Mengenal Sosok Ken Dedes, Perwujudannya sebagai Arca Prajnaparamita dan Menguak Rahasia Kecantikan Hakikinya (I)

Mengenal Sosok Ken Dedes, Perwujudannya sebagai Arca Prajnaparamita dan Menguak Rahasia Kecantikan Hakikinya (I)

Gambar 01: Foto dari Arca Prajnaparamita di Taman Ken Dedes Kota Malang (Sumber Foto: M. Dwi Cahyono, 2016)

Gambar 05: Situs Patirthan Watugede yang Dipercaya Masyarakat sebagai “Taman Boboji” Dimana Ken Angrok Melihat Sinar dari Ken Dedes
(Sumber Foto: M. Dwi Novianto, 2014)
  1. Cerita Tutur Versi A

Alkisah pada zaman dahulu ada seorang putri bernama “Ndedes” (Ken Dedes) dari desa “Polowijen” yang akan dijodohkan dengan seorang laki-laki dari “Dinoyo”, bernama “Joko Lulo”. Ken Dedes tidak patuh kepada kehendak orang tuanya. Dia mau menikah tetapi meminta syarat yang harus dipenuhi sebelum pernikahan, yaitu supaya dibuatkan sumur yang dalam sekali. Kedua orang tuanya tidak keberatan dan mengabulkan, yang kemudian menyuruh orang untuk membuat sumur yang sangat dalam. Saat pesta pernikahan tiba, maka semua persiapan telah diatur secara meriah, dan kedua penganntin akan dipertemukan pada larut malam dengan diiringi seperangkat gamelan yang ramai. Acara temu pengantin tersebut tidak boleh melewati waktu orang-orang perempuan membunyikan tempat nasi (bahasa Jawa: tompo), menandakan hari mulai pagi/terang. Ketika hendak dipertemukan, tidak diketahui siapa yang mengkoordinir bunyi tempat nasi tersebut sehingga tanda pagi sudah mulai, sehingga tampak wajah Joko Lulo yang buruk rupa dan Ken Dedes tidak menyukainya. Suasana menjadi kacau, pengiring kocar-kacir, dan semua alat gamelan berhamburan. Joko Lulo kemudian mengumpat para wanita pemukul tempat nasi, “Semoga kelak semua anak perawan Polowijen tidak akan kawin atau dapat jodoh sebelum payudaranya turun ke bawah seperti orang yang sudah mempunyai anak”. Hal itu disepakati pula oleh orang tua kedua calon mempelai bahwa tidak akan menjodohkan anaknya dengan orang yang berasal dari daerah Dinoyo dan Polowijen. Dalam situasi kacau tersebut Ken Dedes minta ijin ke belakang rumah dan ternyata menceburkan diri ke dalam sumur dan diikuti oleh Joko Lulo. Sedangkan alat-alat gamelan yang berserakan menjadi batu. Sumur di mana Ken Dedes dan Joko Lulo masuk ke dalamnya sekarang menjadi sebuah tempat yang oleh masyarakat Polowijen disebut “Sumur Windu*” (sekarang menjadi Situs Ken Dedes).

*Dikatakan sumur windu karena dipercaya masyarakat sumur tersebut sangat dalam bahkan untuk mencapai dasarnya dibutuhkan waktu delapan tahun perjalanan, karena 1 windu sama dengan 8 tahun (catatan penulis).

