Menelusuri Sejarah Kebun Teh Wonosari dengan Warna-warni ‘Orang Petik’

Menelusuri Sejarah Kebun Teh Wonosari dengan Warna-warni ‘Orang Petik’

Gambar 01: Suasana Kebun Teh Wonosari (Sumber Foto: Fasrinisyah, 2017)

MALANG – Kebun Teh Wonosari…hmmm pasti banyak yang tahu meski belum tentu pernah ke sana. Kebun teh ini adalah salah satu dari sekian banyak agro wisata terkenal di wilayah Malang Raya. Terletak sekitar 6 km dari wilayah Lawang atau 30 km Utara Kota Malang, Kebun Teh Wonosari berada pada ketinggian antara 950-1.250 MDPL. Karena itu  tidak hanya menyajikan panorama yang indah namun juga hawa sejuk layaknya angin di pegunungan.

Kebun Teh Wonosari sendiri terbagi menjadi tiga sub area, yaitu Kebun Wonosari, Kebun Raden Agung, dan Kebun Gebug Lor. Kebun teh yang memiliki luas area sekitar 1.144 hektar (Ha) ini merupakan kebun teh pertama di Jawa Timur dan kemudian dijadikan tempat wisata. Di lokasi wisata ini, kita tidak hanya bisa menikmati hijaunya kebun teh yang terhampar indah, namun juga dapat mencoba beberapa fasilitas wisata seperti flying fox, berkuda, wall climb, paint ball dan fasilitas-fasilitas lainnya. Dibuka untuk umum pada pukul 07.00- 17.00 WIB dengan membeli tiket Senin-Sabtu Rp.10.000, sementara pada hari Minggu dan hari libur nasional adalah Rp. 15.000 per orang. Secara administratif wilayah dari kebun teh ini berada di Dusun Wonosari, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. namun pintu masuk utamanya berada di wilayah Dusun Tegalrejo, Desa Ketindan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Gambar 02: Para Pemetik Teh di Kebun Teh Wonosari
(Sumber Foto: Fhaza Pranaja, 2012)

Kebun Teh Wonosari memiliki sejarah yang panjang. Dalam riset dua Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Jember (UNEJ), Habiba Nur Imama dan Parwata, yang berjudul “Dampak Ekonomi Perkebunan Teh Wonosari Terhadap Masyarakat Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang Tahun 1996-2012”, yang dimuat dalam Jurnal “Publika Budaya, Volume 2, No. 2, Juli 2014”, menjelaskan sejarah perkebunan ini. “Perkebunan teh yang pertama kali di Indonesia bukanlah perkebunan yang diusahakan oleh bangsa Indonesia melainkan dikenalkan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Upaya bangsa Indonesia untuk mengadopsi dan mengembangkan tanaman perkebunan ini, ternyata memerlukan waktu yang cukup lama. Berbagai bentuk dan corak yang mewarnai perkebunan-perkebunan di Indonesia saat ini masih menampakkan kondisi masa lampau. Hal ini dapat dilihat, masyarakat perkebunan seolah-olah menjadi masyarakat yang sudah terpola pada kondisi dan lingkungan yang mencirikan aspek sosial budaya dan ekonomi sekitar daerah perkebunan. Perkembangan lebih lanjut adalah penyebaran tanaman teh di Jawa. Pada permulaan abad ke 19 mulai ada titik terang dalam pengenalan tanaman teh sebagai tanaman perkebunan. Seorang ahli bedah dari Jerman diperintahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk mengirim beberapa tanaman Jepang ke Hindia Belanda. Perintah resmi tersebut disertai dengan bukti tertulis Surat Keputusan Gubernur Tanggal 10 Juni 1824 No. 6. Tindakan ini dapat dianggap sebagai langkah awal pengenalan tanaman teh. Menurut beberapa sumber penulisan mengenai perkebunan teh, tahun 1824 tetap dicatat sebagai awal dimulainya pengenalan tanaman teh di Jawa. Pendelegasian Pemerintah Van Siebold dianggap sebagai tindakan pertama yang mendasari perkembangan budidaya teh di Indonesia,” terang Habiba dan Parwata pada halaman 13. Kemudian Habibda dan Parwata pada halaman 13 melanjutkan penjelasannya: “Dalam pelaksanaan cultuurstelsel dibawah penguasa Gubernur Van Den Bosh, tanaman teh termasuk budidaya yang relatif baru dicoba oleh Pemerintah Hindia Belanda. Budidaya teh di tengah pelaksanaan tanam paksa ini merupakan tanaman yang belum diusahakan secara besar-besaran. Daerah yang mula-mula mengadakan percobaan meliputi: Banten, Priangan, Krawang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Serang, Jepara, Besuki, Banyumas, Bagelen, Kedu, dan Surabaya. Selain di wilayah-wilayah tersebut perkebunan teh juga terdapat di Kabupaten Malang Kecamatan Singosari Desa Toyomarto Dusun Wonosari. Dalam buku “Selayang pandang Kebun Teh Wonosari Tahun 1996-2010”, tahun 2010, karya PTPN XII Perkebunan Blawan, menjelaskan Keberadaan Perkebunan Teh Wonosari dirintis oleh NV. Cultuur Maatschappy yaitu perusahaan asing asal Belanda. Perkebunan inipertama kali dibuka pada tahun 1875 sampai 1919. Pada tahun 1910 sampai dengan 1942 perkebunan ini ditanami teh dan kina. Kemudian memasuki tahun 1942-1945 sejak Pemerintah Jepang berkuasa sebagian tanaman perkebunan diganti dengan tanaman pangan. Misalnya, gandum, kacang-kacangan, dan ubi-ubian.Memasuki tahun 1945 Perkebunan Teh Wonosari diambil alih oleh Negara dengan nama Pusat Perkebunan Negara (PPN). Pada tahun 1950 tanaman kina diganti dengan tanaman teh. Pada tahun 1957 Perkebunan Teh Wonosari masuk Pusat Perkebunan Negara (PPN) Kesatuan Jawa Timur. Pada tahun 1963 perkebunan ini masuk Pusat Perkebunan Negara (PPN) Aneka Tanaman. Kemudian pada tahun 1968 perkebunan Teh Wonosari masuk PNP XXIII dan pada tahun 1972 perkebunan ini masuk PT.Perkebunan XXIII (Persero). Pada tahun 1995 masuk PTP. Group Jawa Timur,” terang mereka berdua.

