Mengenal Sosok Ken Dedes, Perwujudannya sebagai Arca Prajnaparamita dan Menguak Rahasia Kecantikan Hakikinya (I)

Mengenal Sosok Ken Dedes, Perwujudannya sebagai Arca Prajnaparamita dan Menguak Rahasia Kecantikan Hakikinya (I)

Gambar 01: Foto dari Arca Prajnaparamita di Taman Ken Dedes Kota Malang (Sumber Foto: M. Dwi Cahyono, 2016)

Jika kita hendak pergi menuju ke arah Surabaya melewati perbatasan antara Kelurahan Balearjosari dan Desa Banjararum maka kita akan melewati sebuah taman sebelum gapura masuk Kota Malang. taman itu berada di sebelah kanan jalan dan dikenal dengan nama “Taman Ken Dedes”. Dalam taman tersebut berjajar beberapa bentuk kerucut runcing yang bagian dasarnya merupakan bentuk dari wajah-wajah tokoh topeng Malangan dengan patung Prajnaparamita (perwujudan Ken Dedes) sebagai pusatnya di tengah. Beberapa waktu lalu patung ini menjadi hangat diperbincangkan karena dicat dengan warna putih. Para seniman dan budayawan yang peduli mendesak pemerintah untuk segera mengembalikan warna asal patung Ken Dedes itu karena mereka begitu menghormati sosok Ken Dedes yang dipatungkan (diarcakan) sebagai sosok Dewi Prajnaparamita.

Menjadi sesuatu yang menarik, hampir dipastikan semua orang mengetahui siapa sosok Ken Dedes terutama warga Malang asli. Namun, yang kurang dipahami adalah mengapa Ken Dedes diarcakan menjadi Dewi Prajnaparamita? Kedua, rahasia kecantikan Ken Dedes banyak dicari dan diburu oleh para wanita dari segala penjuru daerah. Namun, apakah mereka tersebut memahami kecantikan yang hakiki dari Ken Dedes tersebut yang diasosiakan sebagai kecantikan hakiki “Arek-Arek” Malang terutama yang berjenis kelamin perempuan? Simak ulasan berikut ini guna menguak resep-resep rahasia kecantikan Ken Dedes yang sesungguhnya.

Gambar 02: Arca Prajnaparamita di Museum Nasional Jakarta yang Berasal dari Malang
(Sumber Foto: www.id.wikipedia.org)
  1. Latar Belakang Kepopuleran Sosok Ken Dedes

Sejarawan Malang, Suwardono dalam artikelnya yang berjudul “Identifikasi Ken Dêdês dalam Arca Perwujudan Dewi Prajñaparamita: Tinjauan Filsafat Religi dan Ikonografi”, yang dimuat dalam jurnal “Berkala Arkeologi Tahun XXVII, Edisi No. 1 / Mei 2007”, tahun 2007, 127-128, menjelaskan: “Di kalangan masyarakat Malang dan sekitarnya, sosok Ken Dedes (baca: Dêdês) sebagai seorang putri Jawa kuno  yang dipandang sangat cantik jelita sudah bukan barang baru lagi. Anggapan ini mencuat dipermukaan pada dekade awal abad 19, ketika orang Belanda menemukan reruntuhan di komplek percandian Singosari. Salah satu temuan dari reruntuhan itu adalah sebuah arca batu yang sangat indah yang ditemukan di Candi Wayang atau Candi E (menurut laporan-laporan Belanda), sebuah arca dari pantheon agama Buddha Mahayana yaitu Dewi Prajñaparamita. Ketika arca tersebut untuk sementara berada di tempat residen di Malang, Monnerau, Residen Malang waktu itu menghubungkan arca Dewi Prajñaparamita tersebut dengan cerita penduduk tentang Ken Dedes (sumber: Yessy Blom, 1939, “The Antiquites of Singasari”. Terjemahan: Muljadi dan Agus Salim tahun 1976 (FKIS-IKIP Surabaya), red). Dari sinilah dugaan awal timbulnya anggapan bahwa arca Dewi Prajñaparamita adalah portret dari Ken Dedes”, terang Suwardono. Kemudian, Suwardono melanjutkan keterangnnya: “Jauh dikemudian hari di abad 20, kenyataan anggapan ini dibuktikan dengan sering diadakannya suatu kontes yang disebut ‘Pemilihan Putri Ken Dedes’ hampir setiap tahun. Gaung figur kecantikan itu tidak hanya stagnan di kawasan lereng Timur Gunung Kawi, bahkan masyarakat luas (baca: Indonesia) terbawa arus ikut mengakui kecantikan dan kejelitaannya. Usaha pengenalan figur tidak hanya sampai disitu. Pihak Pemkot Malang memberanikan diri membuat sebuah arca tiruan Dewi Prajñaparamitha yang sangat besar. Patung tersebut ditempatkan di tengah taman kota perbatasan antara Kelurahan Polowijen dan Arjosari, sebuah wilayah kelurahan yang  berada di ujung Utara Kota Malang. Penempatan arca tiruan tersebut bukannya tanpa alasan, mengingat Ken Dedes disebutkan berasal dari Panawijen (sekarang Polowijen),” tambah Suwardono. Bahkan, pimpinan produsen alat-alat kecantikan Sari Ayu yang cukup kondang yaitu Dr. Martha Tilaar, juga pernah menjadi salah satu juri “Pemilihan Putri Ken Dedes” pada tahun 1996-an ternyata merupakan penggemar berat sosok Ken Dedes, putri asal Desa Panawijen (kini Polowijen, red) yang melahirkan Raja-raja Majapahit. Paling tidak, setiap kali mendirikan salon atau sekolah kecantikan, selalu menempatkan patung Ken Dedes di depan salon atau sekolah tersebut. Dan Dr. Martha Tilaar punya komentar tersendiri tentang sosoknya. Dikutip dari artikel wawancara yang berjudul “Dr. Martha Tilaar: Putri Ken Dedes Harus Cantik dan Cerdas”, yang dimuat dalam makajalh “Mimbar Malangkucecwara, Edisi Desember 1996, No. 36, Tahun IV”, tahun 1996, pada halaman 76, menjelaskan: “Ken Dedes tidak kalah dengan Cleopatra, Aprodite atau Marlyn Monroe. Bahkan kami telah membuat produk perawatan kecantikan Ken Dedes, yang ternyata banyak diminati para wanita baik di dalam maupun di luar negeri,” kata Dr. Martha Tilaar yang waktu itu diwawancarai di rumah makan Cahyaningrat.