  1. Cerita Tutur Versi B

Pada suatu masa di desa Polowijen hidup seorang putri cantik bernama Ken Dedes. Karena kecantikannya, maka banyak laki-laki yang mau meminangnya. Adalah seorang pemuda bernamaJoko Lulo yang berasal dari Dinoyo berkeinginan untuk memperistri Ken Dedes. Ken Dedes minta satu syarat sebelum menerima lamaran tersebut bahwa Joko Lulo harus membuatkan sumur yang sangat dalam sekali (sedalam 1 windu). Diluar dugaan syarat tersebut diterima oleh Joko Lulo yang kemudian dapat dipenuhinya karena Joko Lulo adalah pemuda yang sakti mandraguna, sehingga Ken Dedes mau tidak mau harus menerima lamaran tersebut. Tidak beberapa lama dipersiapkanlah suatu upacara pernikahan. Pada waktu kedua mempelai hendak dipertemukan, Ken Dedes yang sebenarnya tidak menginginkan pernikahan tersebut melarikan diri dan menceburkan diri ke dalam sumur yang dibuat oleh Joko Lulo. Gemparlah suasana pernikahan tersebut, para pengiring berhamburan, sehingga alat gamelan yang dibawanya porak-poranda. Alat-alat gamelan itu menjadi batu, dan sisanya masih ada diantaranya menyerupai “watu kenong. Dengan gagalnya pernikahan tersebut, kedua orang tua menjadi sedih, dan mereka sepakat untuk menyudahi acara tersebut serta saling berujar bahwa cukup sekali itu saja pernikahan antara orang Polowijen dan orang Dinoyo, dan tidak berlanjut sampai anak cucu keturunan mereka. Tentang hilangnya Ken Dedes yang menceburkan diri ke dalam sumur, maka dibuatlah sayembara, barang siapa yang dapat menemukannya akan dipersuntingkan dengan Ken Dedes. Berlomba-lombalah orang mencari Ken Dedes. Salah seorang yang ikut serta dalam sayembara itu adalah seorang bernama “Maling Aguno”. Dalam mencari Ken Dedes di dalam sumur, ia membuat terowongan di bawah tanah, dan mencari kesana kemari, tetapi hasilnya nihil, Ken Dedes tidak ditemukan. Sisa-sisa terowongan itu sampai sekarang dapat dijumpai, yaitu yang baru ditemukan orang pada tahun 1993 itu.

Setelah beberapa waktu tidak diketahui kabar beritanya, ternyata Ken Dedes muncul kembali di Singosari sebagai seorang istri pembesar Tumapel yang bernama Tunggul Ametung.

Gambar 06: Punden Joko Lulo di Kelurahan Polowijen yang Sering Digunakan untuk Kegiatan Bersih Desa Masyarakat Sekitar
(Sumber Foto: M. Dwi Novianto, 2014)

Berdasarkan cerita yang dipaparkan diatas dari kitab Pararaton dijelaskan bahwa, Ken Dedes adalah putri pendeta Buddha Mahayana yang bernama Mpu Purwa yang tinggal di Desa Panawijen (kini Polowijen,red). Ken Dedes diculik paksa oleh Tunggul Ametung yang terpikat olek kecantikannya. Ken Dedes memiliki keisitimewaan yaitu dia adalah tergolong wanita Stri Nareswari atau Ardhanareswari, yaitu wanita utama yang mana jika orang hina sekalipun jika menikahinya maka ia akan menjadi seorang raja besar. Maka dari itu tidak heran jika Ken Angrok juga menginginkannya. Sedikit berbeda dengan cerita dalam Pararaton, dalam cerita rakyat Polowijen dijelaskan bahwa Ken Dedes (Putri Ndedes) adalah sosok seorang yang sangat cantik sehingga banyak orang ingin menikahinya. Suatu ketika ia dilamar pemuda sakti namun buruk rupa yang bernama Joko Lulo, sehingga Ken Dedes mengajukan syarat yaitu jika pemuda itu bisa membuat “Sumur Windu” maka Ken Dedes bersedia menerima pinangannya. Alhasil pemuda tersebut segera membuatnya dan berhasil sehingga mau tidak mau Ken Dedes harus menerima lamaran tersebut. Ken Dedes yang terpaksa menerima pinangan itu singkat cerita menceburkan diri ke sumur tersebut. Sehingga Joko Lulo mengutuk perempuan setempat agar menjadi perawan tua lalu menyusul Ken Dedes masuk ke dalam sumur. Peristiwa gaib juga terjadi alat-alat gamelan berubah menjadi batu (watu kenong) ditengah keributan tersebut. Kedua orang tua mereka berdua bersepakat jangan sampai ada lagi orang Dinoyo dan Polowijen yang menikah dikemudian hari.

