Efektivitas Penerapan New Normal Dalam Pendidikan Pasca Perang Melawan Covid-19

Efektivitas Penerapan New Normal Dalam Pendidikan Pasca Perang Melawan Covid-19

Fachrizal mahasiswa Jurusan PPKN, FKIP UMM. (Foto: istimewa)

OPINI – aremamedia, Dewasa ini kita di hadapkan oleh wabah covid 19 terutama di Indonesia, sekarang kita diringankan oleh pemerintah dari adanya peraturan untuk mencegah covid 19 seperti Physical Distancing, Lockdown, PSBB, Stay At Home dan lain-lain. New Normal menjadi solusi ditengah pandemic covid 19 yang kian meluas dan menginfeksikan jutaan orang di dunia termasuk di Indonesia.

Dalam hal ini masyarakat harus hidup dan berdamai dengan covid 19, hingga ditemukannya vaksin yang efektif. Namun demikian, masyarakat harus tetap waspada dan tetap berusaha mencegah terhadap wabah covid 19 seperti memakai masker, menggunakan handsanitizer dan menjaga jarak antar sesama seperti yang disarankan pihak tenaga ahli.

Akibat pandemik ini masyarakat harus mengambil resiko guna untuk menyambung hidup dengan keadaan yang tidak menentu. Rakyat pun tak punya daya, dan mau tidak mau mereka harus hidup dalam keadaan yang semakin sulit, hingga akhirnya pemerintah menerapkan kehidupan New Normal, untuk mendongkrak kondisi perekonomian di Indonesia yang semakin merosot akibat adanya pandemic ini.

New Normal sendiri dilakukan guna mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial ekonomi,  World Health Organization (WHO) pun juga memberi pedoman untuk menerapkan kenormalan yang baru sebagai langkah transisi. New Normal sendiri memiliki  arti masyarakat sudah terbebaskan dari pembatasan – pembatasan yang awalnya di turunkan oleh pemerintah di indonesia mulai dari pembatasan sosial berskala besar .

Gagasan new normal yang tentu lebih fokus pada penyelamatan ekonomi ini memang bukanlah kembali pada kehidupan normal seperti sebelum Covid-19, dengan gagasan baru ini masyarakat masih dalam kondisi darurat new normal adalah kehidupan babak baru yang masih terikat dengan protokol Covid-19. Dalam hal ini pemerintah terlalu memaksa merilis scenario New Normal dengan mempertimbangkan perekonomian yang semakin menurun, dengan harapan pemberlakuan New Normal bisa mengembalikan perekonomian yang menurun akibat pandemic Covid-19.

Kendati demikian, Indonesia belum siap karena curva penyebaran belum melandai. Scenario yang ingin di normalkan kembali hanyalah kondisi perekonomian tanpa memikirkan kesehatan dan masyarakat yang tak kunjung meningkatan sarana prasarana untuk menagani wabah covid 19, ataupun melakukan riset untuk membuat vaksin covid 19. Sejatinya selama ini pandemic Covid-19 banyak merugikan perekomian dan Pendidikan.

Penyerangan pandemi di dalam pendidikan-pun, juga banyak merugikan dalam hal kurangnya efektifitas belajar dan mengajar, melemahnya kreatifitas berfikir pelajar dan tidak efisien nya waktu dalam hal belajar mengajar. Terlihat seperti biasa memang pendidikan tidak terlihat menyorot selama pandemic covid 19, akan tetapi Pendidikanpun mendapatkan dampak yang di berikan dari pandemic covid 19.

Sejatinya melemahnya pola berfikir akibat Stay At Home menjadi momok utama, karena kebiasaan akitivitas yang dilakukan selama Stay At Home akan dibawa di ruang belajar, meskipun tidak semua, menguak hal ini ketakutan di era New Normal dalam kependidikan akan menimbulkan adanya rasa malas untuk melakukan kreatifitas berfikir pelajar. Sehingga dalam pembelajaran pun juga menerapkan kenormalan pembelajaran guna melanjutkan efektifitas belajar dengan peraturan dan menggunakan metode baru yang telah di sampaikan dinas Pendidikan.

Pembelajaran bagi pelajar di era New Normal pun juga membutuhkan adaptasi untuk menggabungkan pembelajaran tatap muka dan virtual, menurut salah satu  pengamat pendidikan Profesor Karyono mengatakan, pembelajaran atau kegiatan belajar  New Normal harus mampu dilakukan secara blended learning, akan tetapi pembelajaran di era New Normal pun tidak semudah yang dibayangkan, pelajar pun juga akan belajar disekolah atau tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan covid 19.

