Asal-usul Nama di Malang Raya (13)

Kampung Panggungrejo di Mojolangu dengan Situs Punden Yai Beji Sari serta Patirthan Kuno yang Eksotis dan Arkais

Kampung Panggungrejo di Mojolangu dengan Situs Punden Yai Beji Sari serta Patirthan Kuno yang Eksotis dan Arkais

Gambar 01: Situs Punden Yai Bejisari di Kampung Panggungrejo, Kelurahan Mojolangu. (Foto: Moch. Dwi Novianto for aremamedia.com)

Mulai edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran jurnalis aremamedia.com, Devan Firmansyah yang juga pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya

SITUS Punden Bejisari (Yai Beji Sari/Sumber Ening/Sumber Peres, begitu masyarakat setempat menyebutnya) adalah sebutan masyarakat setempat untuk menamai sebuah “patirthan (sumber air)” kuno. Sumber ini terletak dekat STIKES Maharani Malang tepatnya di pertigaan antara Jl. Vinolia – Jl. Simpang Candi Panggung – Jl. Akordeon Selatan yang secara administratif terletak di wilayah RW 09, Lingkungan Panggung, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Situs ini berupa kubangan air besar, yang sumber airnya muncul dari bawah tanah. Di sekitar situs dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang menjulang tinggi sehingga wilayah situs ini tampak begitu asri. Pohon-pohon itu oleh masyarakat sekitar disebut dengan “Pohon Kayu Tanjung”, yang kayunya direbus dan dimanfaatkan untuk obat sakit gigi.

Gambar 02: Pohon-Pohon Besar di Sekitar Situs Punden Yai Bejisari Memberi Kesan Eksotis. (Foto: Moch. Dwi Novianto for aremamedia.com)

Masyarakat sekitar lebih senang menyebut ‘patirthan’ ini sebagai ‘beji’. Kata ‘beji’ sendiri menurut Zoetmulder, dalam kamusnya “Kamus Jawa Kuna Indonesia”, tahun 2006, pada halaman 123 mengartikan sebagai ‘kolam’. Hal ini sesuai dengan keadaan dan bentuk situs tersebut yang menyerupai kolam. Menurut Sejarawan Malang, Suwardono dalam bukunya yang berjudul “Monografi Sejarah Kota Malang”, tahun 1997, pad halaman 14, menjelaskan: “Situs yang terletak ± 500 m arah barat daya gedung RRI malang ini dahulu banyak terdapat arca yang kini sudah hilang. Di dalam dan sekitar telaga masih banyak didapati semacam pondasi dari batu merah tebal”. Sementara itu, dalam menggolongkan beberapa jenis patirthan berdasarkan tingkat kesakralannya pada masyarakat Jawa Kuno, Ninie Susanti, dkk dalam bukunya yang berjudul “Patirthãn Masa Lalu dan Masa Kini”, tahun 2013 halaman 72 membagi tiga kategori patirthan antara lain: a) “Nista Patirthan”, yaitu patirthan biasa (profan) yang airnya digunakan untuk pemasok air guna kebutuhan sehari-hari; b) “Madya Patirthan”, yaitu patirthan pendukung aktivitas keagamaan, namun airnya dapat digunakan sehari-hari; dan c) “Uttama Patirthan”, yaitu patirthan sebagai bangunan suci mandiri, terdapat arca dewa yang menjadi tumpuan pemujaan.