Gambar 07: Watu Kenong di Polowijen yang Dipercaya Ada Kaitan dengan Kisah Joko Lulo
(Sumber Foto: M. Dwi Novianto, 2014)

Sejarawan Malang, Suwardono dalam bukunya yang berjudul “Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok (Pendiri Wangsa Rajasa)”, tahun 2013, pada halaman 181, menjelaskan bahwa tokoh Joko Lulo cukup identik dengan tokoh Ken Angrok, Suwardono juga menjelaskan bahwa cerita tutur penduduk Polowijen dengan Pararaton terdapat hubungan yang signifikan. Maka ia membuat tabel perbandingan dibawah ini:

Indikator Naskah Pararaton Cerita Tutur Penduduk Polowijen
Tokoh Putri Ken Dedes Putri Dedes
Kasus Putri Dedes hilang dibawa lariakuwu dari tumapel Dedes hilang masuk Sumur Windu, lama kemudian menjadi istri pembesar Tumapel
Tokoh Pemuda Ken Angrok (Pararatonmenyebut ayahnya gaib, Nagarakretagama menyebuttanpa ibu) Joko Lulo (pemuda yang tidak mempunyai bapak dan tidak mempunyai ibu)
Kasus Pemuda Berkelakuan buruk Berwajah buruk
Toponimi Angrok dari Karuman (wilayah Dinoyo) Joko Lulo dari Dinoyo (membawahi Karuman)

(Sumber Tabel: Suwardono, 2013)

Suwardono dalam halaman 181-182, menjelaskan: “Dari jabaran analisis di atas dapat ditarik simpulan bahwa bertemunya Ken Angrok dengan Ken Dedes di Taman Boboji menurut Pararaton merupakan sebuah cerita yang diambil dari episode yang penting saja. Secara rasional tidak mungkin kejadian itu berlangsung demikian pendeknya dan dengan cepatnya Ken Dedes harus jatuh cinta kepada Ken Angrok yang sekaligus sebagai orang yang membunuh suaminya. Apabila pemberitaan Pararaton itu ditangkap dan dimaknai cukup sampai di situ, maka akan timbul asumsi bahwa rasa cintanya Ken Dedes kepada Ken Angrok karena Tunggul Ametung sudah tua. Padahal tidak terdapat bukti tertulis dan fakta yang menyebutkan bahwa pada waktu Tunggul Ametung melarikan Ken Dedes, ia sudah tua dan batuk-batukan. Oleh karena itu alasan yang masuk akal adalah jauh-jauh hari sebelum Ken Dedes dilarikan oelh Tunggul Ametung, Ken Dedes sudah mengenal diri Ken Angrok yang sudah sangat dikenal orang pada waktu itu di lereng Timur Gunung Kawi,” terang Suwardono. “Intinya bahwa Ken Angrok sudah mendengar dan tahu tentang diri Ken Dedes. Demikian pula ia sudah mendengar dan tahu siapa Ken Angrok sebenarnya. Mungkin dalam hal ini Ken Angrok pernah datang di Panawijen dan menyatakan cintanya kepada Ken Dedes, tetapi ditolak dengan halus oleh Ken Dedes karena perilaku Ken Angrok yang buruk (dalam cerita tutur dikatakan bahwa Putri Dedes menolak lamaran Joko Lulo lantaran wajah Joko Lulo yang buruk). Buruknya Joko Lulo bukanlah buruk wajahnya seperti yang diceritakan oleh penduduk Desa Polowijen, melainkan buruk perilakunya, memang demikianlah kenyataannya Ken Angrok pada waktu itu,” tambah Suwardono dalam halaman 181-182.

