Geger Temuan “Arung” di Dusun Watu Gong, Kelurahan Tlogomas, Kota Malang

Geger Temuan “Arung” di Dusun Watu Gong, Kelurahan Tlogomas, Kota Malang

Gambar 01: Foto dari Temuan “Arung” di wilayah RT 04, RW 03, Dusun Watu Gong, Kelurahan Tlogomas, Kota Malang. (Foto: Febby Soesilo JJS, 2018 for aremamedia.com)

Pada Kamis 27 September 2018, warga RT 04, RW 05, Dusun Watu Gong, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang digegerkan temuan sebuah gorong-gorong (Bahasa Jawa: Urung-Urung atau Bahasa Kawi: Arung). Gorong-gorong tersebut muncul saat penggalian tanah untuk keperluan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) guna menaruh tandon Septitank Komunal (Biofilter).

Temuan menghebohkan ini adalah temuan situs cagar budaya berupa saluran drainase kuno untuk kali kedua tahun ini, setelah pada 11 Juni 2018 lalu ditemukan juga sebuah arung. Penemuan itu akibat ketidaksengajaan penggalian tanah di RT 22, RW 03, Dusun Gedangan, Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Untuk arung di wilayah Dusun Watugong ini ditemukan tepat di depan rumah Mobin (48), warga jl. Kanjuruhan gang IV, RT 04, RW 05, Dusun Watu Gong, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

“Awalnya galian tersebut dibuat untuk menaruh tandon Septitank Komunal (Biofilter) sebagai bagian dari program kota tanpa kumuh yang dilakukan oleh BKM/LKM Kelurahan Tlogomas. Pada saat penggalian, tiba-tiba terjadi kelongsoran di kedalaman ± 2 meter. Ternyata kelongosran itu ditemukan sebuah saluran berbentuk goa ini,” terang Mobin saat ditemui di rumahnya, Rabu (03/10/2018) lalu.

 

Gambar 2: Devan, jurnalis aremamedia.com (kanan, jaket merah,Red) bersama Mobin (48) (tengah, baju hijau tua) di depan galian untuk menaruh tandon biofilter (Tandon Biru Kanan). (Foto: Febby Soesilo, 2018 for aremamedia.com)

 

Dipastikan lubang seperti goa tersebut merupakan urung-urung atau arung. Menurut pengertian arkeolog senior sekaligus sejarawan M. Dwi Cahyono dan juga Blaisus Suprapta (1999) yang dikutip oleh Novi Bahrul Munib dalam skripsinya “Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyǝng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170-1215 Çaka: Tinjauan Geopolitik”, tahun 2011, halaman 212, dijelaskan pengertian arung adalah instalasi keairan yang berupa saluran air di bawah permukaan tanah. Di dalam bukunya yang berjudul “Wanwacarita: Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang”, tahun 2013, halaman 92, M. Dwi Cahyono menjelaskan kembali secara lebih detail sebagai berikut: “Arung adalah salah satu jenis saluran air yang digalikan beberapa meter di bawah permukaan tanah, tepatnya pada lapisan tanah padas. Fungsinya sebagai sarana: (1) drainase; (2) irigasi; dan juga (3) meluruskan aliran sungai. Arung adalah karya teknologi aquatic yang terbilang canggih pada zamannya. Dibuat oleh tukang ahli, yang dinamai “unda(ha)gi pangarung”. Pada masa yang lebih muda, teknik penggalian lorong di bawah tanah dinamai “nggangsir”. Bagi daerah Malang, yang topografis bergelombang, terdapat genangan air di cekungan-cekungan tanah, arung dalam fungsinya sebagai sarana drainase sangat dibutuhkan. Mulut arung didapati di tebing sejumlah sungai (di Malang, red) seperti Sungai Brantas, Kali Metro, Kali Mewek, Kali klampok, kali Mewek, dsb”.

