Asal-usul Nama di Malang Raya (11)

Menguak Toponimi Dusun Wareng di Kedungkandang Sekaligus Membedah Punden Mbah Wareng

Menguak Toponimi Dusun Wareng di Kedungkandang Sekaligus Membedah Punden Mbah Wareng

Gambar 01: Papan Penanda Bahwa Dahulu Bekas Dusun Wareng Kini Telah Berstatus Kampung di Wilayah Kelurahan Kedungkandang (Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

Mulai beberapa edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran jurnalis  aremamedia.comDevan Firmansyah yang juga pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya

Kampung atau Dusun Wareng secara administratif wilayahnya terletak di Kelurahan Kedungkandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Wilayah dusun ini secara geografis dan topografis berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bango dan sebagian wilayahnya diiris oleh Sungai Wareng, anak Sungai Bango. Dusun ini boleh dikatakan memiliki sejarah kuno di masa periode Hindu-Buddha di wilayah Malang Raya. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya tinggalan beberapa artefak di situs purbakala “Punden Mbah Wareng”. Situs Wareng terletak di Jl. Abd. Qadir Jaelani No. 10 RT 01 RW 07 Kelurahan Kedung Kandang. Situs ini adalah merupakan tinggalan artefak pada masa Hindu-Buddha di sebuah lahan kosong yang diapit rumah warga dan masjid. Untuk mencapai situs ini dapat ditempuh melalui dua jalan yang pertama Jl. Dirgantara dan yang kedua bisa melewati Jl. Ranugrati Gang 02 RW 06 Kel. Sawojajar.

Untuk lebih mudah menuju dusun ini sebaiknya melewati Jl. Ranugrati Gang 2. Detail arahnya sebagai berikut: Dari arah Malang melalui jembatan Sawojajar belok kanan masuk ke dalam Jl. Ranugrati Gang 2 RW 06 Kel. Sawojajar (gambar terlampir), kemudian lurus saja sekitar ± 200 meter belok kiri kemudian belok kanan pada papan penunjuk jalan warna hijau yang bertuliskan “Jl. Simp. Ranugrati Sel. III”, lurus saja sekitar ± 100 meter, situs terletak pada lahan kosong penuh semak belukar dan tanaman, di sebelah masjid yang bernama “Masjid Al Irsyaddul Ibad”. Di situlah Situs Wareng berada. Situs ini ternyata adalah bekas reruntuhan candi yang disusun menjadi sebuah “makam semu” (pseudo makam) dan diberi nisan dengan nama “Mbah Wareng”. Besar kemungkinan “Mbah Wareng” adalah dahyang (makhluk halus penghuni pertama satu wilayah) Dusun Wareng yang menunggu situs tersebut dan dihormati masyarakat sekitar pada masa lampau.

Gambar 02: Devan Firmasnyah (baju kuning) memberikan pembelajaran sejarah kepada siswa SMA Ardjuna Malang di Situs Punden Mbah Wareng pada Tahun 2016. (Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016 for aremamedia.com)

 Sementara itu, Sejarawan Malang, yaitu Suwardono di dalam bukunya yang berjudul “Kepurbakalaan di Kota Malang: Koleksi Arca dan Prasasti”, tahun 2011, pada halaman 112-113, mendeskrpisikan situs tersebut sebagai berikut: “Dalam situs ini terdapat dua buah yoni dan reruntuhan fragmen bekas candi. Yoni yang pertama ceratnya hilang  dengan kondisi tidak terawat dan ditumbuhi banyak lumut. Yoni ini memiliki tinggi 55 cm, panjang 55 cm dan lebar 55 cm. Pada yoni nomor dua kondisinya hampir serupa dengan yoni pertama yaitu kurang terawat. Yoni ini tidak memiliki cerat pada sisinya. Yoni tersebut memiliki tinggi 48 cm, panjang 50 cm dan lebar 48 cm”, jelasnya dibukunya itu.