Kemudian dalam halaman 186-187, Suwardono sampai pada kesimpulan bahwa Ken dedes sebagai putri pendeta agama Buddha dengan pangkat sthapaka (pendeta agama yang tinggi ilmunya), tentunya merasa kecewa dan direndahkan harga dirinya ketika dilarikan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Apalagi Ken Dedes seorang putri dengan pendidikan agama yang kuat. Dengan demikian Ken Dedes pasti mengetahui dibalik rencana pembunuhan Ken Angrok terhadap Tunggul Ametung. Dikemudian hari ia menjalin hubungan percintaan dengan Ken Angrok tanpa ada yang melarangnya. Bahkan dikatakan bahwa keluarga Tunggul Ametung sekalipun, diam tidak berkomentar. Jawaban dari semua itu adalah karena Ken Dedes merasa kecewa dengan sikap Tunggul Ametung yang tidak bersusila menculik dirinya. Tunggul Ametung telah melakukan salah satu dari “Astacorah (salah satu dari kegiatan pidana yaitu pencurian, red)”, sementara itu Ken Angrok walaupun berperilaku buruk (seorang corah), sikapnya tidak memaksakan (memperkosa) cinta terhadap Ken Dedes. Bahkan di dalam buku karya Suwardono sebelumnya yang berjudul Mutiara Budaya Polowijen Dalam Makna Kajian Sejarah, Cerita Rakyat, dan Nilai Tradisi”, pada tahun 2005, di halaman 86-87, Suwardono memiliki interpretasi terhadap cerita tutur tersebut sebagai berikut: “Nah, inilah yang penulis maksudkan dengan seolah-olah cerita tentang Putri Dedes supaya tidak diperistri oleh Joko Lulo itu dipaksakan harus tidak jodoh yang seharusnya adalah Akuwu Tunggul Ametung. Padahal dalam cerita sejarah berdasarkan naskah kuno, Tunggul Ametung yang memaksa Ken Dedes menjadi istrinya. Baru ketika Ken Angrok datang di Tumapel, Tunggul Ametung dibunuh Ken Angrok dan Ken Dedes diperistrinya. Jadi cerita itu berbalik sama sekali. Oleh karena itu kita perlu berfikir, apakah cerita tutur tersebut dihembuskan oleh keluarga Tunggul Ametung yang dendam kepada Ken Angrok, yang ketika pengambilalihan kekuasaan dari tangan Tunggul Ametung ke tangan Ken Angrok keluarganya tidak dapat berbuat apa-apa? Sehingga dihembuskan cerita bahwa Ken Dedes sebenarnya tidak suka terhadap Ken Angrok yang tidak jelas asal-sulnya (joko Lulo) dan buruk (rupa buruk) itu. Dan lambat laun cerita tersebut mentradisi di kalangan rakyat, tetapi kemudian hari terkenal di kalangan Polowijen dan Dinoyo. Wajar saja karena kedua tempat itu adalah di mana kedua tokoh cerita berasal,” ujar Suwardono dalam bukunya.

Gambar 08: Situs Prasasti Kamulan di Kabupaten Trenggalek
(Sumber Foto: www.situsbudaya.id)

