Dua Legenda Arema dan Legenda Persebaya Angkat Bicara Juara Piala Indonesia 2019

Dua Legenda Arema dan Legenda Persebaya Angkat Bicara Juara Piala Indonesia 2019

Joko "Getuk" Susilo dan Singgih Pitono, dua legenda hidup Arema Fc.

MALANG – Para legenda Arema Fc dan Persebaya buka suara terkait tim yang berpeluang menjuarai Piala Presiden 2019. Dua legenda hidup Arema Fc, Singgih Pitono dan Joko ‘Gethuk’ Susilo memberikan garansi even Piala Presiden 2019 akan menjadi pesta dan milik Arema FC.

Hasil imbang 2-2 melawan Persebaya pada leg pertama, di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya (09/04/2019) sore lalu, mereka sebut sebagai modal bagus Singo Edan menasbihkan diri sebagai tim terbaik pada even berhadiah total Rp7,6 miliar itu.

“Saya amati perjalanan Arema sejak penyisihan grup hingga terakhir babak final leg pertama di Surabaya, memiliki grafik peningkatan luar biasa. Main di Surabaya yang kita tahu ada tekanan tinggi Bonek dan tim Persebaya, mereka mampu paksakan hasil 2-2. Artinya hanya tim-tim tamu yang secara fisik dan mental prima, tidak hanya teknis semata, yang bisa ambil hasil bagus di Surabaya. Itu sudah dilakukan Arema,” ulas Gethuk

Dia lantas menceritakan pengalaman saat menjadi pemain menghadapi Bajul Ijo. “Saya dan rekan-rekan selalu alami kesulitan jika main di Malang, terutama mudah nervous oleh tekanan Aremania. Itu saya lihat sendiri ketika dulu masih bermian untuk Arema melawan Persebaya . Ini peluang bagus Arema yang juga memiliki perfoma bagus untuk ambil kemenangan dan juara,” tegasnya.

Opini Joko Gethuk memiliki dasar. Pada Kompetisi Ligina I 1994/1995 Wilayah Timur, Persebaya yang mencatat rekor 12 laga beruntun tak terkalahkan, justru tersungkur di Malang, di depan 15 ribu Aremania pada laga ke-13 mereka. Dalam laga itulah gol Joko Gethuk menit 76 menjadi mimpi buruk Persebaya sekaligus mematahkan rekor Persebaya musim itu (29/03/1995).

“Arema secara mentalitas lebih unggul dibandingkan Persebaya. Tidak saja ketika bermain di Malang tapi juga tempat netral. Untuk menang di Surabaya memang relatif sulit bagi Arema. Tapi paling tidak kita bisa bermain imbang di Surabaya, itu sudah sama seperti kemenangan. Hasil leg pertama 2-2 di Surabaya, membuktikan pemain Arema tidak tertekan main lawan Persebaya di depan puluhan ribu Bonek. Arema tetap harus waspadai kebangkitan mereka,” pesan Joko.

Legenda lain, Singgih Pitono, ikut menjagokan Arema Fc. “Arema berpeluang lebih besar jadi juara,” prediksinya.

Singgih mengatakan, Persebaya mudah panik kalau main di Malang atau bahkan tempat netral lawan Arema. Ini fakta bukan perkara saya tim pelatih Arema” timpal Singgih Pitono, striker Arema era 1990-1993.

Dua gol Singgih Pitono lah yang sukses membungkam Persebaya 2-1 (25/10/1992) pada pertemuan pertama kali kedua tim. Itu terjadi pada babak penyisihan Grup B Piala Utama (25/10/1992) di Stadion Mattoangin Makassar.

Bejo Sugiantoro legenda hidup Persebaya yang masih memberikan dedikasi tinggi kepada Persebaya dengan menjadi asisten pelatih Persebaya.

Pada sudut lain, Bejo Sugiantoro sebagai legenda dan tim pelatih saat ini menepis anggapan jika peluang Persebaya untuk menjuarai Piala Presiden hampir mustahil. Menurutnya semua kemungkinan bisa terjadi karena Bajul Ijo telah berbenah pasca ditahan imbang Arema.

“Kalau dikatakan mustahil, tidak, berat mungkin iya. Militansi pemain Arema memang pantas diwaspadai,” jelas mantan bek Tim Nasional itu.

Menurut Bejo, pemainny telah melupakan hasil kurang memuaskan pada leg pertama. Pertandingan final yang menentukan itu baginya akan berlangsung menarik karena semua sama sama ada beban.

“Persebaya datang ke Kota Malang untuk mengalahkan Arema. Jadi saya yakin antara kedua tim pasti akan tampil lebih maksimal dibandingkan kemarin. Tim sudah dievaluasi. Tidak ada alasan untuk tidak bermain total,” tandasnya. (*)

Pewarta : Doi Nuri
Editor: Noordin Djihad