Gambar 03: Pemilihan Putri Ken Dedes pada Tahun 2011
(Sumber Foto: Arif Prasetya, 2011)

Bahkan insprirasi dari sosok Ken Dedes tidak hanya sampai pada event tersebut. Suwardono dalam artikelnya yang sudah disinggung di atas, pada halaman 128, menceritakan: “Sekitar tahun 1999 Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Malang, meluncurkan buku pedoman tata rias pengantin yang diberi judul ‘Malang Keprabon’. Dalam pengemasan busana dan atributnya ternyata pengantin putri berorientasi pada sosok putri Ken  Dedes sebagai Dewi Prajñaparamita, sedangkan pengantin pria berorientasi pada sosok Ken Angrok (tidak diketahui diambil dari figur arca siapa). Sungguh pun ternyata tampilannya masih jauh dari makna sosok yang dimaksudkan. Ditunjang pula dengan bentuk-bentuk ornamentasi lain yang khas yang diambil dari ragam hias percandian yang terdapat di sekitar Malang (terutama Badut, Kidal, dan Jago),” imbuhnya. Kemudian pada halaman 128-129 di artikelnya tersebut, Suwardono menjelaskan dan menyimpulkan: “Sementara itu di lapangan, banyak masyarakat (baik dari Malang maupun dari luar Malang), yang mempercayai bahwa situs patirthan ‘Watu Gede’ yang terletak di sebelah timur setasiun kereta api, Dukuh Sanan, Desa Watugede, Kecamatan Singosari, merupakan bekas sendang atau taman sari sebagai tempat mandi Ken Dedes. Kepercayaan ini membawa kepada sebagian orang, terutama para wanita untuk memburu berkah terhadap air sendang tersebut. Mereka beranggapan bahwa mandi di sendang ‘Watu Gede’ akan awet muda dan bersinar seperti Ken Dedes. Di lain tempat, yaitu di situs ‘Sumur Windu’ atau juga disebut ‘Petilasan Ken Dedes’ yang berada di kawasan pekuburan (pemakaman, red) umum Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Masyarakat sekitar mempercayai bahwa tempat petilasan tersebut adalah sebuah tempat ‘Moksa’ bagi Ken Dedes. Di saat-saat tertentu banyak orang datang ke tempat tersebut guna keperluan yang bermacam-macam. Kasusnya sama seperti yang dikatakan orang sebagai ‘petilasan Joyoboyo’ di Mamenang Kediri. Mencermati semua fakta di atas, begitu kuatnya pengaruh figur Ken Dedes bagi masyarakat Malang (Jawa) terutama kaum wanitanya. Seakan ia adalah lambang kecantikan, kejelitaan, serta kelembutan seorang wanita Jawa. Dari sosok wanita Jawa kuno ini mereka banyak mengambil suri teladan baik fisik maupun psikisnya”, tambahnya.