Gambar 03: Situs Punden Mbah Wareng Merupakan Bekas Reruntuhan candi yang Dibentuk Makam dan Masih Disakralkan Masyarakat dengan Diberi Sesajian
(Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

Sangat disayangkan Lingga yang seharusnya berpasangan dengan Yoni tidak terdapat di kedua artefak tersebut. Menurut, Suwardono dalam bukunya yang lain, “Mengenal Koleksi Benda Cagar Budaya di Kota Malang Seri 02”, tahun 2004, pada halaman 41, menjelaskan: “Yoni selalu berpasangan dengan lingga yang keduanya merupakan sarana untuk pemujaan. Dalam keterangan dari kitab “Lingga Purana”, lingga adalah gambaran dari “kesadaran suci” sedangkan yoni merupakan gambaran dari sumber penciptaan atau ibu dunia. Lingga merupakan bentuk dasar (Mulavigraha) dari Siwa, sedangkan yoni merupakan Mulavigraha dari Parvati. Lingga dan Yoni digunakan dalam upacara penyucian yang dipimpin oleh seorang pendeta guru. Dalam upacara ujung lingga disiram dengan air, air siraman tersebut akan jatuh dan mengalir melalui cerat yoni. Air tersebut kemudian ditampung dan dianggap air suci (Amerta). Air tersebut dianggap keramat karena membawa berkah dan membawa kepada kehidupan yang baru“, terangnya. Sejarawan Malang lainnya, yaitu M. Dwi Cahyono, dalam bukunya yang berjudul “Wanwacarita: Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Malang”, tahun 2013, pada halaman 147-148, mendeskripsikan: “Selain dua buah yoni tersebut juga terdapat temuan lain berupa antefix atap dengan tinggi 45 cm dan lebar 41 cm dengan kondisi berlumut tebal dan aus. Selain itu juga terdapat fragmen arca dewa dari batu andesit, yang tinggal separuh atas dengan kondisi amat aus”, jelasnya.

Gambar 04: Penulis dan Mahasiswa Sejarah Meneliti Artefak di Situs Wareng
(Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

Khusus untuk fragmen arca sosok dewa penulis tidak menemukannya di lokasi, karena berdasarkan keterangan dari murid penulis bernama Doni (16) yang merupakan warga di sekitar situs (wawancara, 26/01/2016:13.30 WIB), menuturkan bahwa fragmen arca tersebut sudah hilang dicuri orang sekitar tiga tahun yang lalu. Untuk potensi hilangnya artefak dari situs itu, Dwi (2013:147) sudah menegaskan kembali dalam bukunya: “Hal ini wajar karena situs terdapat di tempat terbuka dan tidak ada cungkup berpagar yang melindunginya. Situs reruntuhan candi ini dijadikan oleh warga menjadi tempat ‘sadranan’, yang berfokus pada ‘kubur semu (yang bernama Mbah Wareng)’ dengan menggunakan batu nisan dari balok batu candi. Jadi makam semu tersebut hadir kemudian setelah candi tidak lagi difungsikan”, ungkapnya.

Gambar 05: Sisa-Sisa Fragmen Batu Bata Merah Besar Disekitar Situs Punden Mbah Wareng
(Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

Kemudian menurut Suwardono (2011:112), dalam buku yang sudah disinggung diatas menjelaskan: “Pada sekitar tahun 1980-an terdapat sisa-sisa dari fragmen bangunan dari bata merah dan bebatuan tersebut masih menumpuk di halaman. Kini sisa-sisa fragmen bangunan tersebut sudah tidak ada lagi. Dilihat dari gaya ornamentasinya yang terdapat pada bata merah, ornamentasi tersebut menandakan produk zaman Majapahit”, terangnya. Pada saat penulis melakukan penelusuaran pada tanggal 26 Januari 2016: 13.30 WIB tumpukan bata kuno sudah tidak ada lagi dan hanya tersisa satu buah bata merah besar tertutupi semak yang berada di belakang pohon pisang dan ketela.

