Heritage Edisi Ramadan (1)

Menelusuri Jejak Mbah Honggo, Tokoh Penyebar Islam yang Makamnya di Talun

Menelusuri Jejak Mbah Honggo, Tokoh Penyebar Islam yang Makamnya di Talun

Warga antusias mendengarkan kesejarahan tokoh Mbah Honggo (Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

Ramadan tiba. Beberapa laporan tentang keislaman pada zaman dulu akan menghiasi semarak Ramadan. Kali pertama, menelusuri Talun sebagai bagian dari sejarah Kota Malang ternyata dulu pernah menjadi pusat penyebaran Islam dengan Mbah Honggo sebagai tokohnya. Tapi siapa sebenarnya Mbah Honggo yang makamnya menjadi punden di tengah perkampungan padat? Dari mana asalnya serta bagaimana kiprahnya dalam penyebaran IslamDua jurnalis aremamedia.com yang juga anggota komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang (JJJM),Devan Firmansyah dan Febby Soesilo, menguak sosok Mbah Honggo saat pembukaan Kampung Heritage Kayutangan bulan lalu.

  1. Makam sebagai Bukti Pusat Penyebaran Islam di Kota Malang

Warga Antusias Mendengarkan Kesejarahan Tokoh Mbah Honggo
(Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

Untuk mengetahui bukti kesejarahan Talun pada masa Islam, dapat kita lihat dengan adanya kompleks makam kuno yang menjadi punden di daerah Talun dan secara wilayah administratif terletak di RW 09 Kelurahan Kauman. Makam-makam ini terletak di atas gundukan tanah yang lebih tinggi (sekitar 3 meter) dari permukaan tanah sekitarnya. Makam ini dapat dilewati dariberbagai arah. Bisa melalui gang di Jl. A.R. Hakim (Talun Es), atau Jl. Basuki Rakhmat Gang IV yang tidak jauh dari pasar Talun. Bisa juga melalui Jl. Simpang Arjuna kemudian lurus saja ke Jl. Dorowati sampai ketemu pos kamling berwarna hijau kemudian di kejauhan akan terlihat pohon besar. Dari pos kamling tersebut turun ke anak tangga melewati kanal/sungai kecil kemudian ikuti jalan saja. Sesampai kompleks makam, akan kita temui setidaknya terdapat tujuh makam. Salah satu makam tersebut, yang paling dikenal warga sekitar adalah ‘Makam Mbah Honggo’ yang di nisannya tertulis ‘Pangeran Honggo Koesoemo’.

Menurut Sejawaran M. Dwi Cahyono dalam bukunya “Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang”, tahun 2013, halaman 184, berdasarkan keterangan warga sekitar, Mbah Honggo adalah guru rohani keluarga Bupati Malang yang pertama. Kemudian dalam keterangan lain, yaitu dari Dwi Cahyono, pemilik Museum Panji dan Museum Malang Tempo Doeloe, dalam bukunya “Malang Telusuri Dengan Hati”, tahun 2007, halaman 73, dijelaskan panjang lebar tokoh Mbah Honggo ini dan tokoh-tokoh yang dimakamkan di sekitarnya.

