Ilmuwan dan Seniman Luncurkan For One Jokowi Go On

Ilmuwan dan Seniman Luncurkan For One Jokowi Go On

Dewan penasihat, Wahyudi (tengah), saat memberi keterangan pers, Sabtu (9/2/2019). (Foto: Noordin Djihad-aremamedia.com)

MALANG – Generasi milenial yang akrab dengan dunia media sosial, menjadi sasaran utama relawan pendukung Jokowi-Makruf Amin.

Bertempat di sebuah cafe, Sabtu (9/2019), mereka melaunching “For One Jokowi Go On, Konten Publikasi Medsos”.

Di belakang mereka, beberapa ilmuwan dan seniman berkumpul mengatur strategi menyasar pemilih pemula. “Yang menurut statistik jumlahnya jauh lebih banyak dibanding pemilih mapan,” kata Yunan Syaifullah MM.

Selain Yunan yang keseharian dosen FE UMM, terlihat juga dua mantan Dekan Fisip UMM, Prof Dr HA Habib MA dan Dr Wahyudi M.Si. Keduanya sebagai Dewan Penasihat For One Jokowi Go On.

Ditambahkan Wahyudi, milenial tak lagi menunjukkan sosok namun lebih pada konten atau isi. “Dengan pemanfaatan sosial media, maka langsung menuju sasaran para pemilih pemula,” katanya.

Pihaknya lantas membuka sedikit strategi dengan memanfaatkan salah satu medsos, youtube.

Di medsos ini mereka menampilkan Jokowi yang akrab dengan umat Islam. “Ini untuk menjawab berita-berita hoax yang menyebut Jokowi anti Islam,” katanya.

Ditambahkan Wahyudi, sesuai perintah Ketua For One Jokowi Go On, Anwar Hudijono, pihaknya akan meraih kemenangan dengan elegan dan akhlakul karimah.

Kemudian ada juga tampilan senam yang gerakannya mendukung Paslon 01. “Kami juga membuat parodi lagu ‘My Heart Will Go On’ yang biasa dinyanyikan Celion Dion menjadi ‘My Heart Will Jokowi Go On’.

Lagu yang dinyanyikan Yohanna Geohera ini, kata Anwar, sengaja diubah menjadi parodi. “Salah satu menteri memuji lagu ini sekaligus suara penyanyinya,” jelas Anwar.

Saat ditanya konsekuensi royalti akibat perubahan lirik lagu tersebut, Anwar menjawab tidak masalah. “Selama dipakai sebagai parodi dan tidak dikomersialkan, tidak masalah,” tegasnya.

Kalau disebarkan lewat sosial media seperti youtube, lanjutnya, itu yang masih jadi perdebatan.(*)

Pewarta : Noordin Djihad
Editor : SM Nunggal