Hizam, Balita Air Mata Darah Butuh Uluran Tangan

Hizam, Balita Air Mata Darah Butuh Uluran Tangan

Hizam, balita yang hanya bisa mendengar, tanpa bisa melihat. (Foto: Istimewa-aremamedia.com)

KAB. MALANG – Keceriaan dan gelak tawa balita terdengar di dalam rumah pasangan suami-istri Agus Mualimin dan Nova Udi Juwitasari, Dusun Bengkaras, Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang pada (26/7/2019) pagi. Itulah suara Hizam (4), bocah kecil dengan kelainan pada dua kelopak matanya.

Meskipun dalam kesehariannya selalu ceria, bocah ini tidak bisa menikmati hidup layaknya anak-anak normal seusianya akibat penyakit mata yang menimpa bocah tersebut. Anak kedua dari tiga bersaudara putera pasangan buruh tani tersebut tidak bisa melihat sejak lahir, meski setiap hari tetap bermain bersama teman sebayanya.

“Kalau penyakit pada mata anak saya memang sejak dari lahir. Cuma yang bikin hati kami ‘nelongso’ sejak beberapa hari ini kok sering keluar darah dari mata anak saya,” jelas Agus, sang ayah, terlihat menahan air mata.

Sejauh ini, upaya dari keluarga Agus hanya mampu melakukan upaya pengobatan melalui pengobatan alternatif, yang dirasa terjangkau biayanya. Syaikhur dan Yanti, paman dan bibi Hizam menambahkan jika keluarga besar mereka tidak tinggal diam. Hanya saja biaya pengobatan yang tinggi membuat mereka tak mampu berbuat apa-apa lagi.

“Jujur saja saya berinisiatif mengundang wartawan, maksudnya agar kondisi Hizam ini setidaknya bisa mendapatkan pantauan dari pemerintah,” ujar Yanti.

Berharap ada perhatian dan uluran tangan dari pemerintah maupun khalayak dermawan, Yanti mengharapkan kondisi kesehatan keponakannya bisa mendapatkan pertolongan. Kendati demikian, dari keluarga mengaku berterima kasih kepada sejumlah pihak yang sudah datang melihat kondisi Hizaam, serta memberikan semangat dengan harapan dapat meringankan beban keluarga.

“Semoga saja ada yang mau menoleh kepada keluarga kami. Senyum dan keceriaan Hizam bisa juga bisa melihat normal, saat ini satu-satunya hal yang sangat kami harapkan,” pungkasnya. (*)

Pewarta: Doi Nuri
Editor: Noordin Djihad