Ken Angrok, Sosok Kontroversial yang Berwajah Misterius

Ken Angrok, Sosok Kontroversial yang Berwajah Misterius

Gambar 01: Patung Ken Angrok Hasil Interpretasi Seniman Lokal di Depan “GOR Ken Arok”  (Sumber Foto: Assadurokhman, 2010)

Siapa sih yang tidak mengenal tokoh Ken Angrok (hasil revisi para ahli sejarah menyatakan penulisan yang benar adalah Ken Angrok bukan Ken Arok, red), tokoh leluhur raja-raja Kerajaan Singhasari-Majapahit? Tokoh dari Malang ini memang terkenal kontroversial baik secara jati diri (asal-usul), kesejarahan maupun perilakunya. Di dalam Kitab Pararaton, sebagai sumber yang cukup lengkap membahas kisah raja-raja Kerajaan Singhasari-Majapahit, dijelaskan bahwa Ken Angrok adalah anak dari Dewa Brahma dan ibunya petani bernama Ken Endok (Sumber: Pararaton, terjemahan/karya: Pitono Hardjowardojo, tahun 1965, halaman:13-14).

Kitab Negarakretagama berbeda lagi tentang sosok ini. Negarakretagama, Pupuh 40, baris ke-1, menjelaskan bahwa Ken Angrok yang bernama Sri Ranggah Rajasa adalah putra Sri Girinatha (Dewa Siwa), lahir tanpa ibu (Sumber: Tafsir Sejarah Nagarakretagama, terjemahan/karya: Slamet Muljana, tahun 2006, halaman:354). Meski asal-usul kelahirannya fantastis sehingga tokoh ini menjadi kontroversial, dalam Kitab Negarakretagama, Pupuh 40, baris ke-1, dijelaskan bahwa tokoh ini lahir pada tahun 1104 Saka atau 1182 Masehi.

Gambar 02: Interpretasi Wujud Ken Angrok dan Ken Dedes dalam Bentuk Ilustrasi Digital Menyesuaikan dengan Zaman Kekinian Karya Zainal Abidin (Kiri) dan Bongz Berry (Kanan)
(Sumber Foto: www.id.pinterest.com (Kiri) dan www.deviantart.com (Kanan)|Layout: Devan Firmansyah, 2018)

Hampir separuh dari Kitab Pararaton menceritakan kisah hidup tokoh Ken Angrok ini, mulai kecil diasuh oleh pencuri bernama Lembong, kemudian diasuh penjudi dari Desa Karuman bernama Bango Samparan, sampai tumbuh menjadi sosok berandalan yang suka merampok, mencuri dan memperkosa gadis. Namun demikian sosok ini juga terkenal rajin belajar dan menghormati guru. Selain itu Ken Angrok berguru berbagai macam ilmu kepada seorang Janggan di Padepokan Desa Sagenggeng. Kemudian ia juga belajar berbagai macam keterampilan kepada Mpu Palot dari Turyyantapada (Desa Turen). Terakhir, ia memperdalam ilmu agama kepada Pendeta Lohgawe hingga diterima menjadi abdi dalem Tunggul Ametung, seorang Akuwu (penguasa) daerah pendudukan Tumapel.

Ken Angrok juga dikenal dengan kisah cintanya dengan Ken Dedes anak pendeta Buddha Mahayana dari Panawijen (kini Polowijen) bernama Mpu Purwa, yang dilarikan paksa oleh Tunggul Ametung untuk dinikahi. Ken Angrok yang menjadi abdi dalem Tunggul Ametung tahu kecantikan Ken Dedes. Singkat cerita mereka saling jatuh cinta. Ken Angrok yang ingin menyelamatkan Ken Dedes dari cengkraman Tunggul Ametung memesan sebuah keris dari seorang pandai besi bernama Mpu Gandring untuk membunuh Tunggul Ametung. Namun karena keris yang dipesan Ken Angrok tak kunjung usai pengerjaannya, membuat Ken Angrok marah. Keris yang hampir jadi itu ditusukkan ke tubuh Mpu Gandring, sebelum Mpu Gandring merenggang nyawa Mpu Gandring melontarkan kutukan kepada Ken Angrok bahwa ia juga akan tewas ditusuk keris tersebut diakhir hidupnya. Dan memang benar diakhir hidupnya, Ken Angrok harus tewas meregang nyawa akibat ditusuk seorang Pangalasan (penjaga istana, red) dari Batil suruhan Anusapati, anak tiri Ken Angrok menggunakan keris tersebut. Ken Angrok kemudian dicandikan di Genengan pada tahun 1169 Saka atau pada tahun 1247 Masehi. (Sumber cerita: Pararaton, terjemahan/karya: Pitono Hardjowardojo, tahun 1965).

