Disabilitas Jangan Dikasihani, tapi Kuatkan

Disabilitas Jangan Dikasihani, tapi Kuatkan

Difabel berdaya, Sadikin Pardi, di balik kekurangannya prestasinya hingga mancanegara. (Foto: goodnews from indonesia.id-aremamedia.com)

MALANG – Buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Setidaknya hal itu terlihat saat bedah buku tersebut yang digelar Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya di ruang seminar lantai 8 gedung Rektorat Universitas Brawijaya Malang, Selasa (9/4/2019). Buku tersebut disusun Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (LP3M) dan Pusat Studi Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD – UB).

Salah satu pembedah dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Dr Muhaimin Kamal, mengatakan inti buku ini tentang Islam memudahkan hukum-hukum bagi penyandang difabel seperti tata cara bersuci, tawaf saat haji dan masih banyak lagi. “Buku ini didedikasikan bagi para difabel agar memunyai kepercayaan diri. Mendatang, pembaca mampu mengapresiasi para difabel bukan dengan rasa kasihan. Justru diharapkan mampu mewujudkan hal-hal yang bisa membantu penyandang disabilitas mudah melakukan ibadah,” ujarnya.

Dikatakan Muhaimin, buku yang banyak berbicara tentang tatanan ibadah dan kehidupan bagi penyandang disabilitas ini, sebagian besar didistribusikan gratis ke pondok-pondok pesantren dan Lembaga Pendidikan Islam seluruh Indonesia. “Tujuan utamanya agar masyarakat terutama kaum pelajar, santri dan mahasiswa muslim mampu secara bijak dan benar memandang dan memperlakukan penyandang disabilitas,,” terangnya.

Meski buku ini tuntunan beribadah kaum disabilitas, lanjutnya, distribusinya tidak hanya untuk kalangan tertentu. “Ada dua jenis distribusi. Pertama distribusi gratis untuk lembaga pendidikan dan pondok pesantren, yang kedua distribusi komersil yang diperjualbelikan di toko buku umum agar mudah diakses oleh masyarakat,” ungkap pengurus LBM – PBNU ini.

Suasana bedah buku fikh tentang tata cara beribadah buat kaum disabilitas. (Foto: Doi Nuri-aremamedia.com)

Muhaimin menyebut, ide awal penulisan buku “Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas” sejak Munas di Lombok. Meski hanya berupa gagasan, saat itu dengan hangat disepakati terciptanya buku pedoman praktis hukum Islam untuk penyandang disabilitas.

Dalam pemaparannya, Muhaimin berkali kali menekankan kaum penyandang disabilitas bukan untuk dikasihani, namun perlu dikuatkan secara moral dan sosialnya. Untuk hal itulah buku fiqih ini digagas untuk terbit dan beredar luas.

“Islam ini kan rahmatan lil alamin. Sudah saatnya masjid dan lembaga pendidikan Islam menyediakan akses dan infrastruktur bagi penyandang disabilitas. Buku fiqih ini selain berbicara hukum yamg memudahkan para difabel, juga merespon kita untuk menguatkan mereka, salah satunya dengan infrastruktur,” pungkasnya.(*)

Pewarta: Doi Nuri
Editor : Noordin Djihad