 

Gambar 03: Warga Pekerja Galian Membersihkan Longsoran Tanah di Saluran Arung (Sumber Foto: M. Dwi Cahyono, 2018)

 

Akibat ramainya temuan ini, M. Dwi Cahyono, sekaligus sebagai salah satu Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, turun ke lokasi pada 29 September 2019 untuk melihat dari dekat dan penelitian kecil-kecilan terhadap temuan tersebut. Hasil kajiannya tersebut kemudian diunggah oleh Dwi pada laman dinding Facebook pribadinya dengan judul “Tinggalan “Arung” Masa Hindu-Buddha di DAS Metro Dusun Watugong”. Sejauh ini tulisannya tersebut telah mendapat 7 komentar, 176 like, 16 kali dibagikan. Tulisan Dwi tersebut akan dikutip pada artikel ini sebagai hasil analisa terkait temuan situs tersebut sebagai berikut:

 


Gambar 04: Warga Pekerja Galian Mengamati Lubang Saluran Arung (SSumber Foto: M. Dwi Cahyo, 2018)

 

“Tepat di muka rumah Bapak Mobin (48, red), warga RT 03, RW 04, Dusun Watugong, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang di Jl. Kanjuruhan (Gang IV, red), pada sekitar Dhuhur hari Kamis, 27 September 2018 ditemukan “saluran air bawah tanah kuno”. Areal temuan berada di tengah lorong permukiman kecil, yang berjarak sekitar 50 meter di sebelah selatan aliran “kali purba” dan sekaligus “sungai bersejarah” Metro. Ditilik dari tempuran (pertemuan) Kali Metro dan Kali Braholo — yang juga sungai bersejarah, lokasi temuan banyak berjarak sekitar 100 meter di sebelah Tenggara. Menariknya, lokasi temuan ini juga hanya berjarak 50 meter di belakang Punden Watugong. Adapun lokasi Punden Watugong itu berda di permukaan atas tanah bertebing curam, yang berada di sebelah selatan tempat temuan. Tinggalan arkeologis ini boleh dibilang berada di bantaran selatan Kali Metro. Tanah di sebelah selatannya berupa tebing curam membujur Timur-Barat. Lantaran bertebing curam, maka dapat difahami bila dasar tebing ini memiliki potensi air yang besar kategori sumber resapan. Sayang sekali, kini tebing bagian bawahnya dibangun plengsengan batu dan lorong sehingga gambaran adanya potensi resapan airnya tak lagi tampak. Meski demikian, petanda akan adanya potensi air itu masih sedikit terlihat, dimana langit-langit saluran air kuno di sisi Timur masih terlihat basah bahkan meneteskan air”.

 

Gambar 05: Lubang di Temuan Situs Saluran Arung Tampak Membujur dari Utara ke Selatan (Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

 

Kemudian Dwi melanjutkan: “Saluran kuno ini diketemukan tidak sengaja, ketika dibuat lobang gali berbentuk empat persegi panjang (sekitar 3 X 5 meter) sedalam kurang lebih 3 meter dari permukaan tanah sekitar. Pembuatan lobang gali ini dimaksudkan untuk tempat pembuatan sapticktank kolektif bagi warga, yang berjumlah dua buah — sebuah lainnya berada sekitar 25 meter di sebelah Timur. Kamis, 27 September 2018, ketika tergali tanah sekitar 2 meter, pada sisi selatan kotak gali tiba-tiba permukaan tanahnya “jebol”, dan tampaklah lobang melorong. Peristiwa ini mengagetkan para penggali tanah, yang tidak memahami apa sesungguhnya lobang melorong yang tak sengaja mereka jumpai itu. Selanjutnya dilakukan perunutan terhadap lobang melorong itu, yang ternyata membentuk saluran dengan bentang timur-barat agak serong dengan posisi melintang selebar lobang galian. Terlihat bahwa selokan ini memanjang lagi lebih ke arah barat dan ke timur. Hari berikutnya, Jumat 28 September 2018, lebih ditampakkan keberadaan saluran bawah tanah ini. Terlihat bahwa sebagian besar saluran kuno itu telah tertutup “walet (endapan pasir bercampur tanah)”. Upaya untuk menampakkan sosok saluran oleh para penggali tanah itu berhasil memperlihatkan data sementara sebagai berikut”.