Dari pembahasan ulasan-ulasan di atas dapat kita simpulkan bahwa sosok seorang Ken Dedes adalah sosok wanita cantik yang ideal secara fisik dan psikis serta menjadi idaman wanita Jawa. Di bawah ini akan diulas lebih jauh lagi tentang kesejarahan sosok Ken Dedes dan citra dirinya. Simak ulasannya!

  1. Latar Historis Sosok Ken Dedes dan Kisah Cintanya dengan Ken Angrok

Data informasi terkait sosok Ken Dedes menurut sejarawan dan arkeolog Malang, yaitu M. Dwi Cahyono, dalam makalahnya yang ditulis tahun 2011 dan dipresentasikan dalam acara “Bedah Sejarah Ken Dedes dalam Rangka Festival Ken Dedes. Polowijen, 8 Oktober 2011” dengan judul “Ken Dedes ‘Stri Nareswari’ Citra Kepribadian Wanita Jawa Kuna”, menyebutkan bahwa setidaknya sampai saat ini sumber data sejarah terkait sosok Ken Dedes terdapat tiga buah sumber. Berikut penjelasannya:

“Sumber data yang pertama adalah sumber data tekstual (tertulis), berbentuk susastra gancaran (prosa) berjudul “Katuturanira Ken Angrok (Tutur tentang Ken Angrok)”. Orang yang berjasa membuat edisi dan publikasi naskah ini adalah J.L.A brandes (1897), dengan judul “Pararaton (Ken Arok) of het Boek de Koningen van Tumapel en van Majapahit” dalam VBG XLIX. Cetakan kedua dengan perbaikan terbit tahun 1920 dalam jurnal yang sama No. LXII. Lantaran adanya publikasi Brandes itu, naskah ini lebih popular dengan sebutan “Pararaton”. Judul mana yang tepat untuk untuk menyebut naskah ini. “Katuturanira Ken Angrok” atau “Pararaton”?. Keduanya bisa digunakan. Judul pertama lebih tepat digunakan untuk paruh pertama naskah ini, adapun judul yang kedua lebih tepat untuk paruh kedua naskah ini. Dasar pertimbangannya, sesungguhnya naskah ini merupakan bundle, yang terdiri atas dua bagian. Masing-masing bagian dengan cakupan isi dan gaya penulisan yang berbeda,” ulas Dwi dalam makalahnya di halaman 1. “Adapun sumber data yang kedua, yaitu sumber data artefaktual (kebendaan), berwujud ikonografis (seni arca). Arca yang dimaksud adalah arca batu kapur keras (lime stone) berbentuk pantheon Mahayana Buddhisme, yang menggambarkan Aditra (istri Adibuddha) dalam aspeknya sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan tertinggi (Prajnaparamita). Para ahli, sejak pada Masa Hindia-Belanda hingga kini, acap mengidentifikasikan arca yang berasal dari Candi Putri di kampung Bungkuk-Singosari ini sebagai arca perwujudan atau arca potret (de portrait beelden) bagi arwah Ken Dedes, yang telah menyatu dengan istadewata (dewa utama) yang dipujanya ketika masih hidup. Oleh karena itu khalayak cenderung menyebut arca ini dengan sebutan “Arca Ken Dedes” daripada Prajnaparamita,” ungkap Dwi dalam makalahnya di halaman 1-2.

Kemudian pada halaman 2, Dwi menjelaskan mengenai sumber data yang terakhir: “Selain kedua sumber data masa lalu tersebut, terdapat juga sumber data tradisi, yakni tradisi lisan, yang berkembang di Kelurahan Polowijen dan daerah sekitar, berkenaan dengan daerah asal dari Ken Dedes beserta peristiwa yang menyertainya. Legenda tentang “Sendang Dedes” atau “Sumur Windu”, legenda “Maling Curing (Maling Anggunored)”, legenda “Watu Knong”, dsb. adalah dongeng lokal yang dikaitkan dengan Ken Dedes. Hal ini memberi petunjuk bahwa Ken Dedes masih ada di dalam ingatan warga hingga kurun waktu yang panjang. Keberadaan Sendang Dedes – sayang kini telah mengering, bahkan tepat di pusat sumbernya didirikan cungkup– dapat dijadikan sumber data ekofaktual untuk mengungkapkan areal permukiman kuno di Polowijen,” kata Dwi.

