Memahami Menang-Kalah dalam Pilpres

Memahami Menang-Kalah dalam Pilpres

Oleh Anwar Hudijono

Begitu hasil quick count diumumkan di televisi, Rabu (17/4) sekitar pukul 15.10, ada dua reaksi publik yang kontras. Yang jagonya menang langsung eforia, bersuka cita, tertawa, bersorak. Saking eforianya mereka bersikap layaknya keburu jongkok padahal pintu toilet belum dibuka.

Secara psikologis, orang yang dilanda mabuk eforia akan mengidentifikasi betapa dirinya sangat hebat layaknya kecoa yang merasa dirinya macan. Sangat penting dan berarti layaknya serpih kayu tetapi merasa menjadi blandar. Merasa dirinya superhero.

Sering kali berlakulajak seperti sedang kalap. Bertingkah justru untuk menyakiti, mengejek mereka yang kalah. Sudah tidak ada lagi tenggang rasa bagaimana jika dirinya di pihak yang kalah. Padahal bintang pun tidak akan mengejek lawannya yang kalah.

Meskipun pada akhirnya mereka tidak akan dicatat dalam sejarah. Betapa hebatnya para kuli yang membangun Candi Borobudur tetapi sama sekali tidak dikenal sejarah. Yang dikenal cuma raja yang mendirikan candi itu yaitu trah Mataram kuno. Betapa hebatnya para prajurit Mongol yang mengantar Jenghis Khan mengausai sepertiga dunia, tetapi yang dikenal sejarah hanya Jenghis Khan beserta beberapa panglimanya seperti Hulagu Khan.

Ya begitu suratan nasib relawan, tim sukses, penggembira. Paling-paling dirinya sendiri yang mengenang. Biasanya dibumbui yang macam-macam biar tambah keren bin seru. Bahkan eforia kegembiraan itu berbalik menjadi kecewa ketika ternyata tidak direken sama sekali layaknya tukang dorong mobil mogok, setelah mobil jalan ditinggal bahkan sempat diludahi.

Adapun yang kalah kaget bukan kepalang layaknya mendengar petir di siang bolong. Mereka tidak percaya jagonya kalah. Mereka melakukan penyangkalan. Suasana kebatinannya campur baur, sedih, galau, marah. Sampai rasanya ingin menendang televisi yang menyiarkan hasil QC tersebut. Untungnya masih sadar karena itu televisi kreditan sendiri yang belum lunas.

Sikap kontras itu dari individu-individu kemudian berkumpul dengan senasib. Yang eforia jadi eforia kolektif. Berpesta pora. Saling tepuk telapak tangan. Berangkulan. Ketawa-ketiwi. Yang sedih jadi grup paduan lagu simfoni lara. Ketika bertemu sama-sama tertunduk layaknya bunga putri malu tersentuh tungkak. Yang dilakukan lebih saling curhat.

Jika saja kedua kelompok ini ditempatkan di satu ruangan, suasananya akan mirip dengan final Piala Dunia Rusia 1918 lalu. Sang juara Perancis eforia, bersorak, tertawa, bergembira menenteng piala. Sementara Kroasia yang kalah tertunduk sedih campur malu, melangkah gontai seperti mentok ambeien, ditambah dengan air mata meleleh layaknya es loli kepanasan.

Setelah bangun tidur, yang menang maupun yang kalah segera sadar bahwa hasil pilpres belum final. Hasil yang sekarang ini masih menurut QC. Yang namanya QC itu bukan hasil sesungguhnya karena di situ ada margin error. QC itu hanya bahan untuk membuat prediksi awal. Bukan untuk membuat kesimpulan. Hasil sah pilpres masih menunggu tanggal 22 Mei 2019 berdasar real count KPU.

Di tahap ini memang masih ada penyangkalan. Bagi yang eforia, penyangkalannya meski belum final tapi QC biasanya benar. Minimal 90 persen. Sementara yang kalah, penyangkalan berbentuk lembaga QC settingan, menyebar kebohongan.

Tapi diperkirakan beberapa lagi, babak penyangkalan ini akan hilang kecuali kalau televisi memanas-manasi terus. Dalam banyak hal, media televisi maupun media lain, itu seperti kompor demi mengejar rating dan iklan.