Meneer Pegtel dan Pak Kandar, Pelopor Apel Kota Batu

Meneer Pegtel dan Pak Kandar, Pelopor Apel Kota Batu

Pengunjung Menikmati Wisata Petik Apel di Agrowisata Kota Batu (Sumber Foto: www.surabayaadventure.com)

MALANG dikenal sebagai penghasil apel di Indonesia, daerah penghasil utama apel daerah Malang Raya adalah Kota Batu yang merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Malang. Sedang penghasil apel di Kabupaten Malang sendiri kini tinggal di Poncokusomo, salah satu Kecamatan di timur Kota Malang, tepatnya berada di lereng kompleks pegunungan berapi Bromo Tengger Semeru.

Kecamatan Poncokusumo dan Kota Batu memiliki ketinggian yang tidak jauh berbeda, kedua tempat tersebut memang ideal untuk lahan perkebunan tanaman apel mengingat letaknya di ketinggian, dengan udara yang dingin (suhu udara rata-rata sekitar 22ºC), dan memiliki tanah dari material vulkanik yang subur dengan pH tanah antara 6-7 (Ashari, 2004).

Tanaman apel yang dikembangkan di Kota Batu dan Kecamatan Poncokusumo berasal dari Asia Barat Daya (data dikutip dari artikel Sellitasari, dkk, dengan judul ‘Perbedaan Produksi Tanaman Apel (Malus Sylvestris Mill.) pada agro klimat yang berbeda (Studi Kasus pada Sentra Produksi Tanaman Apel di Kota Batu dan Kabupaten Malang)’, yang dimuat dalam “Jurnal Produksi TanamanVol. I, No. I, Maret 2013”, tahun 2013, pada halaman 01-02).

            Bukan hanya kebun, namun berbagai olahan buah yang menyehatkan ini muncul dari  Kota Batu. Pemerintah kotanya pun gencar mengampanyekan Apel Kota Batu sehingga tak sedikit yang menggambarkan Batu adalah Kota yang berhasil dengan industry apelnya. Berdasarkan keberhasilan tersebut, kota Batu membanggakan industri agrowisatanya secara kuat, yang memberi perhatian kepada turis kesempatan untuk melihat bermacam-macam proses pengolahan di industri apel. Para wisatawan pun bisa berpengalaman memetik apel di kebun (artikel Kompas, 2003 yang dikutip dalam skripsi Cook, yang berjudul “Kematian Industri Apel Batu”, tahun 2006, pada halaman 10).

Seorang Petani Tampak Memetik Apel di Suatu Kebun Apel di Kota Dingin Batu
(Sumber Foto: www. regional.kompas.com)

Tahu tidak? Apel sejatinya bukan buah endemik kota dingin tersebut. Berdasarkan sejarah perkembangan Fitry Neky D. dalam tulisannya yang berjudul ‘Batu, Swiss-é Malang’, yang dimuat di dalam buku “Malang Tempoe Doeloe Djilid Satoe”, tahun 2006, pada halaman 192-193, menjelaskan  bahwa tahun 1925 Batu tidak dikenal sebagai sentra penghasil apel, melainkan sebagai sentra penghasil jeruk.

Hal ini dikarenakan pada saat itu bibit tanaman apel relatif mahal dan harus didatangkan dari Australia. Tanaman apel sendiri baru dikembangbiakkan di batu sekitar tahun 1930. Itu pun berkat inisiatif seorang warga Belanda yang doyan makan apel.

Warga Belanda tersebut bernama Tuan Pegtel, ia mendapatkan ide menanam apel setelah melihat banyak bibit apel liar yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Bibit-bibit liar itu tak lain berasal dari biji-biji apel yang dikonsumsi oleh keluarganya yang dibuang sembarangan di perkarangan rumah.

Dalam usaha mengembangbiakkan tanman apel, Tuan Pegtel dibantu oleh seorang inlander (sebutan warga Belanda untuk warga Indonesia) yang biasa dipanggil Pak Kandar. Pak Kandar inilah yang kemudian melakukan penelitian pertama untuk mengembangbiakkan apel. Dengan cermat, Pak Kandar mengamati batang, daun, sampai akar tanaman, dan akhirnya setelah melakukan beberapa percobaan disepakati untuk mengembangbiakkan apel secara okulasi.

Mulanya apel hanya dikembangbiakkan oleh orang-orang Belanda. Selain Tuan Pegtel juga masih terdapat beberapa orang Belanda lainnya yang juga mengembangbiakkan tanaman apel ini. Mereka antara lain adalah Tuan Pool di Desa Tulung Rejo, Tuan Rockmaster di daerah Desa Sidomulya, dan Tuan Roonkwis di daerah Desa Sisir.