Gambar 03: Sosok Interpretasi Ken Angrok dalam Ilustrasi Cover Novel “Arok Dedes” Karya Pramoedya Ananta Toer 
(Sumber Foto: www.guneman.co)

Karena kepopuleran kisah perjalanan hidup Ken Angrok tersebut membuat banyak seniman mengangkat kisahnya dalam budaya populer misalnya dalam bentuk novel, komik, bahkan film. Dalam bentuk novel, penulis legendaris Pramoedya Ananta Toer pernah menuangkan kisah pemberontakan Ken Angrok terhadap Akuwu Tunggul Ametung dalam novelnya yang berjudul “Arok Dedes” pada tahun 1999. Kemudian penulis lokal di Malang tempat Ken Angrok berasal, yang bernama Zhaenal Fanani, juga tidak mau ketinggalan menuliskan novel Ken Angrok dengan judul “Ken Arok: Cinta dan Takhta” terbitan tahun 2013. Lebih jauh lagi, selain dituangkan para seniman-seniman tersebut dalam bentuk tulisan, komikus R.A.Kosasih menuangkan percintaan Ken Angrok dan Ken Dedes dalam bentuk cerita bergambar (komik). Komik tersebut di pasaran cukup banyak diminati masyarakat. Hal tersebut terbukti dengan dicetak ulangnya beberapa kali karya Kosasih itu, sejak pertama terbit pada tahun 1977. Hal ini membuktikan bahwa kisah Ken Angrok menjadi inspirasi para seniman.

Gambar 04: Kisah Ken Angrok Dituangkan dalam Bentuk Novel Karya Zhaenal Fanani (Kiri) dan dalam Bentuk Komik Karya R.A. Kosasih (Kanan)
(Sumber Foto: www.ridhodanbukunya.files.wordpress.com (Kiri) dan www.tokokomikantik.com (Kanan) | Layout: Devan Firmansyah, 2018)

Bahkan saking diminatinya Kisah Ken Angrok tersebut, rumah-rumah produksi perfilman Indonesia mulai mengangkatnya di kancah layar lebar dan serial TV Series. Pada tahun 1983, untuk kali pertama kisah Ken Angrok diangkat ke layar lebar berjudul “Ken Arok Ken Dedes”. Fil ini disutradarai Djun Saptohadi, dibintangi George Rudy sebagai Ken Angrok, Eva Arnaz (Ken Dedes) dan Advent Bangun (Tunggul Ametung). Kemudian pada tahun 2013 Kisah Ken Angrok juga diangkat sebagai Serial TV Series (Sinetron) sebanyak 38 episode dengan judul “Ken Arok & Ken Dedes”. Sinetron ini dikerjakan oleh rumah produksi MD Entertainment dan ditayangkan di salah satu televisi swasta Indonesia yaitu MNC TV. Sinetron ini dibintangi bintang muda Laudya Cynthya Bella sebagai Ken Dedes dan Adly Fayruz sebagai Ken Angrok.

Gambar 05: Kisah Ken Angrok Dituangkan dalam Bentuk Film Layar Lebar (Kiri) dan dalam Bentuk Seerial TV Series (Kanan)
(Sumber Foto: www.id.wikipedia.org (Kiri) dan www.oceanbluemy.blogspot.com (Kanan) | Layout: Devan Firmansyah, 2018)

Contoh-contoh di atas mulai novel, komik, dan film live action yang mengangkat kisah Ken Angrok, bukti betapa tinggiya populeritas tokoh pendiri Kerajaan Singhasari tersebut di dunia seni kreatif. Selain ketiga media yang sudah disebutkan, tokoh Ken Angrok juga berusaha dinterpretasikan dalam wujud dua dimensi (2D) berupa ilustrasi digital dan juga wujud tiga dimensi (3D) oleh para seniman. Kita ambil contoh ilustrasi digital karya akun bernama Zainal Abidin di media sosial pinterest-nya dan juga karya akun Bongz Berry di laman seni devianart-nya (Lihat Gambar 02), dua seniman digital tersebut berusaha menginterpretasikan wujud Ken Angrok dalam bentuk ilustrasi digital dua dimensi (2D). Kemudian, di Gedung Olah Raga (GOR) Ken Arok Kota Malang, juga dibuatkan wujud tiga dimensi (3D) dalam bentuk patung sebagai wujud interpretasi dari tokoh Ken Angrok yang seakan akan wujud inilah yang dibayangkan masyarakat sebagai sosok asli Ken Angrok (Lihat Gambar 01).

