Meningkat, Ratusan Orang di Kabupaten Malang Tiap Tahun Idap HIV/AIDS

Meningkat, Ratusan Orang di Kabupaten Malang Tiap Tahun Idap HIV/AIDS

Ilustrasi

MALANG – Jumlah pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Malang dari tahun ke tahun meningkat. Secara angka, kenaikan pengidap AIDS ini sekitar 300 orang

Berdasarkan data dari Komisi Peduli AIDS (KPA), jumlah pengidap HIV/AIDS pada tahun 2016, terdeteksi 1.960 jiwa. Kemudian meningkat lagi di tahun 2017 menjadi 2.247 jiwa. Terakhir, pada 2018 lalu terdapat 2.497 jiwa yang terpapar HIV/AIDS.

Dari sisi pekerjaan, pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Malang terbanyak kalangan wanita pekerja seks komersial (PSK) berjumlah 410 jiwa. Sisanya, dari berbagai pekerjaan seperti sopir truk dan pekerja dari perantauan.

Menurut Plt Kepala Dinkes Kabupaten Malang, dr Ratih Maharani, jika sebelumnya hanya di tempat prostitusi, kali ini mulai merambah ke desa-desa.

“Dari yang sebelumnya tidak teridentifikasi, akhirnya mereka semua mulai terlihat. Ya, wajar kalau tiap tahun mengalami peningkatan,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Ratih, pihaknya bekerja sama dengan KPA untuk menjalankan program Warga Peduli AIDS (WPA). Selain itu sosialisasi ke sekolah-sekolah guna menekan dan memberikan pemahaman terhadap anak-anak tentang bahaya HIV/AIDS.

“Anak-anak sekolah atau remaja rawan terjangkit virus HIV/AIDS lantaran mereka banyak yang terjerembab pada pergaulan bebas. Perilaku gonta-ganti pasangan dan berhubungan intim sebelum waktunya menjadi salah satu penyebab HIV/AIDS,” terangnya.

Larangan gonta-ganti pasangan ini, kata Ratih, juga berlaku bagi orang dewasa sebab penyebaran HIV/AIDS ini begitu mobile.

Untuk itu, Dinkes Kabupaten Malang menyediakan klinik khusus untuk penanganan pasien AIDS. “Selain menyediakan alat kontrasepsi gratis di seluruh Puskesmas, sekarang ada tiga Puskesmas klinik khusus untuk penanganan pasien AIDS. Ketiga Puskesmas itu di Turen, Ampelgading, dan Sitiarjo,” terang Ratih.

Sementara, Kepala Pengelola Progam KPA Kabupaten Malang, Anita mengatakan, meningkatkannya pengidap HIV/AIDS itu seperti fenomena gunung es. Meski demikian penanganan terhadap penderita HIV/AIDS tetap berada pada koridornya.

“Semakin terkikis atasnya, ternyata menyebar luas di bawahnya. Fenomena ini bukan berarti Kabupaten Malang buruk, justru bagus karena semua penderita mendapat penanganan,” jelasnya.(*)

Pewarta : Galuh Ayu KW
Editor : Noordin Djihad