Di IBU, Mahasiswa Asing Selain Materi Bahasa dan Budaya Lokal, juga Dapat Ini

Di IBU, Mahasiswa Asing Selain Materi Bahasa dan Budaya Lokal, juga Dapat Ini

Jacqueline berbincang dengan Rektor IBU, Rabu (6/2/2019). (Foto: Irawan-aremamedia.com)

MALANG – Kehadiran mahasiswa asing semakin memudahkan IKIP Budi Utomo (IBU) menuju perguruan tinggi berkelas Internasional.

“Sebagai konsekuensinya, kami terus meningkatkan kualitas dan akselerasinya,” kata Rektor IBU, Dr H Nurcholis Sunuyeko, Rabu (6/2/2019).

Ungkapan Nurcholis ini menanggapi banyaknya mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di IBU.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ajaran 2018/2019 ini, IBU menerima mahasiswa asing yang mengikuti program Darmasiswa Kemendikbud RI,” ujarnya.

Sebanyak tujuh mahasiswa dari berbagai negara wajib mengikuti program sekolah bahasa dan kultur budaya Indonesia selama setahun.

“Untuk tahun ini yang di IBU berasal dari Itali, Sudan, Afghanistan, Australia, Jerman, Jepang, Korea, dan Amerika Serikat,” jelasnya.

Selain program Darmasiswa, IBU juga menerima mahasiswa reguler. “Ada 15 mahasiswa asing kelas reguler (4 tahun) dari negara Asia seperti Korea, Malaysia, Thailand dan Kamboja,” imbuhnya.

Masyarakat, kata Nurcholis, akhirnya bisa menilai untuk membandingkan IBU dengan PTS lain.

“Di IBU mahasiswa asing mendapatkan ilmu pengetahuan tentang bahasa seperti tata bahasa, kosa kota serta bahasa Malangan. Dengan demikian proses pembelajaran lebih komprehensif (lengkap), selain kultur budayanya,” terangnya.

Bahkan, lanjutnya, bukan hanya budaya Malangan. “Kita berpikiran kultur budaya Yogyakarta patut kita perkenalkan, agar wawasan mereka lebih luas lagi,” tukasnya.

Alasan Nurcholis, membatik tidak hanya di Malang. Kecuali tari topeng Malangan serta budaya Malangan lainnya, kita manivestasikan kebudayaan yang ada di sekitarnya.

Sepasang mahasiswa asing asal Jerman, Jacqueline Kichner dan Manuel Kichner, mengaku sangat menggemari bahasa dan kultur budaya bangsa Indonesia.

“Saya bisa menjadi mahasiswa IBU, setelah mendapat referensi dari teman asal Jepang, Sae Yamaguci, yang lebih dulu studi di kelas reguler,” ucap peserta Darmasiswa yang diterjemahkan Ike Dian, pengajar BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing).

Jacqueline mengaku, selain menyukai bahasa dan kultur budaya Indonesia, juga gemar kuliner. “Terutama masakan Padang. Tapi lebih suka lagi pada bangsa Indonesia yang ramah tamah,” pungkas Jacqueline yang didampingi Dian.(*)

Pewarta : Irawan
Editor : Noordin Djihad