Asal-usul Nama di Malang Raya (13)

Kampung Panggungrejo di Mojolangu dengan Situs Punden Yai Beji Sari serta Patirthan Kuno yang Eksotis dan Arkais

Kampung Panggungrejo di Mojolangu dengan Situs Punden Yai Beji Sari serta Patirthan Kuno yang Eksotis dan Arkais

Gambar 01: Situs Punden Yai Bejisari di Kampung Panggungrejo, Kelurahan Mojolangu. (Foto: Moch. Dwi Novianto for aremamedia.com)

Kartoatmodjo, daam bukunya yng berjudul “Arti Air Penghidupan Dalam Masyarakat Jawa”, tahun 1983, halaman 6, menjelaskan: “Penyakralan situs yang mengandung unsur “air” memang sudah ada sejak zaman dahulu pada masyarakat Jawa Kuno. Air termasuk salah satu unsur penting yang ada di dalam “Tri-Loka (tiga dunia)”. Adapun unsur-unsur itu dikenal dengan istilah “Panca Mahabhuta”, yaitu antara lain: “akasa” (ether, angkasa); “bayu” (angin); “teja” (cahaya, sinar); “apah” (air, zat cair); dan “prthiwi” (bumi, zat padat). Dalam konsep “Tri-Loka (tiga dunia)” setiap unsur memiliki keunggulan dalam tiap dunia (Loka)-nya sendiri, berikut pembagian unsur dan ‘Loka’, tersebut. 1) Bhuh-Loka (Manusa-Loka), yaitu dunia umat manusia yang banyak dikuasai oleh unsur “prthiwi” (bumi, zat padat) dan “apah” (air, zat cair); 2) Bhuwah-Loka (Pitr-Loka), yaitu dunia para arwah yang banyak dikuasai oleh unsur “apah” (air, zat cair) dan “teja” (cahaya, sinar) dan, 3) Swah-Loka (Dewa-Loka), yaitu dunia pera dewa (sorga) yang banyak dikuasai oleh unsur “teja” (cahaya, sinar) dan “bayu” (angin)”, terangnya.

Gambar 05: Situs Punden Yai Bejisari Dikuras Warga, Tampak Banyak Artefak Batu Bata Kuno
(Sumber Foto: Agus Ciptagraha, 2013)

Kembali ke masalah penyakralan masyarakat sekitar terhadap Situs Punden Bejisari, karena secara konsep sudah terbukti bahwa bahwa air atau sumber air adalah salah satu unsur penting dalam alam (Panca Mahabhuta). Hal ini juga diperkuat oleh mitos-mitos dan pantangan masyarakat sekitar. Seperti dilansir dari laman yang telah disebut sebelumnya, tidak diperbolehkan mengambil apapun dari Punden Beji Sari (ikan, kayu atau dahan pohon). Konon ada seseorang warga setempat yang memancing ikan di tempat tersebut sesampainya di rumah, ikan tersebut digoreng tetapi bukan jadi ikan goreng melainkan menjadi sampah daun. Apabila ada orang yang mengambil potongan kayu dan dibakar maka pakaian orang tersebut juga akan ikut terbakar. Untuk ritual pesugihan, warga Simpang Candi Panggung pantang melakukannya. Mereka percaya akibat yang akan ditanggung setelah melakukan ritual pesugihan yaitu hidung orang bersangkutan tumbuh daging panjang (daler). Dagingtersebut akan keluar jika ada orang yang bertamu ke rumahnya dan hilang jika tidak ada orang bertamu.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh informan sebagai berikut: “Wong Panggung enthok tirakat ndek kono, yo diwehi tapi diwenehi daler. Wong Batu mesti ngilokno wong Panggung iku goblok. Wong ndek kulone nggene ndunyo. Lapo angel-angel golek duwek. Wong Batu ora ngerti lek mari njaok pesugihan irunge wonge cukul daging molor (daler). Lek ono tamu daging molor ndek irunge metu tapi lek gak ono tamu yo gak metu dalere. Lapo sugih tapi irunge molor?” artinya: [Orang Panggung boleh tirakat di situ, ya diberi tapi diberi daler (daging panjang). Orang Batu selalu mencemooh orang Panggung itu bodoh. Lah, di timur tempat mereka itu tempatnya dunia (kekayaan, maksudnya di mencari pesugihan di Punden Beji Sari). Buat apa sulit-sulit cari uang. Orang Batu tidak mengerti kalau selesai meminta pesugihan disitu hidungnya akan muncul daging yang menjulur (daler). Kalau ada tamu datang kerumah orang tersebut daging menjulur dihidungnya akan keluar tetapi kalau tidak ada tamu yang datang daging menjulur (daler) tersebut tidak akan keluar. Buat apa kaya tetapi hidungnya menjulur?, Pen].

