Fakta Terbaru Desa Wisata Kampung Hijau, Masyarakat Bingung, Pj Kepala Desa Beji juga Bingung

Fakta Terbaru Desa Wisata Kampung Hijau, Masyarakat Bingung, Pj Kepala Desa Beji juga Bingung

Pj Kepala Desa Beji, Edwin Yogaspatra. (Foto: Doi Nuri-aremamedia.com)

BATU – Kebingungan masyarakat tentang pengelolaan Kampung Hijau setelah diresmikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ternyata juga dialami perangkat desa. Pejabat (Pj) Kepala Desa Beji, Edwin Yogaspatra mengakui kebingungan ini karena ide Kampung Hijau bukan murni inisiatif masyarakat setempat. Bahkan, Edwin yang belum dua minggu menjabat ini dikagetkan dengan agenda besar mendatangkan Gubernur Jawa Timur.

Menurut keterangan Edwin, belum lama ia menjabat Pj kepala desa, dirinya didatangi mahasiswa UMM mengatasnamakan kelompok praktikum Prospero. Mereka melakukan konfirmasi tentang rencana membangun kampung wisata dengan pemberdayaan masyarakat di lokasi Kampung Hijau. “Padahal sebenarnya konsep wisata sentra tempe Desa Bumiaji sudah memiliki IDE SOTE (isuk dele sore tempe) yang hampir matang dalam konsep pembentukan Desa Wisata Tempe di Dusun Karang Jambe. Di dusun ini terdapat ratusan pengusaha tempe dan sudah puluhan tahun eksis, dibanding Kampung Hijau yang hanya memiliki 19 pengusaha tempe,” tuturnya. (Baca juga: Fakta Warga Kampung Hijau Beji Kebingungan)

Edwin pun mengaku berpikir positif saja. “Masalah ada atau tidaknya kepentingan Jatim Park 3 atau UMM, kalau kita tarik kembali ke belakang memang kurang koordinasi antara UMM, Jatim Park 3 dengan pihak pemerintah desa. Tapi mereka menjanjikan akan melakukan pendampingan pada masyarakat Beji. Itu yang saya tunggu dan saya harap bisa menyeluruh ke seluruh wilayah Beji, bukan satu RT saja di Kampung Hijau,” ungkap pria yang sebelumnya menjadi Pj Kepala Desa Pendem itu.

Ditambahkan Edwin, “Seandainya assalamualaikumnya (permisinya) mereka ketika saya sudah menjabat di sini, sudah pasti saya akan minta seluruh rencana wisata di Beji ini tergarap,” tegas PJ Kepala Desa yang pernah menggagas dan sukses mendirikan Kampung Cantik di Desa Pendem dengan dana desa tanpa sponsor.

Harapan pun dilontarkan Edwin agar UMM selaku sutradara kampung wisata benar benar melakukan pendampingan terhadap masyarakat yang masih bingung setelah peresmian oleh Gubernur Jatim ini. “Saya yakin, jika UMM melanjutkan pendampingan pada masyarakat, sangat membantu Pemerintah Desa dalam membangun Desa Beji,” jaminnya.

Terpisah, Anwar Doang sapaan akrabnya dari aktivis budaya Jelajah Kampung, menghimbau agar masyarakat lokal tidak hanya dijadikan objek saja karena mereka subjek utama sebagai pemilik wilayah. Masyarakat juga yang paling faham akar budaya setempat karena mereka yang hidup dan berkembang di sana. Artinya berdayanya sosial, ekonomi dan identitas desa juga harus terangkat.

“Tata kelola itu hal mendasar. Yang pertama kelembagaan, bahan baku, dana dan metode. Jadi seharusnya empat hal mendasar itu wajib dipahamkan pada masyarakat sebelum menggagas atau mendirikan kampung wisata,” ujar Anwar. (*)

Pewarta : Doi Nuri
Editor : Noordin Djihad