Chairil Anwar”, hasil tulisan Moch. Antik, salah satu pengurus Komunitas Jelajah Jejak Malang (JJM), menjelaskan: “Untuk selalu mengobarkan semangat para pemuda, atas gagasan seorang pemuda Achmad Hudan Dardiri, dibangunlah Monumen Chairil Anwar. Hudan Dardiri ini, selain seorang intelektual dan mantan pejuang dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), juga menyukai puisi. Tidak heran Hudan Dardiri merupakan pengagum berat Chairil Anwar. Lalu ia ditunjuk sebagai ketua panitia pembangunan Monumen Chairil Anwar yang berada di poros Jalan Kayutangan itu. Kelak,Hudan Dardiri menjadi Wali Kota Pasuruan (1969-1975) dan Bupati Jombang (1978-1983).

Patung torso ini dibuat oleh perupa Widagdo di atas pedestal yang bertuliskan sajak ‘Aku’ yang terkenal itu. Monumen Chairil Anwar itu kemudian diresmikan oleh Wali Kota Malang, M. Sardjono Wirjohardjono, pada 28 April 1955. Sengaja patung ini dibangun di tengah-tengah poros jalan utama waktu itu yaitu di Jalan Kayutangan karena sangat strategis untuk menyampaikan pesan apapun kepada masyarakat Malang. Sekarang nama Jalan Kayutangan telah diubah menjadi Jalan Letjen Basuki Rachmad sejak tahun 1969,” terang Moch. Antik didalam lamannya tersebut. Senada dengan Moch. Antik, Sejarawan Malang Suwardono, dalam bukunya yang berjudul “Monografi Sejarah kota Malang”, tahun 1997, pada halaman 29, memberikan deskripsi singkat terkait monumen ini sebagai berikut: “Tanggal 28 April 1955 merupakan peringatan hari kelahiran penyair pendobrak chairil Anwar. Para seniman dan budayawan Malang membuat sebuah patung penyair tersebut. Panitia Pembangunan Patung Penyair Angkatan 1945 itu berasal dari Pengurus Badan Kerjasama Kebudayaan Malang dan meletakkannya di tengah taman pertigaan pusat kota. Pada pertemuan Jalan Basuki Rahmad dan Jalan Sugijo Pranoto. Taman ini merupakan tempat yang cocok untuk bersantai,” terang Suwardono dalam bukunya. Sementara seniman dan budayawan Dwi Cahyono pemilik Resto Inggil dan Museum Tempo Doeloe, dalam bukunya yang berjudul “Malang Telusuri dengan Hati”, tahun 2007, pada halaman, 63, menjelaskan monument tersebut sebagai berikut: “Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang …, ini adalah cuplikan puisi Chairil Anwar yang menggambarkan semangat perjuangan seorang seniman lewat karya sastranya. Di Malang, peran aktif seniman dalam membangkitkan api perjuangan sangat dihargai. Atas gagasan seorang pemuda A. Hudan Dardiri dibangunlah patung penyair ‘binatang jalan’ kelahiran Medan: Chairil Anwar. Untuk membuktikan perjuangan tidak hanya dengan jalan bertempur, tetapi melalui senipun dapat dimenangkan. Untuk selalu mengobarkan semangat para pemuda, sengaja patung ini dibangun di tengah-tengah poros jalan utama waktu itu, Kayutangan. Dibangun pada tanggal 28 April 1955, diresmikan oleh Wali Kotamadya Malang, Bapak Sardjono dengan ketua panitia pembangunan tokoh pemuda, Hudan Dardiri,” terang Dwi.

Gambar 05: Monumen Chairil Anwar yang Tampak Semakin tak Terawat
(Sumber Foto: Abdi Purmono, 2016)

Lebih jauh lagi, Moch Antik dalam tulisan di lamannya memberikan deskripsi lanjutan terkait monument tersebut: “Saat penyair Chairil Anwar singgah di Kota Malang ini memberikan semangat tersendiri bagi para sastrawan dan budayawan dari Malang. Dalam sejarahnya Kota Malang telah melahirkan sejumlah sastrawan dan budayawan terkemuka yang turut memberikan sumbangsih dalam khazanah kesusastraan di Indonesia, termasuk di antaranya adalah Hudan Dardiri, Indraswari Ibrahim, Emil Sanossa, Tengsoe Tjahjono dan sastrawan-sastrawan lainnya. Sayangnya Monumen sastrawan Chairil Anwar yang berada di Jalan Basuki Rahmad itu kondisinya memprihatinkan dan tak terawat padahal lokasinya berada di jantung kota,” terang Moch. Antik dalam lamannya itu.

Puisi berjudul Aku merupakan salah satu puisi Chairil Anwar yang menggambarkan semangat perjuangan seorang seniman lewat karya sastranya. Puisi ini juga tertulis di bagian bawah dari patung Chairil Anwar.

AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Kini monumen Chairil Anwar tampak tidak terawat, posisinya cukup memprihatinkan karena kurang perhatian dari Pemerintah Kota Malang atau pihak berwenang setempat. Cat-cat yang melapisi patungnya semakin mengelupas dimakan waktu. Entah sampai kapan nasib dari Monumen Chairil Anwar ini seperti ini. Sebagai bangsa yang mengaku sangat menghormati perjuangan para pendahulunya jangan sampai membiarkan monumen ini “mati dikoyak sepi” seperti penggalan puisi almarhum Chairil Anwar tersebut karena kurangnya perhatian dari Pemkot Malang. (*)

 

Pewarta : Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Pengambil GambarFebby Soesilo (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Editor : Noordin Djihad