Gambar 04: Situs Sumur Windu di Dusun Watu Kenong Kelurahan Polowijen
(Sumber Foto: M. Dwi Novianto, 2014)

Berikut ini cuplikan ringkas kisah Pararaton terkait sosok Ken Dedes yang dicuplik dari buku berjudul “Pararaton”, katya terjemahan dari Pitono Hardjowardojo, pada tahun 1965, dari halaman 24-29:

Tersebutlah ada seorang pendeta Buddha aliran Mahayana bernama Mpu Purwa yang memiliki pertapaan di Desa Panawijen (kini Kelurahan Polowijen, red). Beliau memiliki anak yang sangat cantik bernama Ken Dedes. Anak itu lahir sebelum Pu Purwa menjadi pendeta Buddha Mahayana. Kecantikan Ken Dedes tidak ada bandingannya sehingga sangat terkenal mulai dari sebelah timur lereng Gunung Kawi sampai Tumapel. Kemudian penguasa Tumapel (Akuwu) yang bernama Tunggul Ametung mendengar terkait kecantikan Ken Dedes dan pergi menuju Desa Panawijen. Melihat kecantikan Ken Dedes, hati Tunggul Ametung tertarik. Tunggul Ametung lalu melarikan Ken Dedes dengan paksa karena Mpu Purwa tidak berada di tempat. Sepulang dari pertapaan dan tahu anaknya dilarikan orang, maka seketika itu juga Mpu Purwa melontarkan sumpah kutukan yang dahsyat: “Hai orang yang telah melarikan anakku sungguh engkau akan mati tertusuk keris. Demikian juga untuk orang-orang Panawijen keringlah sumurnya dan semoga tidak mengeluarkan air dari kolamnya karena berdosa tidak memberitahukan kepadaku bahwa anakku diperkosa orang”. Demikianlah kata Mpu Purwa. “Sedangkan anakku yang telah mempelajari ilmu untuk menerangi dunia, harapanku semoga dia akan menemui keselamatan dan mendapatkan kebahagiaan besar”. Demikianlah bunyi sumpah pendeta Mahayana di Panawijen. Sesampainya di Tumapel, Ken Dedes diajak bersetubuh oleh Tunggul Ametung hingga hamil pada akhirnya. Ketika masa hamil itu diajaklah Ken Dedes oleh Tunggul Ametung bercengkrama ke Taman Boboji untuk bersuka ria menaiki sebuah kereta. Setibanya di taman, Ken Dedes turun dari kereta, dan kebetulan karena takdir dewa, terbukalah pahanya sampai kebagian intimnya dan tampak bersinar. Terlihatlah oleh Ken Angrok kejadian tersebut, yang pada saat itu Ken Angrok sudah mengabdi kepada Tunggul Ametung. Seketika itu jatuh cintalah Ken Angrok kepada Ken Dedes. Ketika pulang Ken Angrok berkonsultasi dengan ayah angkatnya yaitu pendeta Lohgawe terkait fenomena cahaya yang dilihat Ken Angrok dari sosok Ken Dedes. Pendeta Lohgawe menjelaskan jika wanita seperti itu disebut dengan “Stri Nareswari”, yaitu wanita utama yang bahkan jika orang hina sekalipun menikah dengannya maka anaknya akan menjadi raja besar. Mendengar hal itu Ken Angrok ingin membunuh Tunggul Ametung dan merebut istrinya. Pendeta Lohgawe mempersilahkan keinginan Ken Angrok tetapi tidak bisa merestui keinginannya karena ia seorang pendeta. Kemudian Ken Angrok pergi ke Desa Karuman untuk bertemu ayah angkatnya yang lain yaitu seorang bandar judi yang bernama Bango Samparan. Sesampainya di Desa Karuman Ken Angrok menceritakan bahwa ia ingin membunuh Tunggul Ametung dan merebut istrinya. Karena istri Tunggul Ametung itu termasuk golongan “Ardhanareswari” yaitu golongan wanita yang utama, karena barang siapa yang menikahinya akan menjadi raja besar. Dan karena hal itulah Ken Angrok ingin menjadi raja besar. Bango Samparan kemudian mengamini keinginan Ken Angrok dan menyarankan untuk memesan keris sakti guna membunuh Tunggul Amtung di sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari Desa Lulumbang. Kemudian Ken Angrok memesan keris di Mpu Gandring serta memberikan jangka waktu lima bulan saja. Setelah lima bulan Ken Angrok