Di sini penulis menarik kesimpulan bahwa berdasarkan dua sumber data sejarah tersebut yaitu KitabPararaton dan Cerita Tutur Polowijen “Joko Lulo dan Putri Ndedes”, disimpulkan bahwa pada awalnya Ken Angrok (Joko Lulo) melamar Ken Dedes (Putri Ndedes) namun ditolak lamarannya karena Ken Dedes tahu tabiat buruk Ken Angrok. Namun, suatu hari Ken Dedes diculik, diperkosa serta dipaksa menjadi istri pembesar Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung. Ken Angrok yang mendengar dan tahu bahwa pujaan hatinya diperlakukan seperti itu tidak menerimanya. Akhirnya, dengan berbagai macam cara dilakukan oleh Ken Angrok dapat menyelamatkan Ken Dedes dan membunuh Tunggul Ametung. Melihat kesungguhan hati Ken Angrok dalam menyelamatkan Ken Dedes tanpa memaksakan cinta membuat hati Ken Dedes luluh. Dan pada akhirnya Ken Dedes jatuh cinta dan bersedia menikahi Ken Angrok. Namun budayawan Lesbumi NU, yaitu Agus Sunyoto dalam bukunya yang berjudul “Petunjuk Wisata Sejarah Kabupaten Malang”, tahun 2000, mengungkapkan analisis yang cukup menarik terkait dengan penculikan Ken Dedes. Berikut ulasannya. “Berdasar uraian Prasasti Kemulan yang berasal dari tahun 1116 Şaka (31 Agustus 1194 M), yang ditemukan di Desa Kemulan, Trenggalek, disebut nama Şrī Mahārāja Şrī Sarwweşwara Triwikramāwatārānindita Şŗnggalañcana Digwijayottunggadewanāma, yang tiada lain adalah Maharaja Kertajaya dari Kadiri. Diuraikan bahwa sāmya haji Kataņdan Sakapāt (raja bawahan) dengan perantara pengalasan bernama Gĕng Adĕg menghadap raja dengan membawa prasasti rontal yang telah diterima dari Aji Tumandaḥ yang dicandikan di Jawa dan anugerah Şrī Rajakula, dengan harapan disalin ke atas prasasti batu dengan cap Keŗtajaya (mapratista ring linggopala tandan krtajaya). Permohonan sāmya haji Kataņdan Sakapāt dikabulkan oleh Kertajaya dengan tambahan beberapa pembebasan pembayaran pajak. Anugerah yang diterima sāmya haji Kataņdan Sakapāt itu berdasar kesetiaan mereka terhadap raja hingga berhasil kembali menduduki tahta di kerajaan Kadiri (Bhumi Kadiri). Sebelum itu, raja telah diserang oleh bala tentara musuh dari timur atau Purwwa (tka ni satru wadwa sangke purwwa), sehingga dengan terpaksa raja meninggalkan istananya di Katang-katang (tatkala ni n kentar sangke kadatwan ring katang-katang deni nkin malr yatik kaprabhun sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri)”, ujar Agus dalam bukunya di halaman 20-21. Kemudian Agus melanjutkan penjelasannya dihalaman 21-23 sebagai berikut: “Tidak bisa ditafsirkan lain bahwa bala tentara dari timur ataupurwwa yang menyerang Maharaja Kertajaya yang bertahta di Katang-katang di Bhumi Kadiri adalah penguasa dari daerah Malang, yang letak geografisnya di timur Kadiri. Sedangkan menurut Prasasti Sukun bertahun 1083 Saka (1161 M) yang tersimpan di Museum Pu Tantular Surabaya disebutkan bahwa Sri Maharaja Jayamerta mengukuhkan desa Sukun menjadi daerah sima yang bebas pajak. Fakta ini menunjukkan bahwa di Malang pada pertengahan abad ke-12 terdapat kerajaan besar yang dipimpin oleh raja yang bernama Jayamerta. Mengaitkan data pada Prasasti Kemulan dan Prasasti Sukun, tidak bisa diingkari bahwa di daerah Malang saat itu terdapat sebuah kerajaan besar di mana rajanya menggunakan gelar Sri Maharaja yakni raja yang berkuasa atas sejumlah kerajaan-kerajaan yang lebih kecil wilayah teritorialnya. Itu sebabnya penamaan Pu Purwa bagi orang tua Ken Dĕdĕs sebagaimana disebut Pararaton dapat ditafsirkan