Masih dalam laman yang sama dijelaskan juga, bahwa selain pantangan-pantangan di atas ada keajaiban yang terdapat pada Punden Beji Sari yaitu air dalam telaga tidak akan pernah meluap dan tidak akan pernah surut, meski saat musim hujan maupun saat musim kemarau. Padahal telaga tersebut tidak besar hanya telaga kecil yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Pada tahun 1960-an pantangan-pantangan tersebut pernah dilanggar oleh warga setempat. Warga setempat menceritakan bahwa ada seseorang yang memancing ikan di Punden Beji Sari, sepulang dari memancing ikan tersebut digoreng namun bukan menjadi ikan goreng malah menjadi sampah dedaunan. Selain itu jika ada orang yang menebang pohon di tempat tersebut maka akan celaka dan jika mengambil dahannya lalu membakarnya bajunya akan ikut terbakar. Pada tahun 1960-an juga, warga kampung sebelah Candi Panggung menebang pohon yang berada di sekitar punden, karena warga tersebut tidak percaya akan keistimewaan punden tersebut. Dampaknya, setiap dua hari sekali warga Candi Panggung ada yang meninggal. Berawal dari mitos-mitos warga Simpang Candi Panggung telah sepakat untuk selalu mentaati pantangan-pantangan yang juga telah diyakini oleh warga setempat. Warga setempat juga mempercayai bahwa Punden Beji Sari adalah tempat suci dan mengandung hal-hal mistik. Masyarakat setempat percaya bahwa Punden Beji Sari tersebut dapat membawa keberkahan dan keselamatan bagi masyarakat setempat. Oleh sebab itu masyarakat setempat setiap tahun pada bulan Suro melakukan ritual bersih desa yang diberi nama “Candi Morop” dengan mengarak sejumlah tumpeng menuju ke Punden Beji Sari. Masyarakat setempat percaya bahwa jika tidak melakukan ritual-ritual tersebut akan membawa bencana atau malapetaka.

Gambar 06: Suasana Situs Punden Yai Bejisari Setelah Dikuras
(Sumber Foto: Agus Ciptagraha, 2013)

Yang menarik dan perlu dicermati disini adalah nama tempat dimana patirthan ini berada adalah “panggung”. Di atas telah dijelaskan bahwa nama “Panggung” besar kemungkinan di masa lalu mengindikasikan bahwa dahulu terdapat rumah besar dengan lantai tinggi atau rumah besar bertingkat. Namun ternyata, masyarakat memiliki folklore tersediri terkait nama itu. Berikut ini adalah folklore tersebut, yang kami kutip dari hasil penelitian Rinawati P. Handajani, dkk dalam artikelnya yang berjudul “Fenomena Pintu Butulan di Kampung Candi Panggung Kota Malang”, yang dimuat di “Journal RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies), Vol. 4, No. 2, Edisi Desember 2006”, tahun 2006, halaman 105, dijelaskan bahwa “Menurut beberapa penduduk dan sesepuh desa, nama ‘panggung’ didapat dari sebuah legenda adanya sebuah pohon yang terletak di area pepunden Beji Sari di Kampung Candi Panggung. Tidak jelas jenis pohon apa sebenarnya, pohon tersebut tinggi menjulang sekitar 15-20 meter. Uniknya pada pohon tersebut hampir tidak mempunyai cabang, dari batang langsung ke luar daun-daunnya yang menyerupai daun kopi, sehingga oleh warga setempt disebut sebagai ‘wit kopen’ (pohon kopi). Bentuk pohon yang unik, dan lebih unik lagi karena dipuncak pohon tersebut sering sekali dikunjungi burung-burung perkutut yang memiliki suara indah, seperti sebuah ‘panggung’ untuk burung. Dari legenda itulah, nama kampung atau desa ini disebut Kampung Panggung. Sedangkan untuk nama “Candi”, dari ‘Candi Panggung’, sendiri didapat dari nama tumpeng yang digunakan pada saat acara ritual bersih desa (barikan), yaitu ‘tumpeng candi murup’, bentukinya berupa nsi tumpeng yang dikelilingi oleh obor (api), seperti analogi sebuah candi yang diterangi obor. Dari perpaduan legenda desa tersebut, sehingga muncul nama Kampung Candi Panggung”.

Tentu saja legenda mayarakat diatas perlu kita sikapi dengan bijksana, kemudian terkait dengan toponimi “Candi Panggung”, Sejarawan Malang yang lain, yaitu M. Dwi Cahyono, tampaknya sepakat dengan pendapat Suwardono. Dalam bukunya yang berjudul “Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang”, tahun 2013, halaman 122-124, Dwi menjelaskan, “Unsur nama ‘candi’ dari toponimi nama ‘Candi Panggung’ adalah sebutan yang kemudian dapat dijadikan petunjuk akan adanya bangunan candi atau bangunan jenis lain dari masa lalu. Nama ‘Candi Pangung’ kini menjadi nama jalan, tempat Situs Bejisari berada. Unsur nama ‘panggung’ bisa jadi berkenaan kontruksi bangunan, yakni bangunan berpanggung. Keberadaan bangunan berpanggung di Malang pada masa lalu tidak diragukan bila mencermati umpak berbentuk watu gong atau watu kenong di Tlogomas, Ketawang Gede maupun Polowijen. Bangunan berpanggung sesuai untuk tempat-tempat yang berada di sekitar genangan air. Situs candi panggung itu sendiri berupa tanah cekung, dengan kedalaman ± 1,5 m dari permukaan tanah sekitarnya. Bagian tengah cekungan terdapat sumber air tipe umbulan, dimana patirthan berada. Pepohonan besar banyak tumbuh, bahkan dulu mungkin lebih lebat lagi, sehingga debit air dalam kolam lebih besar daripada sekarang”, ungkp Dwi.

