Asal-usul Nama di Malang Raya (6)

Kesek yang Terlupakan dan masih Menyimpan Misteri

Kesek yang Terlupakan dan masih Menyimpan Misteri

Gambar 01: Bekas Dusun Kesek di Kelurahan Arjosari, Kota Malang yang beralih satus menjadi “Lingkungan”, Diabadikan dalam Papan Makam Umum Setempat (Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

Mulai beberapa edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran yang dilakukan jurnalis aremamedia.comDevan Firmansyah sekaligus pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya. Untuk tulisan kali ini, Devan dibantu tim komunitas Jejalah Jejak Malang (JJM).

 

          Saat Kelurahan Arjosari masih bersatus “desa”, terdapat sebuah dusun bernama Kesek. Dusun Kesek tersebut berubah menjadi “lingkungan” ketika muncul peraturan “Menteri Dalam Negeri Nomor: 140-502 tertanggal 22 September 1980 dan Nomor: 140-135 tertanggal 14 Februari 1981” yang mengkonversikan status ‘desa’ menjadi ‘kelurahan’. Terdapat beberapa RW di Lingkungan Kesek, salah satunya RW 03.

Dua hal yang menarik dalam “Lingkungan Kesek” di Kelurahan Arjosari ini. Pertama adalah asal-usul nama “Kesek”, sedangkan kedua, tentang situs yang disakralkan dan menjadi Punden Desa Arjosari. Punden ini letaknya di pemakaman umum Kelurahan Arjosari di Jl. Teluk Perigi depan SDN Arjosari III Kota Malang. Masyarakt setempat menyebutnya “Punden Mbah Kesek”.

Untuk menguak asal-usul nama Kesek, tak bisa mengandalkan dari masyarakat setempat. Untuk itu aremamedia.com melakukan penelusuran kepustakaan dan mendapat jawaban dari sebuah buku karangan seorang ahli botani Belanda, K. Heyne, tahun 1987, berjudul Tumbuhan berguna Indonesia Jilid III, pada halaman 1266-1267. Di halaman itu dijelaskan: “Dodonaea viscose JACQ. (D. Burmanniana DC., D. Waitiana BL.). Nama daerah. Ind: SikilCĕngkèh laut (Mal.) – Sund.: Cantigi – Jaw.: Kayu mĕsènKèsèKisigKrèsèk – Bal.: Ringan-ringan – Minah. Alf.: Motongsi (ponos) – Amb. Alf: Uta hatu – Halmah. Ut.: Kamoda (Gal.) – Ternate: Jolo ma jiko. Perdu tegak atau pohon kecil yang tersebar di daerah tropis di seluruh dunia tingginya 2 hingga 10 m, menurut Baker’s Schoolflora di Jawa ia terdapat di pantai (forma yang tidak berbulu), dan di daerah pegunungan yang lebih tinggi (forma yang berbulu). Rumphius menuliskannya (IV, hlm, 110) di bawah nama Carvophylla sterlitoreus sebagai pohon yang indah, yang tumbuh di pantai-pantai datar berpasir ata berbatu, kebanyakan di belokan-belokan yangs epi. Ia tumbuh dengan sebuah batang kecil, dengan cabang-cabang yang lurus dan oleh karena itu dari jauh ia menyerupai pohon cengkeh. K. & V (IX, hlm, 227) menetapkan kayunya sebagai luar biasa kerasnya, berat dan sangat awet, dan mereka mengatakan bahwa ia disukai untuk membuat tongkat jalan. Ia menghasilkan arang yang sangat baik untuk tukang-tukang besi. Rumphius memberitakan bahwa gerusannya yang halus bila diminum dengan air, merupakan obat yang baik sekali terhadap mulas perut karena masuk angin”.