 


Gambar 06: Papan Spanduk Program BKM Tlogomas guna Penanaman Biofilter sebagai Embrio Ditemukannya Sits Arung Kuno (Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

 

“Lebar saluran terbilang sempit, hanya sekitar 60 cm. Ada indikasi bahwa ke arah timur semakin menyempit, dan sebaliknya ke arah barat kian melebar. Tinggi saluran sekitar 1,5 meter atau sedikit lebih. Langit-langit saluran melengkung, dan dasar arung mendatar berlapis pasir. Jenis tanah tergali yang menjadi dinding kanan-kiri, langit-langit maupun dasar saluran adalah tanah padas. Dengan demikian, saluran kuno ini sengaja digali secara horisontal pada lapisan tanah yang terbilang keras, yakni tanah padas. Tergambar pula bahwa saluran agak merendah ke arah barat, yang jika dirunut lebih ke barat lagi (kini berada di bawah perumahan warga) besar kemungkinan mulut saluran berada tepat di tebing sisi selatan Kali Metro, sekitar 25 meter dari jembatan kecil yanf menyebarang Kali Metro ke permukiman dimana temuan ini didapatkan. Sayang sekali dalam kondisi sekarang mulut saluran yang berada sekitar 15 meter dari tempuran Kali Metro dan Kali Braholo telah ditebing batu untuk mendirikan rumah tinggal warga. Hingga hari ke-2 (Jumat 28 September 2018) struktur saluran kuno yang ditemukan belum tertampakkan secara jelas, lantaran hampir seluruh lobang saluran terisi walet (tanah endapan). Kendati demikian, gambaran sekilas mengenai ukuran dan bentuknya mulai terlihat, baik pada dinding gali sisi barat maupun timur padamana lobang saluran kuno ini konon digali menembus tanah. Paparan di atas akurasi dapat diperjelas dengan membersihkan tanah walet yang mengisi lobang saluran, paling tidak pada sekitar kedua dinding gali itu, agar tanah padas yang digali untuk saluran bawah tanah tersebut tertampakkan. Ada baiknya, pembersihan tanah walet itu dilakukan oleh pihak yang mempunyai kompetensi arkeologis agar tak justru merusak struktur cagar budaya ini.”, lanjutnya.

 


Gambar 07: Lapisan Tanah dari Dinding Arung yang Lebih Keras (Padas) dari Tanah Sekitarnya (Sumber Foto: Febby Soesilo, 2018)

 

Lalu, untuk identifikasi fisik temuan arung ini Dwi mendeskripsikannya sebagai berikut: “Tidak diragukan bahwa temuan arkeologis ini merupaksn saluran air bawah tanah artificial (buatan) dari masa lampau. Menurut sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha (prasasti maupun susastra) untuk menamai bangunan dan struktur demikian adalah “arung”. Indikator bahwa temuan ini adalah “saluran air bawah tanah” tergambar sebagai berikut. Pertama, posisi saluran berada di bawah tanah, sehingga tepat disebut dengan “saluran bawah tanah”. Saluran digali secara horisontal pada lapisan yang cukup keras, yaitu tanah padas. Jarak antara langit-langit arung yang berbentuk melengkung dan nuka tanah sekitar antara 2 hingga 2,5 meter, dengan ukuran arung pada lokasi gali untuk sapicktank adalah lebar sekitar 60 cm dan tinggi sekitar 1,5 meter dari rencana pembuatan. Kedua, ada kemungkinan merupakan “saluran air” bawah tanah. Indikator keairan ditampakkan oleh (a) langit-langit arung di sisi timur petak gali dalam kondisi basah bahkan meneteskan air, (b) tanah walet pengisi lubang saluran cukup basah, (c) saluran membesar ke arah barat dan dasar arung miring perlahan ke arah barat, yakni ke mulut arung yang berada di sekitar tebing sungai sisi selatan dekat tempuran Kali Metro dan Kali Braholo, sehingga sangat boleh jadi aliran air di dalam arung menuju ke barat ke arah mulut arung. Ketiga, bila benar mulut arung berada di sekitar tebing sisi selatan Kali Metro, dan menilik lobang arung yang membesar ke arah barat (mengecil ke ke timur), ada kemungkinan lubang arung dibuat dari barat ke menuju ke timur agak serong ke selatan. Titik tuju arah galian lobang arung adalah pusat potensi air tanah (punjering banyu) yang berada di lembah tebing curam di seberang selatan aliran Kali Metro. Dengan demikian, ada kemungkinan arung dibuat sebagai kanal untuk perlancar penangkapan air tanah yang sekaligus merupakan air bersih, dengan areal tampung air bersih di mulut arung,” ungkapnya.