Dinas Pendidikan dan kebudayaan diharapkan mampu menjalin kerjasama dengan orang tua dalam melaksanakan KBM secara daring. Saya melihat new normal ini sebagai upaya agar masyarakat bisa tetap produktif secara ekonomi namun dengan tetap menjalankan protokol kesehatan supaya aman dari penularan virus corona. Salah satu sektor yang juga perlu menyesuaikan diri dengan kebijakan new normal adalah sektor pendidikan.

Sebagai pelajar yang terdampak dengan hal ini, tentu kami bertanya, apakah sekolah kami akan dibuka dalam waktu dekat? Lalu bagaimana dengan kebijakan sekolah saat new normal?
Apa pun skenario pemerintah dalam pembukaan sekolah, misalnya menerapkan physical distancing, menurut saya cara itu tidak akan efektif dan tetap berisiko selama pandemi ini belum bisa dikendalikan. Menurut saya, kebijakan “tatanan normal baru” mungkin bisa dilakukan untuk sektor ekonomi, jasa, dan transportasi. Namun tidak untuk di sektor pendidikan.

Jika dilakukan terburu-buru, tidak hati-hati, dan mengabaikan curva penularan yang masih tinggi, maka keputusan ini akan sangat berisiko. Untuk membuka sekolah dan mengadakan pembelajaran tatap muka, pemerintah harus memastikan kurva penularan virus corona berangsur-angsur menurun dan secara perlahan berlalu dari Indonesia. Menurut saya, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam new normal pendidikan, baik secara fisik maupun psikologis.

Maka dari itu, saya meminta agar pemerintah tidak buru-buru memberlakukan pembelajaran tatap muka bila sekolah-sekolah belum steril dari Covid-19. Baik itu sekolah Pendidikan Anak usia Dini (PAUD) maupun pendidikan tinggi. Jujur saja, sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, apa dan bagaimana langkah sekolah untuk menerapkan protokol kesehatan yang demikian ketat, padahal ada siswa PAUD dan TK yang masih anak-anak. Belum lagi kondisi kerumunan yang akan terjadi di sekolah, khususnya di kantin.

Apakah para siswa benar-benar bisa disiplin untuk physical distancing, termasuk menggunakan masker? Maka dari itu, semoga pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan bisa mempertimbangkan keputusan membuka sekolah di tengah pandemi. Bukan tidak mungkin, sekolah yang dibuka justru jadi klaster baru penyebaran virus pada anak anak. (*)

Oleh: Fachrizal
Editor: Doi Nur

Fachrizal mahasiswa jurusan PPKN fakultas FKIP, UMM. (Foto: istimewa)

OPINI – aremamedia, Dewasa ini kita di hadapkan oleh wabah covid 19 terutama di Indonesia, sekarang kita diringankan oleh pemerintah dari adanya peraturan untuk mencegah covid 19 seperti Physical Distancing, Lockdown, PSBB, Stay At Home dan lain-lain. New Normal menjadi solusi ditengah pandemic covid 19 yang kian meluas dan menginfeksikan jutaan orang di dunia termasuk di Indonesia.

Dalam hal ini masyarakat harus hidup dan berdamai dengan covid 19, hingga ditemukannya vaksin yang efektif. Namun demikian, masyarakat harus tetap waspada dan tetap berusaha mencegah terhadap wabah covid 19 seperti memakai masker, menggunakan handsanitizer dan menjaga jarak antar sesama seperti yang disarankan pihak tenaga ahli.

Akibat pandemik ini masyarakat harus mengambil resiko guna untuk menyambung hidup dengan keadaan yang tidak menentu. Rakyat pun tak punya daya, dan mau tidak mau mereka harus hidup dalam keadaan yang semakin sulit, hingga akhirnya pemerintah menerapkan kehidupan New Normal, untuk mendongkrak kondisi perekonomian di Indonesia yang semakin merosot akibat adanya pandemic ini.

New Normal sendiri dilakukan guna mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial ekonomi,  World Health Organization (WHO) pun juga memberi pedoman untuk menerapkan kenormalan yang baru sebagai langkah transisi. New Normal sendiri memiliki  arti masyarakat sudah terbebaskan dari pembatasan – pembatasan yang awalnya di turunkan oleh pemerintah di indonesia mulai dari pembatasan sosial berskala besar .

Gagasan new normal yang tentu lebih fokus pada penyelamatan ekonomi ini memang bukanlah kembali pada kehidupan normal seperti sebelum Covid-19, dengan gagasan baru ini masyarakat masih dalam kondisi darurat new normal adalah kehidupan babak baru yang masih terikat dengan protokol Covid-19. Dalam hal ini pemerintah terlalu memaksa merilis scenario New Normal dengan mempertimbangkan perekonomian yang semakin menurun, dengan harapan pemberlakuan New Normal bisa mengembalikan perekonomian yang menurun akibat pandemic Covid-19.