Hal itu menunjukkan banyak sekali seniman lintas media yang berusaha menginterpretasikan wujud Ken Angrok sesuai imajinasi mereka masing-masing. Namun yang menjadi pertanyaan benarkah wujud Ken Angrok raja pendiri Dinasti Rajasa dan juga raja pendiri Kerajaan Singhasari itu, wujudnya sama seperti yang dibayangkan dan dilukiskan para seniman tersebut? Jika mereka kurang tepat, lantas bagaimanakah sosok wajah Ken Angrok tersebut?

Gambar 06: Arca Perwujudan Ken Angrok Tampak Atas (Close Up)
(Sumber Foto: Satyawati Suleiman | Repro: Devan Firmansyah, 2017)

Menurut Arkeolog dan Dosen Universitas Indonesia (UI), Agus Aris Munandar di dalam bukunya “Ibukota Majapahit: Masa Jaya dan Pencapaian”, tahun 2008, pada halaman 34, “Kehidupan religi pada masa Singhāsari mulai muncul gejala baru yang terus dikenal dalam periode Majapahit yaitu konsep dewarāja. Hakikat konsep tersebut sebenarnya mengajarkan bahwa raja yang telah meninggal dianggap bersatu dengan dewa pribadi sesembahannya (ista-devata). Raja sebenarnya adalah dewa itu sendiri yang menjelma pada diri seorang manusia yang berkedudukan sebagai raja. Maka, ajaran ini mengenal adanya pertemuan antara (dunia) manusia dan (dunia) dewa-dewa. Kedua dunia itu menyatu dalam diri seorang raja yang sedang berkuasa, atau dalam diri seorang tokoh kerabat raja yang dekat dengan dunia istana,” terang Agus.

Kemudian arkeolog dan dosen UI lainnya yaitu Soekmono, dalam bukunya yang berjudul “Candi Fungsi dan Pengertiannya”, tahun 2005, pada halaman 22, menjelaskan: “Ketika meninggal seorang raja didharmakan atau dicandikan serta dibuat patung per-lambang dirinya. Patung tersebut dalam bahasa Jawa kuno disebut arca (reco dalam bahasa Jawa baru). Arca perlambang itu kemudian ditaruh didalam bilik utama suatu candi dan menjadi sasaran pemujaan. Biasanya arca ini melukiskan Dewa tertentu, serta melukiskan raut muka sang raja yang wafat tadi. Arca ini dikenal dengan sebagai arca perwujudan. Semasa hidupnya raja adalah merupakan titisan Dewa dan setelah meninggal maka ia akan kembali dan bersatu dengan Dewa penitisnya. Upacara terhadap arca raja ini caranya ialah dengan menghidupkannya melalui mantra-mantra tertentu. Sehingga ketika diadakan upacara pemujaan terhadap arca tersebut, orang bukan lagi menyembah arca batu, melainkan menyembah orang yang telah meninggal itu sendiri di dalam penjelmaannya yang konkret,” terang Soekmono.

Kiranya hal tersebut dapatlah diasumsikan bahwa arca perwujudan tersebut menjadi sasaran pemujaan nenek moyang yang diperdewa sehingga kepercayaan lokal masih tetap lestari dengan bernafaskan ajaran Hindu-Buddha. Dalam kasus Ken Angrok dapat dikatakan bahwa raja pendiri Kerajaan Tumapěl (Singhāsari) ini adalah pionir tradisi kultus dewarāja dalam kerajaan Singhāsari sampai dengan Majapahit ketika ia meninggal.

