Fakta Usai Diresmikan Gubernur Jatim, Warga Kampung Hijau Beji Kebingungan

Fakta Usai Diresmikan Gubernur Jatim, Warga Kampung Hijau Beji Kebingungan

Inginnya Kampung Hijau Beji seperti Kampung Warna-warni Jodipan. Sayangnya tidak diikuti dengan persiapan matang sehingga warga bingung setelah diresmikan gubernur. (Foto: Doi Nuri-aremamedia.com)

BATU – Meski diresmikan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Sabtu (6/4/2019), jangan sekali-kali berharap bisa menikmati Kampung Hijau sebagai desa wisata.

Warga Desa Beji sendiri justru mengaku bingung karena desa wisata dengan ikon Tempenosaurusnya bukan gagasan warga. Karena itu mereka tidak tahu yang harus diperbuat setelah desanya diresmikan sebagai desa wisata.

Ahad pagi (7/4/2019), aremamedia.com mengunjungi Desa Beji. Tidak ada yang istimewa di desa ini sehingga layak disebut desa wisata, kecuali cat rumah warga berwarna hijau.

“Saya sendiri juga bingung, faktor apa yang bisa diunggulkan sebagai nilai wisata di Kampung Hijau ini. Kalau mau diunggulkan, ya industri tempe,” ujar tokoh masyarakat yang enggan disebut namanya.

Andai ada yang ingin menggarap desa wisata dengan ikon tempe, tampaknya lebih tepat Dusun Karang Jambe. “Di dusun itu gudangnya perajin tempe. Di sini cuma ada 19 tempat produksi,” ujarnya kepada aremamedia.com.

Menurutnya, Dusun Karang Jambe lebih layak diekspose sebagai destinasi wisata tempe. Profesi membuat tempe sudah turun menurun sejak tahun 70-an. Bahkan jumlahnya kurang lebih 100 perajin dalam satu dusun.

“Masyarakat sini itu kan sifatnya cuek. Jadi saat disodori tawaran kayak pengecatan kampung ya cuma bilang iya…iya saja,” tambahnya.

Menguatkan informasi terkait ketidaksiapan warga saat ini mengelola Kampung Hijau, diakui Wakil Ketua Karang Taruna Desa Beji, Ahmad Dwi.

Dia menuturkan kurang lebih satu tahun berjalan, pihak Pemerintah Desa dan Karang Taruna sudah on progres penggarapan Desa Karang Jambe sebagi Wisata Desa Tempe.

“Sudah satu tahun lebih ini kami mempersiapkan Dusun Karang Jambe untuk jadi wisata tempe karena 90 persen atau sekitar 100 warga Dusun Karang Jambe perajin tempe. ,” jelas Ahmad.

Karang Taruna dan Pemerintah Desa Beji, tambahnya, menyiapkan Dusun Karang Jambe sebagai pusat wisata edukasi tempe. Observasi dan wawancara kepada sebagian besar perajin tempe sudah dilakukan. “Agustus tahun ini diagendakan launching resmi oleh Wali Kota Batu sekaligus mengawali even tahunan yaitu Festival Tempe,” kata Ahmad.

Bahkan beberapa waktu lalu warga mencoba menerima 100 tamu dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). “Kita hargai paket wisata per orang Rp10.000 waktu itu. Artinya persiapan untuk mewujudkan sentra tempe Desa Beji ini sudah dikenal dan harus terwujud,” jelas Ahmad lagi.

Ahmad juga memberi informasi tambahan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Beji juga sedang dalam pembentukan. Pokdarwislah nantinya yang akan mengelola Desa Wisata Tempe dengan anggaran dana desa dan bantuan dari beberapa tokoh tanpa melibatkan investor selain warga Desa Beji. (*)

Pewarta : Doi Nuri
Editor : Noordin Djihad