Mahasiswa UM Demo, Ditantang Wakil Rektor III

Mahasiswa UM Demo, Ditantang Wakil Rektor III

Wakil Rektor III UM, Mu'arifin, saat menemui demonstran di depan kantor rektorat. (Foto: Doi Nuri-aremamedia.com)

MALANG – Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan cara berbeda. Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) memeringatinya dengan menggelar aksi di depan gedung Graha Rektorat UM, Kamis (2/4/2019) siang. Aliansi ini meliputi Badan Eksekutif Mahasiswa UM, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas se-UM, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan se-UM

Peserta aksi mengemukakan enam poin tuntutan kepada pihak rektorat. Pertama, mendesak UM untuk turut aktif mengawal terwujudnya pendidikan Nasional yang lebih baik. Kedua, mendorong UM menjadi kampus inklusi sesuai dengan Permendiknas nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif.

Tuntutan perbaikan pendidikan melalui kampus yang menyelenggarakan sistem pendidikan yang jujur adil dan transparan, menjadi poin ketiga. Di poin keempat mereka menuntut UM melakukan klarifikasi terkait permasalahan statuta UM yang dihadiri oleh mahasiswa UM.

Tuntutan kelima, meminta UM untuk mengajukan usulan anggaran pendidikan tinggi dan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan tinggi Indonesia.

Terakhir, menetapkan peraturan mengenai transparansi dan perbaikan sistem keringanan yang diatur secara umum oleh UM dalam perundang-undangan yang menjamin kepastian hukum bagi orang tua mahasiswa.

Wakil Rektor III Dr. Mu’arifin, M.Pd seusai melakukan mediasi dengan perwakilan BEM, menemui langsung para demonstran. Dalam penyampaiannya, Mu’arifin berpesan kepada para mahasiswa agar memahami konteks permasalahan sebelum mengisukan sesuatu.

“Silakan ekspresif memeringati Hardiknas. Demo seperti ini sangat boleh, tapi saya minta sebelum mengisukan sesuatu, hendaknya saudara sekalian harus memahami dulu tentang isu tersebut. Kalau tidak mengerti dan tidak memelajari, nanti akan muncul isu-isu yang lain,” tegasnya.

Lebih lanjut Mu’arifin memberi klarifikasi terkait tuduhan UM menelantarkan penyandang disabilitas. “Coba cermati lagi, pada struktur bangunan baru adakah yang tidak memiliki infrastruktur untuk disabilitas? Kalau gedung lama memang iya, tapi renovasi butuh waktu dan biaya. Lalu, Gempita itu kan UKM yang sengaja dipersiapkan untuk mahasiswa difabel. Lantas dimana fakta UM menelantarkan mahasiswa difabel?” tanya Mu’arifin.

Bahkan diakhir sambutannya, Mu’arifin menantang mahasiswa untuk berprestasi internasional. Ia menginginkan mahasiswa UM tidak hanya mampu beretorika dan bereuforia, melainkan mampu membuktikan keunggulan akademiknya.

“Harus kita akui, UM belum pernah berprestasi di level Internasional. Ayo buktikan, segera kirim proposal untuk kompetisi internasional. Terdekat, ada lomba paduan suara mahasiswa level Asia. Saya tantang anda semua bicara dengan karya dan prestasi,” tantangnya.

Sementara itu, Koordinator Aksi dan Ketua BEM FIP, Yoga Abi Zakaria mengatakan, beberapa kasus mahasiswa disabilitas di UM mengalami kesulitan akses untuk belajar karena tidak ada fasilitas dan layanan untuk mereka. “Banyak gedung tidak ramah disabilitas, terutama gedung-gedung lama,” jelas Yoga.

Mendatang, pihaknya tetap akan mengawal dan menagih janji perbaikan infrastruktur untuk difabel. “Kami tadi sudah ngobrol banyak tentang isu-isu yang kami suarakan. Cukup memuaskan tanggapan pihak kampus, meski ada beberapa yang masih mengganjal. Sekali lagi, kami tetap akan kawal hasil mediasi hari ini,” tandasnya. (*)

Pewarta: Doi Nuri
Editor: Noordin Djihad