Gambar 07: Suasana Tanggapan Kuda Lumping saat Bersih Desa di Situs Punden Yai Bejisari
(Sumber Foto: Agus Ciptagraha, 2013)

Kemudian, Dwi melanjutkan penjelasannya: “Dapat dibayangkan bahwa kala itu rumah tinggal dibangun pada sekitar sumber air. Dalam kondisi itu, kontruksi rumah berpanggung tepat dipilih. Sayang sekali jejak permukiman kuno di sekitar patirthan belum diperoleh. Tanah cekung yang di musim penghujan tergenang air konon juga di sejumlah tempat di sekitar Punden Candi Panggung, utamanya di sekitar alir sungai yang membelah halaman kampus STTM dan STIKES Maharani. Ada dua sungai kecil yang mengalir di Mojolangu, yang alirannya dekat dengan Situs Candi Panggung maupun Menjing. Patirthan di Punden Bejisari berdinding bata-bata lama. Pada sejumlah sisi, utamanya sisi timur dan selatan, struktur bata tersebut masih tampak, meski sebagian terbalut longsoran tanah dan akar-akar pohon species ficus-mungkin dulu dinamai ‘wunut’. Bentuk bangunan relatif bujur sangkar, dengan ukuran berkisar 990 x 950 cm kedalaman belum dapat ditentukan. Bata-bata kuno yang membentuk struktur dinding patirthan tampk jelas manakala debit air turun. Di sekitar patirthan masih dijumpai serakan bata dan batu-batu kerakal, yang boleh jadi merupakan komponen bangunan pelengkap patirthan atau bisa jadi sisa dari rumah berpanggung yang konon berdiri di sekeliling patirthan. Eskavasi arkeologi belum pernah dilakukan di situs ini, baik untuk menampakkan bentuk utuh dari bangunan patirthan maupun bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Sayang sekali harapan itu terlambat, sebab kini di bagian selatan situs dibangun sederetan warung kuliner, yang ketika membangun tidak disertai pencermatan dan kemungkinan adanya tinggalan arkeologi di tempat ini”, ungkap Dwi.

Gambar 08: Makanan-Makanan yang Dipersiapkan untuk Bersih Desa di Situs Punden Yai Bejisari
(Sumber Foto: Agus Ciptagraha, 2013)

Dari segi sosial-budaya masyarakatnya sendiri, terdapat sesuatu yang menarik bebrapa tahun yang lalu. Dalam penelitiannya Rinawati P. Handajani, dkk, di jurnal yang telh disebutkan di atas pada halaman 105-106, dijelaskan bahwa hampir semua rumah di Kampung Candi Panggung ini menanam pohon belimbing. Menurut beberapa sesepuh kampung, ternyata penanaman pohon belimbing ini mempunyai makna simbolis. Warga Candi Panggung tetap berusaha mengikuti petuah dan ajaran dari Wali Sanga, tepatnya kanjeng Sunan Kalijaga atau yang biasa disapa dengan Raden Said, seperti dalam petikan tembang Jawa ‘lir-ilir’. Bila dikaji isi dan maknanya adalah petuah yang sangat bagus. Di antaranya terdapat analogi buah belimbing dengan lima sudut, sebagai Rukun Islam dalam ajaran Agama Islam, sebagai seorang muslim harus tetap menjalankan Syariat Islam dengan baik, agar dapat memperbaiki arah dan jalan hidupnya. Dimaksudkan, bila melihat pohon belimbing akan mengingatkan mereka untuk selalu menjalankan Rukun Islam, di antaranya sholat lima waktu. Hal ini dapat dipahami bahwa tatanan kehidupan dan masyarakat Jawa terhadap masalah-masalah dasar hidupnya senantisa dikaitkan dengan sistem religinya. Tradisi lainnya yang masih bertahan adalah tradisi beragam selamatan, di antaranya selamatan mulainya tanam padi dengan nampan saji terbuat dari pelepah pisang yang khas, selamatan bersih desa (barikan) lengkap dengan tanggapan kuda lumping, selametan seraben dalam menyambut bulan ‘Sapar’ di sepanjang jalan, selamatan mauludan dengan cobek gerabah saji, hingga kesenian ‘terbang jidor’ yang masih dilakukan rutin paling tidak sebulan sekali menjadikan nuansa desa yang sarat tradisi sangat kental di kampung ini.

Pengambil Gambar : Moch. Dwi Novianto (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Editor : Noordin Djihad