Masih Bekerja di Sekolah Nonmuslim Meski Sudah Mualaf

Masih Bekerja di Sekolah Nonmuslim Meski Sudah Mualaf

Gerdha Ester Nathalia setelah mualaf beradaptasi dengan hijab sebagaimana muslimah. (foto: istimewa-aremamedia.com)

BATU – Gerdha Esther Natalia perempuan kelahiran
Batu, 24 Desember 1994 silam adalah tokoh mualaf inspiratif kali ini. Menasbihkan diri sebagai muslimah pada 2015 lalu, tidak semata-mata kisahnya mulus dalam menentukan keyakinan keimanannya. Terlebih Gerdha terlahir dari keluarga Kristen yang taat.

Alasan mengapa perempuan cantik itu memutuskan pindah agama sebenarnya merupakan sebuah proses panjang, sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Bermula dari mengikuti ibadah umum di gereja, ia terus saja mempertanyakan kebenaran Tuhan dalam hatinya.

“Saat saya duduk di bangku kelas 4 SD, ketika mengikuti ibadah umum di Gereja. Saat itu yang tersirat dalam pikiran saya jika Yesus adalah Tuhan, lalu siapakah Allah? Apakah derajat Yesus sama dengan Allah? Karena menurut org Kristen, Yesus = Allah. Sedangkan saya tdk bisa menerima argumen ini,” jelas Gerdha kepada aremamedia.com.

Seiring berjalannya waktu keraguan di benak Gerdha semakin menguat. Ia melanjutkan ceritanya, “Alkitab menjelaskan bahwa Yesus datang ke dunia hanyalah sebagai utusan, BapaNya yang ada di Surga jauh lebih besar dariNya. Bahkan hukum utama yang ada di Alkitab juga tertulis Tuhan itu Esa. Lalu mengapa umat Nasrani mengimani tentang Allah Trinitas,” imbuhnya.

Ketika Gerdha mulai melontarkan pertanyaan tentang Allah Trinitas ke beberapa orang yang seiman dengannya saat itu jawabannya sama. Cukup dengan mengimani saja bahwa Yesus adalah Tuhan. Bagi mereka Tuhan menciptakan manusia dengan pikiran yg terbatas, tidak semua hal dapat manusia pecahkan dengan akal dan logika saja.

“Jadi kuncinya hanya mengimani. Singkat cerita saya menemukan surat di Al Quran ( Al Ikhlas) bagi saya pribadi ini adalah jawaban atas segala keraguan saya selama ini. Lambat laun kerinduan saya untuk pergi beribadah juga semakin hilang. Sampai suatu ketika saya berdoa pada Tuhan. Saya mohon petunjuk tentang kerinduan saya untuk masuk Islam,” jelasnya.

Lanjut Gerdha, “Nyatanya saat itu saya bermimpi sedang dikerumuni banyak org memakai baju putih dan kopyah putih. Mereka berdiri membentuk lingkaran, dan saya ada di tengah. Mereka serentak mendoakan saya dengan bahasa Arab,” tegas perempuan asli Kota Batu ini.

Gerdha mulai belajar tentang Islam secara serius kepada salah satu guru agama Islam di SMK PGRI 3 Malang tempat ia sekolah dulu, meski prosesnya tidak seketika itu juga dia masuk Islam. Gerdha masih terus mencoba untuk belajar dan memahami sedikit demi sedikit ttg Islam.

“Beliau, guru agama saya itu sempat memberi pertanyaan kontradiktif kepada saya. Tujuannya untuk melihat niat saya hanya sesaat atau benar dari panggilan iman, hingga saya minta beliau untuk mengikrarkan keislaman sayadi SMK PGRI 3 Malang,” paparnya.

Penolakan keras keluarga jelas terjadi, dengan pemahaman agama Kristen yang tinggi membuat langkah Gerdha mendapatkan pertentangan seluruh keluarganya. Bahkan karena tetap bersih keras untuk tetap pada pilihannya, Ibunya menyuruh Gerdha untuk keluar dari rumah.

“Saya turuti pergi dari rumah. Awalnya guru agama saya menawari untuk tinggal di Pondok Pesantren, cuma saya belum siap. Jadi saya tinggal di tempat kos teman saya selama beberapa bulan. Saya kembali saat orang tua perlahan bisa menyetujui keyakinan saya,” urainya.

Bukan hanya keluarga, banyak teman teman yg menjauhinya karena kecewa dengan keputusan yang ia ambil. “Ya mungkin hanya segelintir saja yang masih mau berteman dengan saya. Tapi banyak pula teman teman saya yg memang beragama muslim menguatkan dan memberi suport yg sangat besar untuk saya,” kenangnya.

“Karena memang dasarnya keluarga sendiri memang belum bisa menerima keputusan saya secara ikhlas, ketika saya ingin sholat dan pergi keluar menggunakan hijab saya harus bersembunyi. Begitu juga di lingkungan kerja di salah satu SD Kristen juga banyak terjadi pertentangan, saya hampir di pecat setelah mengetahui saya mualaf,, tapi Alhamdulillah saat ini saya masih bisa bekerja disana” paparnya.

Ramadan tahun 2019 ini adalah tahun ini ke empat Gerdha merasakan ibadah puasa. Tidak lagi seperti tahun-tahun awal ia mualaf, saat ini seluruh keluarga sudah bisa menerima keputusan besarnya.

“Perasaan saya campur aduk, antara bahagia, sedih, terharu semua jadi satu. Bahagia karena Allah masih memberi saya kesempatan mendapatkan hidayahNya sehingga saya bisa benar2 merasakan bagaimana ramadan itu. Sedihnya karena ketika puasa saya harus bisa sabar untuk menyiapkan segala sesuatunya sendiri tanpa ada dukungan dari keluarga saat itu,” Gerdha mengenang sambil menahan air mata.

“Tapi saya bersyukur karena Allah memberi jalan pada saya, keluarga sudah bisa ikhlas dan menerima keputusan saya, saat puasa mereka juga mau menghormati saya, menyiapkan makanan dan menemani saya untuk sahur,” pungkasnya. (*)

Pewarta: Doi Nuri
Editor: Noordin Djihad