Makam Dinger, Sendiri dalam Sunyi dan Dingin

Makam Dinger, Sendiri dalam Sunyi dan Dingin

Gambar 01: Pewarta kabaredu.com di depan bangunan heritage Makam Dinger (Foto: Febby Soesilo JJM for aremamedia.com)

MALANG – Jika anda menuju ke Pemandian Air Panas Cangar di wilayah Kota Dingin Batu, cobalah mampir ke “Bangunan Heritage Makam Dinger”, yang terletak di Jl. Dakota, Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Letak makam ini sendiri terletak di sebuah jalan, di pinggir jalan utama. Tepatnya di tengah areal perladangan warga, tak jauh dari SDN Tulungrejo IV. Menurut Sejarawan M. Dwi Cahyono, Van Dinger meninggal tahun 1917 dan dimakmkn di areal perkebunan kina di Kampung Nggabes milik Madame Nelly. “Semula makam ini berada di halaman bagian belakang bangunan perkebunan yang beratap seng. Kini sudah dibongkar,” terang Dwi. (“Sejarah Daerah Batu: Rekontruksi Sosio-Budaya Lintas Masa”, halaman 133)

Gambar 02: Tulisan di Atas Makam Dinger Tempo Dulu (Sumber Foto: www.imexbo.nl)

Dalam tulisan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, yang berjudul “Misteri Makam Familie Graaf J. Dinger” (Diakses dari www. kebudayaan.kemdikbud.go.id, 02/12/2018:16:45 WIB), dijelaskan, berdasarkan Laporan Inventarisasi Kota Batu 2014, untuk memasuki Makam Dinger, harus melewati jembatan sepanjang 8,5 meter. Di bagian bawah jembatan adalah sungai yang sekarang sudah mati. Di kanan dan di belakang bangunan makam dijadikan areal persawahan, sedang di kiri bangunan adalah jalan. Pintu masuk terdiri dari dua daun pintu. Untuk menuju meja altar, terdapat empat anak tangga terbuat dari marmer. Masyarakat setempat mengatakan bahwa bangunan makam ini dahulu menyimpan dua buah peti mati yang dipercaya sebagai peti mati Graaf J. Dinger dan isterinya. Namun keduanya sudah dipindahkan ke negeri asalnya, Belanda. Diperkirakan Graaf J. Dinger meninggal pada tahun 1917 berdasarkan tulisan Anno 1917 yang dipahat di atas pintu masuk sisi kanan dan kiri makam. Saat ini bangunan makam Famille Graaf J. Dinger difungsikan sebagai tempat penyimpanan perlengkapan kematian milik warga Dusun Wonorejo. Entah kapan para arkeolog bisa mengungkap misteri sejarah makam Famillie Graaf J. Dinger”, jelas artikel laman resmi dari Kemendikbud yang diposting pada 9 Agustus 2016 tersebut.

lantas siapa sesungguhnya tokoh bernama Dinger yang dimakamkan di Kota Batu ini? Dia merupakan administrator, dermawan, direktur Bank Escompto, seorang tuan tanah pemilik perkebunan gula, teh, kopi, kina. Dengan kata lain ia merupakan ekonom, pengusaha, pria pemilik/mantan pemilik sebuah makam di Desa Tulungrejo, Batu, Malang. (www.imexbo.nl, dengan artikel “Jan Dinger te Batoe: Jan Dinger’s praalgraf te Batu Malang” (diakses 02/12/2018:16:45 WIB)

Gambar 03: Foto Jan Dinger dan Istrinya Elisabeth M. E. van Polanen Petel (Sumber Foto: www.imexbo.nl | Layout: Devan Firmansyah, 2018)

Dalam laman yang sama juga dijelaskan, bahwa John Dinger/Jan Dinger lahir di Amsterdam pada 16 Agustus 1853, meninggal 2 Maret 1817 di Tulungagung. Ia adalah pmilik dari perusahaan Mojopanggung dan Kunir, yang kini berada di bawah PT Perkebunan Nusantara X. Ketika meninggal ia ingin dimakamkan di tanah miliknya yang berada di Desa Tulungrejo (makamnya kini). Pada masa hidupnya, ia menikah dengan Elisabeth Malvine Ernestine van Polanen Petel (saudara Elizabeth adalah Kapten NIL Ksatria MWO disebut N.J.C. dari Polans Petel dan meninggal pada tahun 1922. Dia menandatangani berita kematian Elizaet sebagai dengan pernyataan “satu-satunya saudara saya ….”), pada tanggal 25-7-1858 di Serang, (versi yang lain mengatakan di Malang?). Istrinya meninggal pada tanggal 7-3-1938 di Batavia.