Gambar 03: Papan Plang Berbahasa Belanda-Indonesia di Kebun Teh Wonosari
(Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

“Akhirnya pada tahun 1996 perkebunan teh Wonosari ini dikelola oleh PTP Nusantara XII yang didirikan berdasarkan PP nomor 17 tahun 1996, dituangkan dalam akte notaris Harun Kamil, SH nomor 45 tanggal 11 Maret 1996 dan disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan SK nomor C.2-8340 HT.01.01 tanggal 8 Agustus 1996. Perkebunan teh Wonosari memilki ketinggian sekitar 950 sampai 1.250 m dpl. Kondisi cuaca perkebunan pada siang hari suhunya mencapai 19-26 Celcius dan pada malam hari tempeatur udara di perkebunan ini mencapai 17-21 Celcius. Kelembapan udara pada perkebunan teh Wonosari 70 sampai 90 persen. Tipe iklim di perkebunan ini merupakan iklim B ke C. Perkebunan Teh Wonosari di Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang terdiri dari tiga afdeling yaitu afdeling Wonosari, afdeling Randu Agung dan afdeling Gubug Utara (Gubug Lor, red). Usaha yang dihasilkan oleh perkebunan ini selain teh yang luasnya sekitar 526,72 Ha juga terdapat jenis budidaya lainnya antara lain: kapuk yang luasnya 382,00 Ha, aneka kayu yang memiliki luas 142,82 Ha dan pada perkebunan teh Wonosari tersebut terdapat agro wisata dengan luas 70,40 Ha. Karena dengan adanya perkebunan serta tempat wisata yang tersedia dapat membawa pengaruh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambah Habiba dan Parwata di halaman 13-14.

Gambar 04: Penulis Berada di Komplek Tanaman Teh Tertua yang Ditanam Tahun 1910
(Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

Sementara itu mahasiswa dan dosen Universitas Kristen Petra, Lina Winata, Hartono Karnadi dan Yusuf Hendra Yulianto, dalam riset mereka yang dituang dalam artikel “Perancangan Fotografi Konseptual Romantisme Pedesaan di Kebun The Lawang tahun 1950” yang dimuat dalam “Jurnal DKV Adiwarna, Vol. 1, No. 2, Tahun 2013”, pada halaman 1 menjelaskan: “Kebun Teh Wonosari terletak di Desa Toyomarto Kecamatan Singosari, Kabupaten Daerah Tingkat II Malang dan berada di jalan poros Surabaya-Malang. Lokasi Kebun Teh Wonosari tepatnya berjarak 6 km dari kota Lawang, 30 km dari kota Malang, dan 80 km dari kota Surabaya. Kebun Teh Wonosari Lawang terletak pada ketinggian 950-1.250 meter dari permukaan laut, dengan pabriknya yang berada pada ketinggian 950 meter menurut komoditinya, terbagi menjadi dua yaitu: (1) Kebun Wonosari Lawang dengan budidaya teh (2) Afdeling Randu Agung dan Gebug Utara, dengan budidaya randu/kapuk, sirsak dan mangga. Kebun dan Pabrik Teh Wonosari merupakan agrobisnis dan agrowisata yang sangat membantu negara dalam ekspor produk jadi dan dapat menambah devisa negara. Tempat PTPN XII yangberada di bawah lereng Gunung Arjuna memiliki tempat yang sangat cocok untuk memproduksi teh terbaik yang dapat bersaing dengan teh terbaik dunia. Selain memproduksi teh, PTPN XII Wonosari juga memproduksi kopi, kakao, dan karet. Selain komoditi di atas, PTPN XII (Persero) juga membudidayakan kayu dan tanaman semusim lainnya. Kebun Teh Wonosari mempunyai daerah iklim tipe C, yakni setiap tahunnya hujan turun sekitar bulan November-April dan musim kemarau pada bulan Juli-September. Pada malam hari di perkebunan tersebut anginnya bertiup cukup kencang dan hawanya dingin karena terletak di lereng Gunung Arjuna”, tulis mereka dalam artikelnya tersebut.