sebagai pengungkapan kembali akan hal tersebut oleh penyusun Pararaton yang samar-samar masih ingat akan adanya kekuasaan pra-Tumapĕl tetapi tak mampu lagi merekonstruksinya secara benar karena kurangnya data, hingga kawasan itu digambarkan sekedar pertapaan yang dipimpin oleh Pu Purwa,” terangnya. “Adanya kekuasaan Purwwa pra-Tumapĕl di Malang yang sempat menyerang Maharaja Keŗtajaya hingga penguasa Kerajaan Kadiri itu mengungsi tampaknya tidak bisa diingkari. Hal itu setidaknya didukung oleh Pararaton yang menyebut Ken Dĕdĕs sebagai perempuan Nareswari (Sanskerta: permaisuri; Jawa Kuno: raja putri). Pararaton juga menyebut bahwa Ken Dĕdĕs yang putri Pu Purwa dari Panawijen dilarikan dan kemudian dikawin oleh Tunggul Amĕtung yakni akuwu Tumapĕl, bawahan Maharaja Keŗtajaya. Prasasti Kemulan secara jelas menguraikan bahwa setelah mengungsi dari kedaton Katang-katang akibat serangan balatentara dari Purwwa, Maharaja Keŗtajaya berhasil kembali ke tahtanya di Bhumi Kadiri. Ini berarti, dengan bantuan sāmya haji Kataņdan Sakapāt penguasa Bhumi Kadiri itu berhasil mengalahkan balatentara musuh dari Purwwa. Munculnya nama Tunggul Amĕtung sebagai akuwu Tumapĕl yang melarikan putri Pu Purwa sebagaimana digambarkan Pararaton memunculkan penafsiran bahwa setelah Maharaja Keŗtajaya berhasil menghalau kekuatan musuh dari Bhumi Kadiri, maka balatentara Kadiri kemudian menggempur pusat kekuasaan Purwwa. Tunggul Amĕtung sangat mungkin adalah keluarga Maharaja Kertajaya yang mewakili upaya penaklukan pusat kekuasaan Purwwa. Dengan demikian, menjadi wajar ketika Tunggul Amĕtung memenangkan peperangan kemudian menjadikan Ken Dĕdĕs sebagai istri pampasan dan memberinya kedudukan sebagai nareswari yakni permaisuri,” lanjut Agus dalam penjelasannya di halaman 23-24. Dan pada akhir kesimpulannya Agus menjelaskan di halaman 25-26, sebagai berikut: “Pada akhir abad ke-12 daerah Malang secara utuh di bawah kekuasaan Kadiri. Ini terlihat pada Prasasti Pamotoh yang dikeluarkan pada 1120 Saka (1198 M) yang diketemukan di kompleks perkebunan Ukir Negara, Wlingi, Blitar menyebutkan bahwa Sri Maharaja menganugerahi tanah kepada dyah Limpa, Rakryan Patang Juru yang bertempat tinggal di Gasek di wilayah Pamotoh. Penyerahan itu diwakili oleh Rakryan Pamotoh dan Rakryan Kanuruhan. Tanah-tanah yang dihadiahkan itu adalah Malang, Paniwen dan Talun (semuanya saat ini terletak di daerah Malang). Tampaknya setelah ditaklukkan oleh Kadiri, raja dari Purwwa mengundurkan diri dan bersembunyi di daerah Panawijen (mungkin menjadi seorang pendeta). Pararaton setidaknya mengungkapkan bagaimana Pu Purwa mengharap banyak kepada Ken Arok untuk merebut kembali putrinya dari Tunggul Amĕtung. Harapan Pu Purwa jelas mengandung makna bahwa Ken Arok harus dapat merebut kembali kekuasaan dari akuwu Tunggul Amĕtung, dan tentu pada akhirnya merebut kekuasaan dari Maharaja Keŗtajaya”, tandasnya.

Gambar 09: Penulis di Depan Prasasti Sukun dan Prasasti Pamotoh di Museum Mpu Tantular
(Sumber Foto: Ahmad Sirojul Munir, 2017)

Dari berbagai macam ulasan para ahli di atas dapat dikatakan bahwa Kisah Ken Angrok dan Ken Dedes berkaitan erat dengan cinta dan tahta. Pada ulasan berikutnya akan dibahas terkait dengan perwujudan Ken Dedes dalam Arca Prajna Paramita dan rahasia kecantikan hakikinya. (Bersambung).

 

Penulis: Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])

Pengambil Gambar: M. Dwi Novianto (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])