datang untuk menagih keris pesanannya tersebut. Ternyata keris tersebut baru setengah jadi, sehingga marahlah Ken Angrok. Kersi itu diambil dan ditusukkan kepada Mpu Gandring. Sebelum tewas Mpu Gandring bersumpah bahwa kelak Ken Angrok akan mati tertusuk keris tersebut begitu juga dengan anak cucunya sehingga tujuh orang raja akan mati tertusuk keris tersebut. Maka menyesallah hati Ken Angrok. Dia berjanji kelak ketika akan menjadi raja akan membahagiakan anak cucu Mpu Gandring beserta para pandai besi di Desa Lulumbang. Kemudian setelah itu Ken Angrok segera bergegas pergi ke Tumapel. Sesampai di sana keris yang dibawa oleh Ken Angrok itu menarik perhatian Kebo Ijo, orang kepercayaan Tunggul Ametung yang bersahabat baik dengan Ken Angrok. Kebo Ijo kemudian meminjam keris bersarung kayu pohon cangkring yang masih ada durinya itu dari Ken Angrok kemudian memamerkan keris itu kepada orang-orang Tumapel seakan-akan keris itu adalah miliknya. Pada suatu malam Ken Angrok mencuri keris tersebut dari tangan Kebo Ijo kemudian masuk ke kamar Tunggul Ametung. Tunggul Ametung yang sedang tertidur lelap pun tewas tertusuk keris itu sampai ke jantungnya. Keesokan harinya orang-orang Tumapel kaget dan gempar melihat Tunggul Ametung tewas. Setelah diamati bahwa keris yang tertancap di dada Tunggul Ametung itu adalah keris yang sering dibawa oleh Kebo Ijo, maka ditangkaplah Kebo Ijo oleh sanak-keluarga Tunggul Ametung dan ditusuklah Kebo Ijo dengan dengan keris Mpu Gandring tersebut hingga tewas. Mahisa Rindi anak Kebo Ijo yang melihat ayahnya terbunuh, langsung menangis. Ken Angrok yang merasa kasihan kemudian mengangkat Mahisa Rindi sebagai anak angkat Ken Angrok. Sesuai kehendak takdir para dewa, menikahlah Ken Angrok dengan Ken Dedes. Sudah lama mereka saling mencintai. Tidak ada orang Tumapel yang berani berkata atau menegur tingkah laku Ken Angrok. Demikian juga dengan sanak keluarga Tunggul Ametung diam tidak ada yang berani berkomentar. Ketika menikah dengan Ken Angrok, Ken Dedes telah hamil tiga bulan dengan Tunggul Ametung. Mereka bedua saling mencintai satu sama lain. Ketika genap bulannya lahirlah anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung itu, yaitu anak laki-laki yang diberi nama “Anusapati”, yang nama sebutannya adalah “Panji Anengah”. Kemudian, lahirlah anak Ken Angrok dan Ken Dedes sebanyak empat orang. Tiga orang yang laki-laki yaitu Mahisa Wong AtelengSang Apanji Saprang, dan Agnibaya, sedangkan yang bungsu adalah seorang perempuan yang bernama Dewi Rumbu. Ken Angrok juga memiliki seorang selir bernama ‘Ken Umang’. Dari Ken Umang, Ken Angrok juga mendapatkan empat orang anak, yaitu terdiri dari tiga orang laki-laki yang bernamaPanji TohjayaPanji SudhatuTuan Wregola, sedang yang bungsu adalah seorang perempuan yang bernama Dewi Rambi. Dengan demikian seluruh anak Ken Angrok berjumlah sembilan yang terdiri dari tujuh laki-laki dan dua perempuan. Demikianlah akhirnya Ken Angrok menjadi penguasa Tumapel dan seluruh orang di sebelah bagian timur Gunung Kawi takut dengannya …”

Selain terkait sumber data sejarah berupa naskah sastra pada Serat Pararaton yang sudah dicuplik di atas terdapat sumber data sejarah lain yaitu sumber data lisan berupa cerita rakyat Polowijen yang bernama “Joko Lulo dan Putri Ndedes”. Sejarawan Malang, Suwardono, telah menulis kisah cerita rakyat itu dalam bukunya yang berjudul “Mutiara Budaya Polowijen Dalam Makna Kajian Sejarah, Cerita Rakyat, dan Nilai Tradisi”, pada tahun 2005, di halaman 48-50. Berikut ini adalah ulasan kisahnya: