Asal-usul Nama di Malang Raya (12)

Mengenal Ploso, Pohon Sakral yang Diyakini Mendekatkan Jodoh

Mengenal Ploso, Pohon Sakral yang Diyakini Mendekatkan Jodoh

Gambar 01: Foto Pohon Ploso Saat Bersemi (Sumber Foto: Santapau, 2010)

Mulai beberapa edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran yang dilakukan jurnalis aremamedia.com, Devan Firmansyah sekaligus pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya. Untuk tulisan kali ini, Devan dibantu tim komunitas Jejalah Jejak Malang (JJM).

Nama Ploso digunakan menjadi nama salah satu kecamatan di Malang yaitu Kecamatan Karang Ploso. Di beberapa tempat juga banyak yang menggunakan nama Ploso sebagai desa atau daerah. Nama tersebut diambil dari sebuah tumbuhan/pohon yaitu pohon “ploso”. Banyak orang tidak banyak yang mengetahui pohon ploso ini. Dalam buku “Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan”, tahun 2017, pada halaman 333, karya Iman Budhi Santosa, dijelaskan, pohon Ploso, atau plasa, atau palasa (Bute Monosperma) sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak masa lalu, khususnya mereka yang tinggal di perdesaan atau dekat hutan. Karena pohon ini banyak tumbuh secara alami di padang rumput terbuka dan hutan-hutan campuran di bagian timur pulau Jawa hingga ketinggian 1.500 m dpl. Batang, pohon plasa relatif kecil, sering bengkok, dan tingginya hanya 5-12 m. Di musim kemarau pohon plasa mengalami gugur dan seperti pohon jati. Bunga plasa terhitung indah dan menghasilkan bahan pewarna yang disebut butein. dahulu sering dipakai untuk mewarna sutera dan kain baju. Pohon plasa menghasilkan getah namanya gom yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna, bahan penyamak, serta pengobatan tradisional, misalnya untuk mengobati diare. Sedangkan minyak biji plasa dimanfaatkan sebagai obat cacingan. Daun mudanya setelah ditumbuk dapat digunakan untuk mengatasi sengatan kalajengking, Bunganya dipakai untuk mengatasi gangguan pada hati.

Gambar 02: Bunga Ploso terlihatdari dekat (Sumber Foto: Santapau, 2010)

Tanaman ini boleh dibilang tanaman sakral di India bagi golongan kaum Hindu-Buddha. Menurut legenda Hindu, tanaman palasa merupakan wujud Dewa Agni atau Dewa Api. Di wilayah Telangana, India, bunga-bunga palasa/ploso digunakan untuk menyembah Dewa Śiwa pada saat hari besar Śhivaratri. Sementara di Daerah Kerala tanaman ini disebut dengan nama Plasu dan Chamata (Bahasa Sansekerta: Samidha), yaitu potongan kayu kecil yang digunakan untuk Agnihotra (ritual api). Di Telugu, pohon ini disebut Modugu chettu. Banyak ditemukan di sebagian besar rumah-rumah tua Namboodiri (Kerala Brahmin) digunakan untuk ritual api. Kulit pohon plasa merupakan komponen utama upacara agnihotra, dan ritual ini sangat penting bagi Brahmacharis selama tahun pertama Brahmacharya. Cabang pohon palasa dipangkas oleh imam Adhvaryu yang melakukan pengorbanan, sehari sebelum bulan purnama. Sedangkan menurut Kitab Vamana Purana, tanaman pohon palasa (jenis Butea frondosa) berasal dari sisi kanan Dewa Yama. Kemudian dalam kepercayaan Buddha aliran Theravada disebutkan bahwa Pohon Plasa berhubungan dengan pencerahan sang Buddha Medhankara, yaitu Buddha terdahulu sebelum Buddha Gautama (Sumber: wwww.jamuin.com, diakses pada 26/11/2018:08:06 WIB).

Untuk pemanfaatannya ternyata daun pohon ini dapat digunakan untuk pembungkus makanan. Menurut informasi dari Beri dalam di laman “Tape Godong Ploso” khas Blora, tahun 2016 (diakses dari www.abbeart.blogspot.com, pada 26/11/2018:08:06 WIB) ia menjelaskan, pembungkus makanan tradisional pada umumnya banyak menggunakan daun. Daun pisang merupakan daun yang banyak dipakai di kalangan masyarakat Jawa sehingga banyak ditemukan makanan Jawa yang menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanannya. Dari makanan bugis, nogo sari, hingga arem-arem semua menggunakan pembungkus daun pisang. Tak heran daun pisang menjadi pembungkus massal karena daunnya yang sangat lebar dan aman digunakan. Di daerah Jawa juga tidak sulit ditumbuhi dengan tanaman pisang. Tetapi untuk daerah Blora, bungkus makanan dapat menggunakan daun ploso. Tape “godong ploso” merupakan tape khas daerah Blora yang mana pembungkusnya menggunakan daun ploso.

Menurut cerita rakyat, terkait daun ini sebagai pembungkus tape, konon pada zaman dahulu ada seseorang yang melihat pohon ploso, ia melihat daunnya hijau-hijau indah dan segar, Ia kemudian berkata, “Godongne kok ayu-ayu”. (daunnya kok cantik-cantik). Seseorang yang lain menjawab, “Iyo, nggo bungkus tape gen ndang cetak jodone”. (Iya, untuk bungkus tape biar dekat jodohnya). Akhirnya daun ploso sejak saat itu digunakan sebagai bungkus tape ketan di Blora. Pada zaman dahulu seluruh masyarakat Blora ketika sedang mengadakan acara dan membuat tape selalu menggunakan daun ploso sebagai pembungkusnya. Biasanya tape ini dijadikan satu tangkainya kemudian dipikul menggunakan bambu. Namun sekarang sudah jarang ditemukan. Kalau pun ada hanya di daerah pedesaan yang jauh dari Kota Blora.

Gambar 03: Tape Daun Ploso di Blora, Jawa Tengah
(Sumber Foto: Fransica Wungu, 2013)

Menurut salah satu masyarakat Blora, penggunaan daun ploso merupakan “coro nggunung” atau caranya orang-orang daerah pegunungan, Memang pada umumnya orang di pegunungan menggunakan cara seperti itu. Dalam hal ini orang daerah pegunungan masih dianggap sebagai orang terpencil atau masih sangat desa. Sehingga masyarakat Blora yang sudah agak modern tidak lagi menggunakan daun ploso sebagai pembungkus makanan. Memang, pada zaman dahulu hampir di seluruh daerah Blora orang-orang menggunakan daun ploso ini sebagai pembungkus makanan sehingga di setiap daerah di Blora orang-orang mengetahuinya. Namun seiring perkembangan zaman penggunaan daun ploso ini jarang ditemukan, jika ada hanya pada masyarakat pedesaan saja. Tidak hanya dari faktor perkembangan zaman saja, selain itu daun Ploso hanya bisa didapatkan di hutan.

Pertumbuhan pohon ploso tidak sebanyak pada zaman dahulu, sehingga pada masa sekarang jika orang ingin menggunakan daun loso sebagai pembungkus makanan harus mencari di hutan. Tidak berada di dalam hutan, di pinggir jalan pada daerah pedesaanpun masih ditemukan pohon ploso. Hanya saja pohon ini tidak serindang pohon Ploso yang dimaksud masyarakat zaman dulu. Untuk mendapatkan daun Ploso yang bagus yakni pohon yang tumbuh subur di dalam hutan sebab daunnya besar-besar dan lebar-lebar. Meskipun di Blora banyak daun jati, kebanyakan daun jati tidak digunakan sebagai pembungkus jajanan. Orang-orang Blora mengatakan masing-masing daun memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Daun jati biasa digunakan untuk membungkus nasi yang ditujukan pada saat orang meninggal, sehingga tidak baik jika membungkus tape ketan atau jajanan lain menggunakan daun jati, orang akan menyangka mendoakan meninggal. Sedangkan daun ploso sendiri memiliki makna agar cepat mendapatkan jodoh. Hal ini ditangkap dari makna simbolis daun ploso yang mana daunnya hijau-hijau segar terlihat ayu (cantik). (*)

Pewarta : Devan Firmansyah

Editor : Noordin Djihad