Menyambut Hari Pahlawan, Kita Kenang Tugu Bunder atau Tugu Kemerdekaan Kota Malang

Menyambut Hari Pahlawan, Kita Kenang Tugu Bunder atau Tugu Kemerdekaan Kota Malang

Gambar 01: Peresmian Tugu Kemerdekaan Kota Malang oleh Presiden Soekarno (Sumber Foto: www.tropenmuseum.nl.)

MALANG – Tidak terasa Sabtu, 10 November 2018, kita semua memeringati Hari Pahlawan. Berkaitan dengan itu tak ada salahnya kita mengenang pendirian “Tugu Kemerdekaan” yang ada di Alun-Alun Bunder, depan Balai Kota Malang. Dwi Cahyono seorang seniman dan budayawan pendiri Museum Panji, dalam bukunya “Malang Telusuri dengan Hati”, tahun 2007, pada halaman 114, menjelaskan, “Pada tanggal 17 Agustus 1946 diadakan peletakan batu pertama sekaligus menempatkan Oorkonde (prasasti) dalam fondamen pembangunan tugu peringatan proklamasi kemerdekaan di Malang yang ditandatangani oleh Dularnowo sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur, Mr. Soenarko sebagai Residen Malang dan AG Soeroto sebagai ketua panitia pembangunan tugu. Di saat pembangunan tugu mencapai 95% terjadi Clash I yang memaksa pembangunan dihentikan. Keyakinan yang berkembang di kalangan masyarakat saat itu selama tugu peringatan proklamasi masih berdiri, maka perjuangan arek-arek Malang tidak akan dapat dipatahkan. Keyakinan tersebut justru berbuah petaka sesaat setelah tentara Belanda mendengarnya, sehingga dihancurkan pada tanggal 23 Desember 1948. Tugu itupun hanya tinggal pondasinya. Setelah perang usai dan kedaulatan kembali ke pemerintahan Kota Malang, dibentuk kepanitiaan untuk membangun kembali tugu yang hancur. Setelah pembangunannya selesai, tugu tersebut diresmikan oleh Presiden Soekarno tanggal 20 mei 1953 dengan nama TUGU NASIONAL”.

Gambar 02: Batur Pondasi Tugu Kemerdekaan Kota Malang Tempoe Doeloe
(Sumber Foto: www.tropenmuseum.nl.)

Keterangan Dwi diperkuat oleh keterangan sejarawan Malang, Suwardono, dalam bukunya “Monografi Sejarah Kota Malang”, tahun 1997. Di halaman 23-24 Suwardono menjelaskan, “Pada tanggal 17 Agustus 1946 panitia Tugu Kemerdekaan yang diketuai oleh A.G. Soeroto mulai bekerja. Peletakan batu pertama tugu itu dilakukan oleh Bapak Doel Arnowo, yaitu Wakil Gubernur Jawa Timur waktu itu. Bangunan tugu kemerdekaan itu batu-batunya diambil dari Gunung Arjuno. Akan tetapi ketika hampir rampung dikerjakan, bangunan itu harus terbengkalai akibat tentara Belanda kembali menduduki Kota Malang pada tanggal 21 Juli 1947. Pada tanggal 23 Desember 1948, lingga tugu kemerdekaan dirobohkan oleh Pemerintah pendudukan Belanda. Batu-batunya yang asli banyak yang disingkirkan dan dihancurkan. Baru pada masa pengembalian kekuasaan dari tentara pendudukan Belanda ke tangan pemerintah Republik Indonesia, pada tanggal 9 juni 1950 panitia Tugu Kemerdekaan mulai aktif kembali. Kegiatan ini atas desakan rakyat warga Kota Malang agar tugu kemerdekaan didirikan kembali”.

Gambar 03: Suasana Tugu Kemerdekaan Kota Malang Tempoe Doeloe
(Sumber Foto: www.tropenmuseum.nl.)

Kemudian Suwardono, melanjutkan keterangannya, “Pada tanggal 20 Mei 1953, bersamaan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Tugu kemerdekaan diresmikan oleh Presiden Soekarno. Bentuk tugu kemerdekaan beserta maknanya diuraikan sebagai berikut: Jarum tugu terdiri dari 6 buah bambu runcing, yang sebuah lebih tinggi dari yang lain. Yang tertinggi berujung sebilah keris yang berhiaskan karangan bunga melati. Semua ini melambangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan pusat pemerintahan di Pulau Jawa. Keenam bambu runcing tersebut dibalut atau diikat dengan 4 lapisan pelat yang berpenjuru 5, mengandung maksud angka 45 yaitu tahun proklamasi. Di atas empat pelat tadi terdapat bidang relief yang menggambarkan wajah Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, teks proklamasi, dan gambar peta kepulauan Indonesia, telapak tangan kanan, seekor banteng. tangga undak-undak yang bertingkat 8 dan berdasarkan lantai yang berpenjuru 17, bermakna bulan 8 hari yang ke 17”.

Gambar 04: Suasana Balai Kota Dibelakang Tugu yang Hancur karena Perang
(Sumber Foto: www.tropenmuseum.nl.)

“Dasar tugu yang berbentuk bulat bermakna kesatuan dan kebulatan tekad bangsa Idnonesia dalam menyelesaikan tugas perjuangannya. Kolam yang berbentuk bulat menunjukkan arti bahwa Negara Republik Indonesia merupakan kesatuan yang terdiri dari beberapa kepulauan yang dibatasi oleh lautan. Bunga teratai merah dan putih melambangkan suatu maksud dan tujuan. Dengan ketenangan batin dan di bawah kibaran sang Dwi Warna memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bangsa Indonesia dapat mewujudkan cita-cita proklamasinya. Cita-cita itu adalah suatu masyarakat yang adil dan makmur berlandaskan Pancasila serta mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Pemurah,” terangnya.

Kini Tugu Kemerdekaan Malang telah dijadikan pemerintah Kota Malang sebagai sarana ruang terbuka hijau untuk masyarakat. Tugu ini ramai dikunjungi warga Kota Malang untuk berekreasi, bersantai atau sekedar berfoto. Namun, dalam menyongsong Hari Pahlawan beberapa hari lagi diharapkan tugu tersebut bukan menjadi “simbol belaka” tetapi nilai-nilai yang telah dibuat oleh para founding father kita dapat meresap dan diamalkan oleh segenap warga Malang khsusunya dan Indonesia pada umumnya. Semoga!

Gambar 05: Tugu Kemerdekaan Kota Malang Masa Kini
(Sumber Foto: Yaniko Dimas Y.P., 2016)

Penulis: Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])