“Mbah Honggo alias Pangeran Honggo Koesoemo dan Pangeran Soerohadi Merto alias Kyai Ageng Peroet yang dimakamkan di sampingnya, adalah keturunan langsung trah Majapahit. Dalam buku leluhur R. Koesnohadipranoto (Comptabel Ambtenaar) dan Serat Kekancingan Kasunan Surokartohadiningrat No: 43/15/II 3 Feb 1933, turunan R.B. Soeprapto, disebutkan,: Makam pertama adalah Kandjeng Pangeran Soero Adimerto (Kyai Ageng Peroet) dan yang kedua adalah Pangeran Honggo Koesoemo (Mbah Honggo). Bagaimana makam keturunan Majapahit bisa berada di sini? Tahun 1518 dan 1521 pada masa pemerintahan Adipati Unus dari kerajaan Demak, menyerang Majapahit masa pemerintahan Prabu Brawijaya (Bhre Pandan-Salas, Singhawikramawardhana). Serangan pasukan Demak memaksa seluruh keluarga mundur ke Sengguruh yang selanjutnya mengungsi ke pulau Bali. Sementara itu Prabu Brawijaya mempunyai putra bernama ‘Batoro Katong’ yang melarikan diri ke Ponorogo tahun 1535 dan menjadi Adipati Ponorogo,” ujar Dwi dalam bukunya.                                          “Beberapa keturunan selanjutnya, Kandjeng Pangeran Soero Adiningrat masih menjabat sebagai Adipati Ponorogo, mempunyai putra Kandjeng Soero Adimerto (makam yang pertama) yang hidup pada masa perjuangan Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro, putra Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kandjeng Susuhunan Pakubuwana I tahun 1825. Setelah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal De Kock di Magelang tanggal 28 Maret 1830, semua Senopati (panglima perang) berpencar ke seluruh Jawa Timur dengan menggunakan nama-nama samaran yang bertujuan menghilangkan jejak terhadap Belanda. Pangeran Soero Adimerto berganti nama Kyai Ageng Peroet, pangeran Honggo Koesoemo menjadi Mbah Onggo, Ulama Besar Kandjeng Kyai Zakaria II menjadi Mbah Djoego (Gunung Kawi, keturunan langsung dari Pangeran Diponegoro). Sedangkan keturunan di bawahnya, Raden Mas Singowiryo dimakamkan terpisah sekitar 50 meter, disamarkan dan sekarang dikenal masyarakat dengan ‘Kuburan Tandak’. Lokasi makam ini, dahulu komplek besar para sesepuh keturunan Adipati Malang sekaligus komplek makam belakang Masjid Jami,” urai Dwi.

Anggota Pokdarwis Kampung Heritage Kayutangan, Mila Kurniawati  menunjukkan lokasi Makam Tandak. (Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

Untuk situs Makam Tandak, aremamedia.com mendapatkan informasi dari Mila Kurniawati (37) salah seorang dari warga asli setempat yang juga merupakan salah satu anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Heritage Kayutangan. “Meski namanya Makam Tandak, bukan berarti dimakamkan di sini seorang penari tandak, melainkan karena makamnya yang menggunduk agak tinggi itu dulunya bekas panggung untuk tempat menari tandak. Maka dari itu ketika tokoh yang bernama Raden Mas Singowiryo (wafat 1893) dimakamkan di tempat tersebut, oleh warga, situs makam tersebut dinamakan “Makam Tandak,” terangnya.

Kemudian Mila menunjukkan sebuah silsilah yang dimakamkan di situ. “Seperti yang kita lihat di silsilah ini, beliau adalah keturunan Adipati Batara Katong dari Ponorogo, dan di sini tertulis beliau berprofesi sebagai guru ngaji,” ujar Mila sambil menunjukkan silsilah tersebut.

Sebenarnya masih terdapat beberapa makam yang tidak teridentifikasi kesejarahannya di sekitar makam Mbah Honggo akibat meninggalnya juru pelihara (juru kunci,red) makam terakhir dan sang putri penerusnya yang tidak tahu menahu akan kesejarahan makam-makam tersebut. Makam yang tidak teridentifikasi kesejarahannya tersebut, misal makam di luar pagar yang bertulis “R.M. Singodjoyo, LID Kliwon/Penewu”, dan di sampingnya juga ada makam bayi, entah siapa tokoh. Kemudian ada juga kondisi dua makam yang sangat parah tidak jauh dari dari makam bayi tersebut. Makam tersebut ditimbun sampah rongsokan dan amat sangat kotor, kumuh tak terawatt. Kondisi tersebut juga terjadi pada kompleks makam Mbah Honggo pada umumnya. Sampah berserakan dan menumpuk di mana-mana dan kompleks makam sendiri semakin terdesak pemukiman warga. Semoga makam-makam tersebut tetap lestari sebagai bukti kesejarahan Talun pada masa Islam dan sebagai penghargaan terhadap leluhur kita yang saat itu dikenal sebagai ulama besar penyebar agama Islam.