Gambar 02: Bunga Pohon Kesek (Sumber Foto: www. id.wikipedia.org)

          Dari penjelasan K. Heyne tersebut dapat disimpulkan bahwa toponimi nama dusun atau Lingkungan “Kesek (Kèsè)” berasal dari sebuah tanaman. Beberapa varian dari tanaman ini seperti dijelaskan Heyne sebelumnya memiliki beberapa manfaat seperti kayunya bagus untuk membuat tongkat jalan dan arang. Serta salah satu dari bagiannya dapat digunakan untuk ramuan guna menyembuhkan sakit perut akibat masuk angin. Kemudian, terdapat artikel online menarik terkait tanaman ini, seperti dilansir dari laman yang beralamat di www.republikadventures.wordpress.com (diakses 28/08/2018:12:41 WIB), sebagai berikut:

Kesek, pernah mendengar nama itu?  Kesek adalah salah satu jenis pohon endemik di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Tanaman ini akan mendominasi acara ‘Nandur Bareng’ Republik Adventure di Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang pada 17 Februari 2016 mendatang. Tampilan Kesek mungkin tidak menarik. Pohonnya tidak terlalu tinggi, batangnya besar dengan sedikit daun. Jauh dari kata menarik jika dibandingkan dengan cemara atau pinus yang indah dipandang mata. Kendati demikian, kesek memiliki banyak kelebihan sebagai tanaman konservasi. Pemilik nama latin Dodonaea Viscosa ini memiliki usia yang panjang, puluhan hingga ratusan tahun sehingga sangat cocok untuk tanaman konservasi. Daunnya memang tidak rimbun, namun daya tempelnya kuat sehingga tidak mudah rontok. Imbasnya? tentu saja tidak mudah memicu kebakaran ketika musim kemarau, sebab daun kering yang terbakar biasanya menjadi pemicu utama kebakaran hutan. Kelebihan lain? kayunya yang kuat sangat sulit untuk terbakar namun juga tidak cocok untuk furniture. Kondisi ini membuat Kesek kemudian aman dari penjahat ilegal logging. Kabar gembira lain adalah, kesek sangat mudah untuk hidup. Potensi hidupnya saat dilakukan penanaman bibit mencapai 90 persen, sehingga bisa mempercepat pembangunan hutan rimba sebagai paru-paru dunia”, tulis laman tersebut.

Gambar 03: Penggiat Lingkungan Mempersiapkan Bibit Pohon Kesek Untuk di Tanam di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)
(Sumber Foto: www.republikadventures.wordpress.com)

          Setelah mengetahui toponimi Kesek, lanjut tentang Punden Mbah Kesek yang disakralkan masyarakat setempat. Situs ini ternyata terkait erat dengan pemberitaan “Prasasti Wurandungan B” dan juga Desa Polowijen. Menurut sejarawan Malang, Suwardono dalam bukunya “Mutiara Budaya Polowijen Dalam Makna Kajian Sejarah, Cerita Rakyat, dan Nilai Tradisi”, 2005, halaman 33 dan 60-61, menjelaskan bahwa Prasasti Wurandungan adalah prasasti “tinulad(tiruan)” yang dikeluarkan pada masa Mpu Sindok dan ditulis/disalin ulang pada masa Majapahit dan sampai pada kita sebanyak tujuh lempeng (depan belakang atau A-B). Prasasti ini dikeluarkan pada tanggal 23 Februari 948 Masehi (869 Saka), hari Tunglai Rabu Wage, Wuku Kulawu. Pada hari itulah penetapan secara resmi desa-desa yang diberi status Sima (perdikan) oleh Raja Sindok, yang salah satunya adalah desa Panawijyan (Polowijen). Epigraf (ahli prasasti) dari Belanda yang bernama J.L.A. Brandes dalam bukunya yang berjudul “Oud Javansch Oorkoden (O.J.O.)”, tahun 1913, mencatat prasasti ini dengan nomor inventaris L (50). Pada halaman 106, ditulis keterangan pada lempeng 4-B dari prasasti ini, yang terkait dengan Desa/Kelurahan Polowijen dan sebuah “Parahyangan” di dalamnya. Berikut cuplikannya:

4b. Janing kanuruhan irika ta ng kawaligêran makaryya ri kala ni kapujan i sang hyang rahyangta mwang i sang hyang kaswaban ya ta matang yan wineh tumuta sakapagêh sakawnang ning watêk kanuruhan atêhêr dinûman sima lmah umah gaga sima sawah ri tahun (talun?: catatan penulis). Kalih jêng kapramanan sangkeng kanuruhan sima swah ring “Panawijyan 13 jöng kingkaboringaranya sawah kawaligêran kapramana sangkeng kanuruhan suwakan sa jöng gaga rwang jöng kulwaning parhyangan gaga kulwaning gurubhakti kawaligêran kapramana sima mangkana yan pamujä i sang hyang rahyangta saji ning ma.