Gambar 03: Suasana Situs Punden Yai Bejisari yang “Hening” dan Arkais. (Foto: Moch. Dwi Novianto for aremamedia.com)

Melihat informasi jika dahulu di patirthan ini terdapat arca dan pondasi bata kuno yang berserakan, dapatlah diduga bahwa patirthan ini dahulu adalah termasuk jenis kategori “Madya Patirthan”. Artinya, sebuah ‘pathirtan’ pendukung aktivitas keagamaan, namun airnya dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Kesakralan patirthan ini juga diperkuat oleh ‘toponimi-toponimi’ nama dukuh-dukuh disekitar patirthan, yaitu: ‘Dukuh Bioro’, ‘Dukuh Bukur’, beserta ‘Dukuh Panggung’. Dari toponim tersebut menjadi nama daerah atau wilayah sekitar Punden Beji Sari yaitu wilayah Bioro atau yang saat ini lebih dikenal dengan nama ‘Jalan Vinolia’, wilayah Bukur yang diberi nama ‘Jalan Simpang Candi Panggung Barat’, dan wilayah Panggung yang mencakup Punden Beji Sari ini dikenal dengan ‘Jalan Simpang Candi Panggung’

Menurut Sejarawan Suwardono dalam bukunya yang lain, “Kepurbakalaan di Kota Malang Koleksi Prasasti dan Arca”, tahun 2011, halaman xiii, menjelaskan: “Konstelasi wilayah “Dukuh Bioro”, “Dukuh Panggung”, “Dukuh Bukur”, dan “Situs Telaga (Punden Beji Sari, pen)”, merupakan petunjuk bahwa di daerah tersebut pada masa lampau merupakan sebuah asrama perguruan keagamaan. Nama “Bioro” merupakan alih bunyi dari kata “Vihara”, yaitu tempat dan asrama perguruan, bisa agama Buddha ataupun agama Hindu. “Telaga” (Punden Beji Sari) mempunyai fungsi sebagai air suci (amerta), yang dalam hal keagamaan, “amerta” sangat penting sebagai sarana peribadatan sehingga berhubungan dengan asrama perguruan. Sementara kata “Panggung” menunjukkan bahwa dahulu terdapat rumah besar dengan lantai tinggi atau rumah besar bertingkat. Sedangkan kata “Bukur” adalah sebutan untuk bangunan penyerta yang bertingkat dan berada di halaman, dalam sebuah asrama perguruan keagamaan. Atas dasar bukti-bukti tersebut dapat dikatakan bahwa wilayah “Bioro-Panggung-Bukur” dahulunya merupakan asrama perguruan keagamaan yang besar”.

Sedangkan menurut Budayawan Lesbumi Agus Sunyoto dalam bukunya yang berjudul “Petunjuk Wisata Sejarah Kabupaten Malang”, tahun 2000, halaman 20, menjelaskan, “Situs Punden Beji Sari termasuk satu kesatuan dari “Situs Purwa” yaitu sebaran situs-situs yang berkaitan dengan kekuasaan ‘Pra-Tumapel’ yang diperkirakan membentang dari daerah sekitar Polowijen, Tasikmadu, Bale Arjosari, Bejisari, Bioro, Pangung dan Bukur”.

Kemudian dalam sebuah artikel berjudul “Kepercayaan Masyarakat Terhadap Punden Beji Sari”, di laman www.ceritakumpulansastralisan.blogspot.co.id, yang diunggah pada Jumat, 15 Mei 2009 (diakses 18/10/2016:00:54 WIB), dijelaskan bahwa masyarakat sekitar Situs Punden Bejisari sendiri begitu menyakralkan situs air tersebut. Hal ini dibuktikan dengan setiap tahun pada bulan Suro warga Simpang Candi Panggung selalu melakukan bersih desa yang diberi nama “Candi Morop” (di atas tumpeng diberi bambu yang berapi) dengan diiringi tarian tradisional (jaran kepang, tayub, ludruk, wayangan) dan diiringi dengan kelompok terbang jidor, membawa sejumlah tumpeng dan sesajen ke Punden Beji Sari. Namun, saat ini kesenian tersebut tidak lagi dilakukan. Masyarakat hanya kirap tumpeng ke Punden Beji Sari dengan diiringi terbang jidor. Sebelum melakukan bersih desa, warga setempat menguras telaga kecil tersebut terlebih dahulu.

Gambar 04: Tim Penulis saat Mengunjungi Situs Punden Yai Bejisari tiga tahu lalu. (Foto: Kevin Indriana for aremamedia.com)