  1. Talun dan Kayutangan di Masa Kolonial: Rumah Namsin Saksi Bisu Masa Kolonial

Dua ahli sejarah arsitektur yaitu Handinoto dan juga Soehargo di dalam bukunya yang berjudul “Perkembangan Kota & Arsitektur Kolonial Belanda di Malang”, tahun 1996, pada halaman 25, menjelaskan: “Pada masa Kolonial saat Belanda menguasai Malang tahun 1767, Talun menjadi salah satu dari daerah penting bagi pemerintahan Belanda sampai tahun 1914. Belanda mendirikan pemukiman Eropa yang terletak di sebelah Barat Daya (Zuidwesten) alun-alun yaitu antara lain masuk wilayah Talun (Taloon/Talon/Taloen), Tongan, Sawahan dan sekitarnya. Selain itu Belanda juga mendirikan pemukiman di wilayah sekitar Kayutangan (Kayoetangan), Oro-oro Dowo, Celaket (Tjelaket), Klojen-Lor (Klodjenlor) dan Rampal. Sedangkan warga pribumi kebanyakan menempati daerah kampung selatan alun-alun yaitu antara lain Kebalen, Tumenggungan (Toemenggoengan), Jodipan (Djodipan), Talun (Talon) dan Klojen-Lor”, ujar keduanya dalam bukunya itu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pertimbangan Belanda menempati wilayah tersebut (dan Talun beserta Kayutangan salah satunya) adalah pertimbangan keamanan, akses jalan/transportasi yang mudah karena dekat dengan jalan kereta api serta nilai strategis ekonomi yang tinggi.

Pengunjung mengunjungi rumah Namsin saat pembukaan Kampung Heritage Kayutangan Pertama
(Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

Salah satu saksi Talun dan Kayutangan pada masa Kolonial adalah “Rumah Namsin”, yang berdiri tersembunyi dibalik pepohonan di dekat dengan gang 4 Jl. Basuki Rahmad. Menurut Yehezkiel Jefferson (17) ahli waris rumah tersebut menyebutkan “Rumah Namsin ini terletak di Jl. Basuki Rahmad No. 31 Malang dibangun oleh seorang warga Belanda bernama V. Doorene seperti yang tertera pada pahatan marmer sisi tembok sebelah selatan rumah diperkirakan rumah ini didirikan sekitar tahun 1900-an. Tahun 1924-1940 rumah ini kemudian dimiliki warga Belanda L.C. Verhey yang mempergunakan rumah ini sebagai dealer/suku cadang motor/mobil merk Indiana, Harley Davidson, Douglas dan Ford. Pada saat pendudukan tentara Jepang rumah ini dipergnakan untuk tempat pembayaran upeti/pajak kepada pemerintah Jepang. Kemudian pada tahun 1950-an rumah ini kemudian diambil keluarga Namsin dan dipergunakan untuk memproduksi es lilin dan sebagai toko mesin jahit Singer. Tahun 1975 kepemilikan rumah ini beralih ke pengusaha yang bernama Siho Ismanto (Liem Zhong Hoo). Pada tahun 2014 sampai sekarang, baru kepemilikan rumah beralih ke anak dari Siho Ismanto yaitu saya sendiri,” cerita Yehezkiel kepada aremamedia.com.

  1. Lelah Menelusuri Kekayaan Heritage Kampung Kayutangan dan Talun? Minum saja Es Sirup Belimbing Wuluh khas Kayutangan

Penjual Sirup Belimbing Wuluh Khas Kayutangan, Astufah (55 th) 
(Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

Suhu cuaca panas dan terik matarahari yang menyengat di sepanjang koridor Kayutangan membuat penulis singgah pada sebuah warung bercat biru yang berada dibelakang gapura gang 4 Jl. Basuki Rahmad dan pas disebelah rumah Namsin. Sekilas menu makanan yang ditawarkan tidak terlihat istimewa yaitu lontong sayur dan ayam geprek saja. Namun ada minuman unik di daftar menu yang disajikan yaitu “Minuman Belimbing Wuluh”. Karena penasara aremamedia.com memesan dan mewawancarai pemilik warung terkait minuman tersebut. Adalah Astufah (55) pemilik warung tersebut yang memberikan cerita mengenai asal-muasal minuman khas Kayu Tangan ini: “Minuman ini kami produksi sejak awal tahun 1990-an, bahan bakunya sendiri yaitu berupa belimbing wuluh kami ambil dari Talun karena banyak tumbuh di halaman warga dan sekitar makam Mbah Honggo. Jika permintaan cukup banyak, kami mendatangkan bahan bakunya dari daerah lain. Untuk mengolahnya sebagai sirup caranya belimbing wuluh kami rebus dengan air dan kami beri gula. Setelah direbus dua jam dan mengental baru kami saring airnya dan kami masukan botol. Untuk sebotol sirup belimbing wuluh ini harganya Rp. 10.000,- sedangkan jika diminum disini pergolas hanya Rp. 5.000,- saja baik panas maupun dingin,” ujar wanita paruh baya tersebut. Kekayaan kuliner ini semakin menambah eksotis Kampung Talun dan Kayutangan dengan segala kekayaan heritage-nya. (*)