Di atas telah diuraikan bahwa ketika meninggal Ken Angrok diwujudkan dalam berbagai arca Dewa. Dalam prasasti Mūla-Malurung, lempeng 2b, baris ke 2-3, disebutkan bahwa ketika meninggal Ken Angrok dicandikan di Kagěněngan dalam wujud arca Dewa Wiṣṇu(Data Sumber: Titi Surti Nastiti, “Disertasi: Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuna (Abad VIII—XV Masehi)”, tahun 2009, pada halaman 406-407; dan Hadi Sidomulyo, “Artikel: ‘From Kuṭa Rāja to Singhasāri: Towards a Revision of the Dynastic History of 13th Century Java’. Dalam Jurnal Archipel, Vol. 80, Tahun 2010”, tahun 2010, pada halaman 107). Sedangkan di dalam kitabNāgarakṛtāgama diinformasikan bahwa ketika Ken Angrok meninggal ia dicandikan di Candi Kagĕnĕngan berwujud Śiwa, di Usāna berwujud Buddha (Data Sumber: Slamet Muljana, “Tafsir Sejarah Nagarakretagama”, tahun 2006, halaman 364 dan Riana, “Kakawin Dēśa Warṇnana Uthawi Nāgara Kṛtāgama Masa Keemasan Majapahit”, tahun 2009, halaman 203).

Terdapat informasi menarik terkait arca perwujudan Ken Angrok tersebut. Hal ini dijelaskan oleh Sumono, alumnus jurusan arkeologi UI, dalam skripsinya yang berjudul “Beberapa Arca Perwujudan di Jawa Timur: Sebuah Telaah Ikonografi”, tahun 1984, pada halaman 16, sebagai berikut: “Arca perwujudan Ken Angrok ditemukan di reruntuhan Candi Singhāsari, dalam bentuk ornamentasi arcanya memakai atribut Śiwa dan Wiṣṇu (Harihara) dengan ciri-ciri gaya ukirnya yang khas Singhāsari. Arca yang melambangkan Harihara (Śiwa-Wiṣṇu) bertangan empat yang digambarkan berdiri diatas padmasana ini kini disimpan di Museum Leiden dengan nomor inventaris No. 1403/1859. Penelitian mengenai arca perwujudan Ken Angrok sudah dilakukan oleh dua orang sarjana barat yaitu F.M. Schnitger (1932) dan W.F. Stutterheim (1939)”, terang Sumono dalam skripsinya tersebut. Leboh jauh lagi menurut epigraf UI, Boechori di dalam bukunya yang berjudul “Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti (Tracing Ancient Indonesia History Through Inscriptions)”, tahun 2012, pada halaman 261, menjelaskan bahwa Ken Angrok selalu lolos dari kejaran masyarakat dan utusan Tumapěl atas perintah raja Daha, berkat bantuan para Dewa karena ia diaku anak oleh Dewa Śiwa dan dikatakan sebagai penjelmaan dari Dewa Wiṣṇu.

Maka dari itu Sumono dalam skripsinya (1984:16) tersebut menyimpulkan bahwa dapat dijumpainya sebutan Śiwa dan Wiṣṇu ditujukan pada satu orang yaitu Ken Angrok. KArena itu arca perwujudan yang dikatakan Schnitger memakai dua laksana yaitu Śiwa dan Wiṣṇu diwujudkan sebagai Harihara dari zaman Singhāsari, adalah sesuai dengan keterangan dalam Pararaton.

Maka arca Harihara yang ada di Museum Leiden No. 1403/1859 sebenarnya merupakan perwujudan dari Ken Angrok. Pendapat Sumono tersebut diperkuat oleh pendapat sejarawan Malang, Suwardono dalam bukunya yang berjudul “Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok”, tahun 2013, pada halaman 195-196. Di buku itu Suwardono menjelaskan bahwa menurut laporan kepurbakalaan Belanda, di Kagěněngan, sisa-sisa tinggalan arkeologi sudah banyak yang hilang dan tidak berbekas. Itu sebab dapat diduga bahwa pada zaman Majapahit atau sedikit sesudahnya, arca perwujudan di Kagěněngan tersebut oleh masyarakat yang tetap menganut agama Hindu dan masih menghormati keberadaan arca perwujudan tersebut sebagai arca dari pendiri dinasti, diambil dan kemudian dikumpulkan di Singosari sebagai bekas pusat pemerintahan.