Gambar 06: Sungai (Kali) Wareng yang Lokasinya Tak Jauh dari Situs Punden Mbah Wareng
(Sumber Foto: Moch. Dwi Novianto, 2016)

Yang semakin menguatkan bahwa situs ini adalah bekas bangunan candi adalah adanya sungai yang disebut “Kali Wareng” yang terletak tak jauh dari lokasi situs (sekitar ± 100 meter di selatan situs). Rakai Hino Galeswangi, dalam diktat kecilnya yang berjudul “Candi Sawentar I dan II”, tahun 2014, pada halaman 23-24, menjelaskan: “Menurut pendapat dari  F. D. K. Bosch, pembangunan bangunan suci (candi) di Indonesia banyak mengacu kepada kitab “Manasara-Silpasastra”, dalam kitab tersebut dikatakan bahwa syarat-syarat utama pendirian bangunan suci (candi) yaitu harus berada didekat air (tirtha) baik berupa air alami seperti sungai, danau & laut atau menambahkan tempat air buatan jika tidak ada sumber air alami dengan cara membuat kolam dihalaman candi, menaruh air dalam jambangan yang di letakkan dekat pintu masuk atau menempatkan tiga kendi berisi air di pusat candi yang disebut dengan istilah brahmasthana”, terangnya. Dengan kata lain Kali Wareng yang merupakan sumber air alami serta terdapat di dekat lokasi situs semakin memperkuat bukti bahwa situs ini dulunya adalah candi berdasarkan acuan dari kitab “Manasara-Silpasastra”.

Yang menarik adalah arti nama “Wareng” itu sendiri yang saat ini menjadi nama dusun atau kampung tempat situs ini berada. Bahkan terdapat makam semu bernama “Mbah Wareng”. Menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan studi literatur untuk menghindari jawaban cocoklogi (othak athik gathuk) dari masyarakat. Jawaban tersebut dapat ditemukan dalam buku “Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan”, tahun 2017, pada halaman 435, karya Iman Budhi Santosa. Ternyata “wareng adalah nama dari sebuah “tumbuhan”.

“Pohon wareng (Gmelina asiatica) menurut K. Heyne dalam buku Tmbuhan Berguna Indonesia I-IV (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan, 1987), mempunyai nama berbeda di daerah-daerah lain. Di Sunda: wareng. Di Madura: bulangan. Di Jakarta: wareng ketan. Di Makassar:luwarang. Di Lampung: kemandiang. Diinformasikan, wareng merupakan perdu berduri. Tingginya hingga 7 m dan gemangnya 15 cm. Percabangannya rapat dan banyak. Pohon wareng tersebar di Nusantara di bawah ketinggian 500 m dpl. Menurut Rumphius, pada daerah tertentu pohon wareng biasa digunakan sebagai pagar yang kokoh dan sulit ditembus, sebab hewan atau manusia jika tercocok durinya dapat menyebabkan bengkak pada kulit,” terang Iman.

Kemudian Iman melanjutkan, “Dikabarkan kayu wareng cukup keras dan tahan lama. Maka tidak mengherankan jika masyarakat di beberapa tempat di Jawa menggunakannya untuk gandar bajak atau dibuat tangga. Selain itu, cairan buah serta daun wareng juga digunakan untuk obat sakit gigi dan sakit telinga. Ada pula yang menggunakan buahnya dicampur bawang putih dan kaur untuk membuat salep terhadap busung air. Menurut Teysmannia (1890), biji wareng terdiri dari 68% minyak yang berwarna kuning muda, sedang rasa dan baunya mirip mentega cokelat”.

Sebagai pembanding berikut ini adalah perbandingan nama desa-desa di Jawa Timur/Jawa Tengah/Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menggunakan nama wareng sebagai nama desa adalah:

No. Desa/Kelurahan Kecamatan Kabupaten
1. Wareng Punung Pacitan
2. Wareng Butuh Purworejo
3. Kaliwareng Warungasem Batang
4. Wareng Wonosari Gunung Kidul

(Sumber Tabel: Iman Budhi Santosa, 2017)

Gambar 07: Tumbuhan Wareng yang Sedang Berbunga
(Sumber Foto: www.nugi234.files.wordpress.com)

Pengambil Gambar: Moch. Dwi Novianto (Anggota Komunitas Sejarah JJM)
Editor : Noordin Djihad