Menurut silsilah dari Van Dee, mereka menikah pada tanggal 11-8-1875 di Batavia dan mereka memiliki beberapa anak. Mereka misalnya (1) Alida Maria Hillegonda Josine (lahir pada tahun 1886 di Batavia, tanggal mninggalnya tidak diketahui) dan ia kemudian menikah dengan M.M. Fransen van de Putte. (2) Anton Eduard Heerlen (17-1-1888 sampai 19-6-1952) dan kemudian menikah dengan M.W.C. Nieuwenhuisen. Jan Dinger diduga memiliki beberapa anak lain misalnya Jan Rutger Dinger, sebagai tokoh yang berpengaruh saat itu di Hindia-Belanda.

Gambar 04: Rumah Keluarga Dinger di Batavia Tempo Dulu (Sumber Foto: www.imexbo.nl via KITLV)

Kemudian, dalam artikel berjudul “10 Mitos dan Fakta Makam Dinger Kota Batu” yang dipubliksikan tanggal 4 Desember 2015, dalam laman www.beritaunik.co.id (02/12/2018:16:45 WIB), yang ditulis oleh Cetta Calya, dijelaskan bahwa: (1) Ia adalah seorang tuan tanah dimasa penjajahan Belanda yang dipanggil Tuan Dinger; (2) Wilayah otoritas dibawah pimpinan Dinger pada masa Kolonial Belanda, di Kota Batu bagian utara yang kini dikenal sebagai Dusun Junggo; (3) Bangunan tua bersejarah peninggalan zaman Belanda yang didirikan pada tahun 1917 tersebut mulai rusak. Bangunan kuno tersebut juga mulai retak. Kesan angker semakin terlihat dengan tumbuhnya ilalang, lumut dan rumput di sekitar bangunan; (4) Terdapat kolam kuno di belakang bangunan yang kini hanya menjadi gundukan tanah karena tanah di sekitar makam tersebut milik perorangan. Oleh pemilik tanah yang baru, kolam kuno tersebut dibongkar; (5) Bangunan kuno “Makam Dinger” tersebut dijadikan cagar budaya oleh Pemkot Batu. Makam itu telah dilindungi pasal 66 ayat 1 dan 2 tentang larangan merusak bangunan cagar budaya; (6) Observasi penggalian makam Dinger akan dijadwalkan Agustus tahun 2015. Tujuan penggalian yaitu untuk melihat dan survei kondisi di bawah tanah Makam Dinger, sekaligus memastikan adanya barang berharga dan temuan lain.

Gambar 05: Mausoleum (Makam) Dinger Tampak dari Belakang (Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

Kemudian, (7) Bagian bawah pintu masuk menjadi tempat pembuangan sampah pertanian. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan cagar budaya yang sebenarnya sangat perlu dijaga; (8) Sering terlihat penampakan oleh warga yang diduga itu adalah arwah gentayangan dari sosok Tuan Dinger. Selain itu penampakan hantu tanpa kepala pada malam hari juga sering menjadi isu yang hangat dibicarakan warga. Siang hari pun bangunan ini akan terlihat angker; (9) Tragedi pembunuhan melibatkan seorang panglima asal Jawa yang membalas dendam untuk perlakuan kejam yang dilakukan oleh Tuan Dinger terhadap rakyat pribumi. Tidak hanya Tuan Dinger dan istrinya yang dipenggal kala itu, Antek-antek Belanda yang juga orang Jawa menjadi sasaran si panglima; dan (10) Sosok Tuan Dinger dikenal sebagai orang yang kejam, tapi memiliki paras yang tampan. Demikinlah kilas ulasan dari Makam Dinger Kota Batu, yang sayang terawat ini.

Gambar 06: Mausoleum (Makam) Dinger Tampak Tak Terawat, Berkarat, Cat Luntur dan Berlumut. (Foto: Febby Soesilo for aremamedia.com) (*)

Pewarta: Devan Firmansyah yang juga anggota komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Fotografer: Febby Soesilo (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Editor : Noordin Djihad