Asal-usul Nama di Malang Raya (8)

Klojen, Apakah juga Nama Tumbuhan Seperti Toponimi Daerah Lain di Kota Malang?

Klojen, Apakah juga Nama Tumbuhan Seperti Toponimi Daerah Lain di Kota Malang?

Gambar 01: Nama Klodjen diabadikan menjadi nama jalan, “Klodjen Lor Straat”. (Sumber Foto: Leiden University Libraries, 1946)

Mulai edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran jurnalis aremamedia.comDevan Firmansyah yang juga pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya

Membincang tentang Klojen, terdapat dua pertanyaan, yang satu pertanyaan merupakan rangkaian dua pertanyaan. Pertanyaan pertama,  jika sebagian besar toponimi tempat di Kota Malang merupakan tumbuhan atau tanaman, apakah Klojen juga merupakan tanaman? Jika jawabnya ya, tumbuhan atau tanaman seperti apakah Klojen itu? Pertanyaan kedua, di mana letak Jalan Klojen?

Untuk pertanyaan pertama terjawab sudah. Selain sumber lisan, kepustakaan pun tidak pernah ada tumbuhan/tanaman yang memiliki nama Klojen. Dengan demikian rangkaian pertanyaan berikutnya gugur sudah. Sementara untuk pertanyaan ke dua, jawabnya terdapat di sumber kepustakaan. Namun sebelum memapar lebih lanjut, tak ada salahnya ‘berjalan-jalan’ sebentar di wilayah ini.

Yah, Klojen saat ini merupakan nama sebuah kelurahan dan kecamatan di pusat Kota Malang. Ibarat tubuh, Klojen merupakan jantung kota, karena di sinilah pusat pengaturan segala aktivitas, mulai politik, ekonomi, agama, dan sosial. Wajar jika daerah atau wilayah ini cukup dikenal di Kota Malang karena hampir semua sarana dan prasarana vital Kota Malang. Beberapa prasana dan prasarana ada di wilayah adminsitratif kecamatan ini, seperti Balai Kota Malang, gedung DPRD, alun-alun, stasiun Kota Baru, Masjid Jami’, Gereja Kristen Emanuel, Gereja Katholik “Hati Kudus Yesus” Kayutangan, Pasar Besar, Kantor Pos Besar, dll.

Di masa lalu menurut catatan data administratif, nama Klojen dibagi menjadi dua yaitu “Klojen Lor(Klojen Utara)” dan “Klojen Kidul (Klojen Selatan)”. Klojen Lor secara adminsitratif masuk ke dalam Lingkungan (Bahasa Belanda: Wijk) IV, bersama dengan Oro-Oro Dowo, Celaket, (dan Samaan, red). Sedangkan wilayah Klojen Kidul secara adminsitratif masuk ke dalam Lingkungan (Bahasa Belanda: Wijk) II, bersama dengan wilayah Temenggungan (Tumenggungan, red) dan juga Kidul Pasar. Kedua lingkungan tersebut masuk ke dalam satuan Kecamatan Klojen hingga saat ini. Tidak hanya menjadi nama satuuan adminsitratif suatu wilayah nama Klojen Lor dan juga Klojen Kidul juga diabadikan menjadi nama jalan pada masa Bleanda, yaitu Jl. Klodjen Lor Straat (kini menjadi Jl. Patimura) dan Jl. Klodjen Kidoel Straat (kini menjadi Jl. Aris Munandar) (Sumber Data/Informasi: Suwardono dan Rosmiayah, S. (1997) “Monografi Sejarah Kota Malang”, halaman 48 dan 53).

Gambar 02: Nama Klodjen Kidul Diabadikan Menjadi Nama Jalan Yaitu “Klodjen Kidoel Straat”
(Sumber Foto: Leiden University Libraries, 1946)

Sedangkan berdasarkan sumber data tertua, ketika Kota Malang masih berstatus Kawedanan Kotta sejak tahun 1812. Kawedanan Kotta sendiri terdiri dari 13 kampoong (kampung, Red), yaitu Pasar Kidul/Kidulpasar (Kidol Pasar), Taloon (Talun), Kahooman (Kauman), Leddok (Ledok), Pandeyan (Pandean), Klojen, Lor Alun, Gadang (Geddong), Tameengoongan (Temenggungan), Palleyan (Poleyan), Jodeepan (Jodipan), Kabalen (Kaballen), dan Cooto Lawas (Kota Lama) (Sumber Data/Informasi: Yuliati, (2012), Sistem Pemerintahan Wilayah Malang Pada Masa Kolonial. Dimuat dalam “Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, No. 1, Edisi Februari 2012, Tahun 25”, halaman 55 dan  Cahyono, D. (2014), “100 Tahun Kota Malang: Menelusuri Kilasan Sejarah Kota Malang”, halaman 7-10).

Menariknya di antara nama Klojen Lor dan Klojen Kidul, ternyata terdapat toponimi nama Klojen yang lain, dan diabadikan menjadi nama kampung, yaitu “Klojen Ledhok”. Klojen Ledok adalah sebutan wilayah kampung di areal Talun, sekitar Jl. Arief Rahman Hakim Gang V. Adapun penambahan unsur “ledhok”, karena kontur tanah diwilayah itu berbentuk cekung dan menurun.

Gambar 03: Foto Rumah sakit umum yang dulu merupakan loji Belanda di Tahun 1880. (Sumber Foto:www.tropenmuseum.nl.)

Berdasarkan buku “40 tahun Kota Malang”, terbitan tahun 1954, oleh Pemerintah Kota Malang, pada halaman 13, dijelaskan sejarah asal-usul penamaan Klojen sebagai berikut: “Setelah kompeni menduduki daerah Pasuruan, mereka lantas menuju ke Malang. Daerah yang makmur dan indah ini ingin dikuasai juga. Kompeni berpendapat bahwa ia juga berhak atas Malang sebab Malang hendak dimasukkannya pula dalam daerah Pasuruan. Awalnya Kompeni membujuk Adipati Malayakusuma agar takluk pada Kompeni. Namun Adipati dari Malang ini tidak menghiraukan bujukan itu sehingga Komepni menyiapkan pasukannya untuk menduduki Kota Malang. Akhirnya setelah mendapatkan perlawanan yang sengit dari tentara dan rakyat Malang, akhirnya jatuh juga ke tangan Kompeni pada 1767. Kompeni yang mengetahui bahwa penduduk Malang tidak gampang ditundukkan begitu saja, lalu mendirikan benteng-benteng teguh di tepi kiri Kali Brantas yang sekarang berdiri “Rumah Sakit Celaket” (kini RS Saiful Anwar, red). Di situ terdapat juga “Loge” atau “Loji” (Menurut Sejarawan Malang, M. Dwi Cahyono dalam bukunya yang berjudul “Wanwacarita: Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang”, tahun 2013, pada halaman 48, dijelaskan bahwa arti dari kata “Loji” berarti “permukiman di dalam benteng”, red) Kompeni. Dari perkataan “Loji” lama kelamaan berubah menjadi “Ke-loji-an” dan akhirnya menjadi “Klojen”. Sampai sekarang ini di sekitar tempat itu dapat orang melihat nama-nama jalan Klojen-lorKlojen-kidul dan sebagainya,” ulas buku antik dan langka tersebut.