Gambar 05: Papan Monumen Penanaman Teh Tahun 1910 bagian Bahasa Belanda
(Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

          Kemudian Lina Winata, Hartono Karnadi dan Yusuf Hendra Yulianto, dalam artikelnya di halaman 2 tersebut, membuat pembabakan sejarah perkebunan  teh Wonosari dari masa ke masa yang akan penulis sampaikan dalam tabel supata memudahkan pemahaman sebagai berikut:

Tabel 01: Pembabakan Sejarah Kebun Teh Wonosari

No. Tahun Kejadian
1. Tahun 1875-1910 Dibuka oleh Perusahaan asing dari Belanda yaitu NV.Cultur Maatschappy yang berada di Desa Toyomarto

Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

2. Tahun 1910-1942 Kawasan tersebut ditanami teh dan kina oleh Belanda.
3. Tahun 1942-Awal 1945 Pada masa panjajahan Jepang dan masa sebelum terjadi kemerdekaan, sebagian tanaman teh diganti untuk penanaman bahan pangan, seperti ubi, singkong, dan lain-lain.
4. Tahun 1945 Terjadi nasionalisasi pada masa kemerdekaan dan Kebun Teh Wonosari di ambil alih oleh Negara RI dengan nama Pusat Perkebunan Negara.
5. Tahun 1950 Pasca kemerdekaan, Tanaman kina diganti menjadi tanaman teh.
6. Tahun 1957 Kebun Teh Wonosari menjadi anggota PPN Kesatuan Jawa Timur.
7. Tahun 1963 Kebun Teh Wonosari menjadi bagian Anggota PPN Aneka Tanaman
8. Tahun 1968 Kebun Teh Wonosari dijadikan bagian dari PNP XXIII.

(Sumber Data: Lina Winata, dkk, 2013 | Tabel Oleh: Devan Firmansyah, 2018)

Kemudian Lina Winata, dkk dalam artikelnya di halaman 2 tersebut melanjutkan penjelasannya: “Penduduk yang tinggal di lokasi Kebun Teh juga merupakan para karyawan yang bekerja pada PTPN XII, baik yang bekerja di bagian Administrasi, penginapan, maupun yang bekerja di pabrik. Disediakan khusus pada lokasi tersebut, tempat tinggal bagi para istri karyawan yang bekerja di perkebunan tersebut, dan sebagian terlibat dalam kegiatan PKK yang diadakan bersama. Kegiatan positif ini juga menunjang kelestarian alam. Toleransi yang terjalin antarumat beragama cukup baik. Bila diamati secara seksama, kehidupan dan aktivitas serta keterlibatan mereka yang saling gotong royong dan membantu, itu juga termasuk salah satu daya tarik wisata tersebut.  Kebun Teh Wonosari memiliki banyak potensi yang menjadi daya tarik minat para wisatawan untuk datang ke tempat ini, salah satunya adalah untuk bernostalgia. Hal ini memiliki keterkaitan dengan masa lalu bangsa Indonesia yang pernah dijajah oleh Belanda. Karena itulah terkadang wisatawan asing dari Belanda datang ke lokasi tersebut. Mereka mempunyai banyak kenangan yang pernah ada dan kini masih tertinggal disana. Ada ayah, ibu, kakek atau neneknya yang pernah tinggal atau bekerja di sekitar lokasi perkebunan. Bisa juga hanya menceritakan pada keturunannya, sehingga lokasi tersebut memiliki nilai nostalgia tersendiri bagi mereka”, terang mereka.