Dwi tidak hanya mendeskripsikan fungsi dan diskripsi fisik dari temuan arung tersebut, juga menjelaskan korelasi historis dalam tulisannya tersebut sebagai berikut. “Temuan arung berada di bantaran Kali Metro, yang konon diyakini sebagai sungai suci, yang airnya diidentikkan dengan “tritramreta (air kehidupan, air keabadian)”. Semenjak masa Bercocok Tanam di Zaman Prasejarah, kemudian memasuki Masa Hindu-Buddha, dan seterusnya hingga sekarang lembah dan sekitar DAS Metro menjadi areal bermukim, sekaligus ajang aktifitas sosial-budaya lintas masa. Bahkan, pusat pemerintahan kerajaan (kadatwan) tertua di Jawa Timur, yakni Kanjuruhan, berada di DAS Metro, yang jaraknya kurang dari 1 km dari lokasi tenmuan ini. Demikian pula, Kali Braholo yang bermuara ke Kali Metro juga merupakan sungai bersejarah. Dengan demikian arung ini berada di areal bersejarah. Yang patut untuk disimak adalah temuan arung berada di dekat pertemuan (tempuran) Kali Metro dan Kali Braholo”, terangnya.

 


Gambar 08: Warga Tampak Antusias Melihat Temuan Situs Arung Kuno. (Foto: Bambang Soetedjo, 2018 for aremamedia.com)

 

“Lokasi temuan hanya berjarak sekitar 50 meter di utara Punden Watugong, yaitu cungkup untuk pengumpulan umpak-umpak (pelandas tiang) dari batu andesit yang bentuknya menyerupai waitra gong, sehingga disebut “Watugong”, yang kini dijadikan nama dusun ini. Tinggalan dari tradisi budaya megalitik tersebut diitempatkan bersamaan dengan artefak-artefak dari Masa Hindu-Buddha. Hal menjadi petunjuk bahwa areal sekitar temuan arung betupa permukiman dan ajang sosial-budaya sejak perkembangan Megalitik di penghujung Zaman Prasejarah dan Masa Hindu-Buddha. Bukan tidak mungkin air bersih yang ditampung di mulut arung ini konon dimanfaatkan oleh masyarakat peemangku budaya Hindu yang tinggal di sekitar pertemuan Kali Metrio dan Kali Braholo. Tentu masyarakat purba itu membutuhkan air bersih, yang untuk kepentingan dibuat arung yang kini diketemukan. Lokasi temuan juga berjarak dekat (sekitar 0,5 km) dari situs Wurandungan yang berada di DAS Kali Braholo. Wurandungan (kini “Kandungan”) adalah salah satu desa yang menurut informasi prasasti Ukirnegara (Pamitoh) dari akhir masa pemerintahan kerajaan Kadiri (akhir abad XII Masehi) telah ditetapkan sebagai desa perdikan (suma, swatantra). Begitu pula di sekitar mulut gang menuju ke temuan arung juga dijumpai artefak yang berasal dari Masa Hindu-Buddha. Tinggalan arkeologis tersebut kian menguatkan urgensi arung ini untuk menopang kelangsungan hidup warga yang konon bermukim di areal yang kini dinamai Dusun Watugong. Demikian tulisan ringias dan bersahaja yang menyerupai reportase awak mengenai temuan arung di Dusun Watugong pada bantaran Kali Metro. Semoga membuahkan kedaerahan. Nuwun”.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa temuan ini adalah sebuah arung kuno produk kebudayaan pada masa Hindu-Buddha yang berfungsi sebagai drainase. Dan perlu diketahui sebenarnya teknologi pembuatan arung bisa jadi bukanlah teknologi asli Indonesia melainkan dari luar. Berikut penjelasan dikutip dari skripsi Mimin Yusuf Aminah, mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan judul skripsi “Perancangan Museum Agro-History Surowono Kabupaten Kediri Tema: Historicism”, tahun 2015, halaman 55.

“Diperkirakan teknologi membuat arung atau terowongan ini berasal dari India yang pada saat itu sedang diadakannya pembuatan sambungan dari lembah Indus menuju lembah Gangga. Sedangkan India sendiri mendapatkan teknologinya dari Persia. Hal ini bisa terjadi karena pada abad ke 7-16 M terdapat penyebaran kebudayaan. Terowongan pada zaman dahulu mempunyai tiga fungsi yakni fungsi irigasi, fungsi drainase dan berfungsi untuk meluruskan aliran air,” tulis Mimin dalam skripsinya tersebut.

Pewarta : Devan Firmansyah (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Pengambil Gambar : Febby Soesilo (Anggota Komunitas Sejarah Jelajah Jejak Malang [J.J.M.])
Editor : Noordin Djihad