Hal tersebut sangat dimungkinkan karena tinggi arca hanya 70,5 cm tidak begitu sulit untuk dipindahkan. Karena kasus serupa pernah terjadi pada prasasti-prasasti masa Siṇḍok yang tersebar di daerah Singosari, justru ditemukan terkumpul di daerah Mbiru, Singosari. Alasan diangkutnya arca perwujudan dari Kagěněngan ke Singosari, diduga sebagai akibat kondisi daerah Kagěněngan yang semakin hari semakin longsor (tanah perbukitan yang kanan kirinya adalah aliran sungai). Longsor tersebut sudah terjadi sejak Hayam Wuruk mengunjungi candi makam tersebut pada tahun 1359 M dengan diiringi Pu Prapanca yang tercatat dalam kitab Nāgarakṛtāgama. Itulah sebabnya mengapa arca tersebut ditemukan di Singosari dan bukan di Kagěněngan. Walaupun disayangkan arca Buddha-nya tidak diketemukan.

Gambar 07: Lokasi Bekas Candi Pendharmaan Ken Angrok di Dusun Genengan, Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, yang Hampir tak Bersisa
(Sumber Foto: Devan Firmansyah, 2016)

Berikut ini akan diuraikan mengenai deskripsi detail tubuh arca Harihara perwujudan Ken Angrok tersebut. Menurut purbakalawan Belanda bernama Stutterheim (1939) yang dikutip oleh Suwardono dalam bukunya yang berjudul “Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok”, tahun 2013, pada halaman 191, sebagai berikut: “Menurut Stutterheim (1939) arca tersebut terbuat dari batu andesit, digambarkan dalam posisi berdiri samabhangga di atas padmasana (bantalan teratai merah) ganda. Seluruh badannya bersandar pada prabhamandala, dengan kombinasi sirascakra (lingkaran kesucian) di belakang kepalanya. Bagian kepala memakai mahkota dengan model jatamakuta (dari untaian rambutnya yang digelung ke atas), dengan sebagian rambutnya yang terjurai di belakang pundak kiri dan kanan. Hiasan mahkotanya sangat istimewa dan lain dari arca-arca jenis arca Siwa pada umumnya yang biasanya berhiaskan ardhacandrakapala(tengkorak dan bulan sabit). Hiasan mahkota berbentuk lingga-yoni. Bertangan empat atau caturbhuja, tangan kanan depan terjuntai di sisi pinggang kanan membawa aksamala (tasbih), tangan kiri depan terjuntai di sisi pinggang kiri membawa kapala (mangkuk tengkorak), tangan kanan belakang ditekuk ke atas membawa gada, sedangkan tangan kiri belakang ditekuk ke atas membawa cakra. Pada bagian badan mengenakan upawita (tali kasta), namun yang sangat istimewa pada kathibandha (ikat pinggang) tepat di bagian pusatnya terdapat hiasan yoni (kemungkinan terdapat lingga dari logam, tetapi lingga tersebut tidak hilang). Memakai kain hingga mata kaki, dan tepat di ujung telapak kaki juga terdapat hiasan yoni, yang mungkin juga terdapat lingga dari logam. Pada kanan kiri bawah arca terdapat dua arca wanita sebagai pengiring dengan sikap telapak tangan anjali mudra (menyembah). Pada bagian luar dari arca pengiring masing-masing terdapat hiasan padma (teratai merah) yang keluar dari umbinya. Menurut catatan Stutterheim, tinggi arca sekitar 70,5 cm”, terang Suwardono. Berikut ini detail pembagian hiasan simbol Siwa dan Wisnu dari atribut arca Harihara perwujudan Ken Angrok (Untuk gamabr arca perwujudan full body lihat Gambar 08).

Bagian Atribut Ciri Kedewaan
Kepala Jatamakuta Siwa
Tangan Kanan Depan Aksamala Siwa
Tangan Kiri Depan Kapala Siwa
Tangan Kanan Belakang Gada Wisnu
Tangan Kiri Belakang Cakra Wisnu
Hiasan Mahkota Lingga-Yoni Siwa

(Sumber Tabel: Suwardono, 2013)

Gambar 08: Arca Perwujudan Ken Angrok sebagai Harihara (Full Body) di Museum Leiden dengan Inventaris No. 1403/1859
(Sumber Foto: Stutterheim (1939) via www.ngalam.id)

Pewarta : Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah JJM)

Editor : Noordin Djihad