Gambar 06: Papan Monumen Penanaman Teh Tahun 1910 bagian Bahasa Indonesia
(Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

“Dari wawancara dengan para karyawan perkebunan, didapatkan informasi bahwa pasangan suami istri sebagai penduduk di daerah sana dahulunya adalah “orang petik”. Disebut dengan “orang petik” adalah para petani teh yang bekerja di perkebunan untuk mengumpulkan pucuk-pucuk daun teh yang akan diolah menjadi teh yang banyak dikonsumsi saat ini. Petani teh yang bekerja di sana tidak hanya kaum hawa saja, banyak juga pria yang bekerja sebagai petani teh, karena itu disebut “orang petik”. Sedangkan para suami yang saat ini bekerja di pabrik, dahulunya adalah mandor, buruh, dan pekerja-pekerja lainnya. Setiap harinya, para mandor, buruh, dan “orang petik” bekerja pada area yang sama sehingga besar kemungkinan antara pria dan wanita untuk saling mengenal. Berbeda dengan yang sudah berada di bagian pabrik. Sering kali bapak-bapak mandor menggoda gadis-gadis pemetik teh yang sedang bekerja, sampai benar-benar terjalin asmara di antara mereka. Kehidupan yang terjalin di sana sangat kental kesederhanaannya, walaupun mereka bukan orang kaya, mereka lebih mengutamakan keluarga, putra putri yang berbakti pada orang tua dan kesehatan bersama,” tulis Lina Winta, dkk di halaman 2, sekaligus mengakhiri ulasan sejarah Kebun Teh Wonosari.

Gambar 07: Monumen Peringatan 100 Tahun (1910-2010) Kebun Teh Wonosari
(Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

Sebagai penutup Habiba Nur Imama dan Parwata dalam artikel mereka yang sudah disinggung di atas, yang berjudul “Dampak Ekonomi Perkebunan Teh Wonosari Terhadap Masyarakat Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang Tahun 1996-2012”, tahun 2014, halaman 14, menjelaskan: “Mengenai hasil produksi dari perkebunan Teh Wonosari yang terkenal dengan sebutan teh hitam (black tea) tersebut terdapat bermacam-macam mutu teh antara lain yaitu mutu BP 1, PF 1, PD, D 1, D 2, dan mutu D 3. Dalam proses pengemasan hasil teh juga berbeda-beda sesuai dengan mutu yang ada yaitu golongan mutu BP 1 dikemas dengan berat sekitar 52 kg, mutu PF1 masing-masing kemasan beratnya sekitar 55 kg, mutu PD perkemasan beratnya 60 kg, mutu D 1 dalam masing-masing kemasan beratnya sekitar 65,7 kg, mutu D 2 masing-masing kemasan beratnya sekitar 65 kg serta untuk golongan mutu D 3 masing-masing kemasan beratnya sekitar 53,7 kg. Hasil dari produksi perkebunan Teh Wonosari Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang ini yang yang terkenal dengan penghasil teh hitam (black tea) sebanyak 80 persen dari produk teh ini diekspor ke luar negeri antara lain Belanda, Jepang dan lain-lain karena di sana begitu banyak peminatnya yang menyukai produk teh hitam. Berawal dari pemetikan daun teh roda perekonomian perkebunan teh Wonosari Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang berputar. Pemetikan daun teh pada umumnya dilakukan oleh pekerja-pekerja wanita. Di perkebunan negara, mereka kebanyakan termasuk pekerja harian tetap dan bertempat tinggal di perumahan yang disediakan oleh perusahaan. Tetapi mayoritas para buruh petik tergolong karyawan lepas atau musiman. Mekanisme pengolahan teh dimulai dengan pekerjaan pemetikan di kebun. Para pemetik biasanya telah mempunyai bagian-bagian yang harus dikerjakan. Seorang pemetik mempunyai wilayah kerja sekitar 400 m². Pemetikan kadang-kadang dimulai sejak dini hari dan berakhir menjelang sore. Pengelompokan jumlah tenaga kerja perkebunan dibagi dalam dua golongan tenaga kerja yaitu karyawan harian tetap perkebunan dan karyawan harian lepas perkebunan. Selain adanya dua golongan karyawan juga terdapat karyawan MBT (Masa Bebas Tugas)”, terang mereka.

Kini Kebun Teh Wonosari yang penuh dengan sejarah tersebut telah menjadi salah satu urat nadi penting pendapatan masyarakat Kabupaten Malang terutama bagi penduduk dari area Kecamatan Singosari dan Kecamatan Lawang. Pendapatan tersebut mencangkup sektor perkebunan dan pariwisata. Kebun teh peninggalan Belanda tersebut kini semakin menyesuaikan zaman dengan banyaknya sarana prasarana penunjang yang futuristik atau kekinian.

Gambar 08: Rolas The dan Coffea Produk Kebun Teh Wonosari
(Sumber Foto: Fhaza Pranaja, 2012)

 

 

Pewarta: Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Pewarta Foto :Febby Soesilo (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Editor : Noordin Djihad