Kendati demikian, Indonesia belum siap karena curva penyebaran belum melandai. Scenario yang ingin di normalkan kembali hanyalah kondisi perekonomian tanpa memikirkan kesehatan dan masyarakat yang tak kunjung meningkatan sarana prasarana untuk menagani wabah covid 19, ataupun melakukan riset untuk membuat vaksin covid 19. Sejatinya selama ini pandemic Covid-19 banyak merugikan perekomian dan Pendidikan.

Penyerangan pandemi di dalam pendidikan-pun, juga banyak merugikan dalam hal kurangnya efektifitas belajar dan mengajar, melemahnya kreatifitas berfikir pelajar dan tidak efisien nya waktu dalam hal belajar mengajar. Terlihat seperti biasa memang pendidikan tidak terlihat menyorot selama pandemic covid 19, akan tetapi Pendidikanpun mendapatkan dampak yang di berikan dari pandemic covid 19.

Sejatinya melemahnya pola berfikir akibat Stay At Home menjadi momok utama, karena kebiasaan akitivitas yang dilakukan selama Stay At Home akan dibawa di ruang belajar, meskipun tidak semua, menguak hal ini ketakutan di era New Normal dalam kependidikan akan menimbulkan adanya rasa malas untuk melakukan kreatifitas berfikir pelajar. Sehingga dalam pembelajaran pun juga menerapkan kenormalan pembelajaran guna melanjutkan efektifitas belajar dengan peraturan dan menggunakan metode baru yang telah di sampaikan dinas Pendidikan.

Pembelajaran bagi pelajar di era New Normal pun juga membutuhkan adaptasi untuk menggabungkan pembelajaran tatap muka dan virtual, menurut salah satu  pengamat pendidikan Profesor Karyono mengatakan, pembelajaran atau kegiatan belajar  New Normal harus mampu dilakukan secara blended learning, akan tetapi pembelajaran di era New Normal pun tidak semudah yang dibayangkan, pelajar pun juga akan belajar disekolah atau tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan covid 19.

Dinas Pendidikan dan kebudayaan diharapkan mampu menjalin kerjasama dengan orang tua dalam melaksanakan KBM secara daring. Saya melihat new normal ini sebagai upaya agar masyarakat bisa tetap produktif secara ekonomi namun dengan tetap menjalankan protokol kesehatan supaya aman dari penularan virus corona. Salah satu sektor yang juga perlu menyesuaikan diri dengan kebijakan new normal adalah sektor pendidikan.

Sebagai pelajar yang terdampak dengan hal ini, tentu kami bertanya, apakah sekolah kami akan dibuka dalam waktu dekat? Lalu bagaimana dengan kebijakan sekolah saat new normal?
Apa pun skenario pemerintah dalam pembukaan sekolah, misalnya menerapkan physical distancing, menurut saya cara itu tidak akan efektif dan tetap berisiko selama pandemi ini belum bisa dikendalikan. Menurut saya, kebijakan “tatanan normal baru” mungkin bisa dilakukan untuk sektor ekonomi, jasa, dan transportasi. Namun tidak untuk di sektor pendidikan.

Jika dilakukan terburu-buru, tidak hati-hati, dan mengabaikan curva penularan yang masih tinggi, maka keputusan ini akan sangat berisiko. Untuk membuka sekolah dan mengadakan pembelajaran tatap muka, pemerintah harus memastikan kurva penularan virus corona berangsur-angsur menurun dan secara perlahan berlalu dari Indonesia. Menurut saya, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam new normal pendidikan, baik secara fisik maupun psikologis.

Maka dari itu, saya meminta agar pemerintah tidak buru-buru memberlakukan pembelajaran tatap muka bila sekolah-sekolah belum steril dari Covid-19. Baik itu sekolah Pendidikan Anak usia Dini (PAUD) maupun pendidikan tinggi. Jujur saja, sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, apa dan bagaimana langkah sekolah untuk menerapkan protokol kesehatan yang demikian ketat, padahal ada siswa PAUD dan TK yang masih anak-anak. Belum lagi kondisi kerumunan yang akan terjadi di sekolah, khususnya di kantin.

Apakah para siswa benar-benar bisa disiplin untuk physical distancing, termasuk menggunakan masker? Maka dari itu, semoga pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan bisa mempertimbangkan keputusan membuka sekolah di tengah pandemi. Bukan tidak mungkin, sekolah yang dibuka justru jadi klaster baru penyebaran virus pada anak anak. (*)

Oleh: Fachrizal
Editor: Doi Nuri