Densus 88 Obok-obok Rumah Terduga Teroris di Pandaan

Densus 88 Obok-obok Rumah Terduga Teroris di Pandaan

(Sumber: wartabromo.com)

PANDAAN – Densus 88 bersama Polres Pasuruan menggeledah rumah di Dusun Kalitengah Baru, Desa Karangjati, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Senin (14/5/2018). Rumah tersebut diduga milik KH, salah satu teroris yang terlibat dalam serangan teror bom di Surabaya dan Sidarjo dalam beberapa hari terakhir.

KH terindikasi kuat terlibat dalam aksi yang menewaskan belasan orang tersebut. Pagi sebelum digeledah, KH disinyalir sudah melarikan diri karena yang tersisa di rumahnya hanya istri dan anak bungsunya. KH ini memiliki serang istri dan tiga orang anak, dan semuanya itu perempuan.

Bertahun-tahun KH ini tinggal di rumah yang memiliki luas bangunan 7×8 meter ini. Sehari-hari, KH dikenal sebagai┬átukang servis arloji, sedangkan istrinya adalah karyawan di sebuah rumah makan di kawasan Pandaan. Dalam kesehariannya, KH dan keluarga tidak memiliki kegiatan yang mencurigakan.

Pria yang diperkirakan berusia 40 tahun lebih ini dikenal sebagai pribadi yang agamis. Tutur katanya santun, cara bersikapnya lemah lembut. Bahkan, KH ini dikenal sebagai sosok yang murah senyum.

“Kalau lewat itu ya, saya selalu disapa. Saya ingat saat pertama kali kontrak di lingkungan sini. Dia (KH) yang pertama kali menyapa kami, saya dan suami,” kata Maria, tetangga KH yang berjarak tujuh rumah seperti yang dilansir melalui suryamalang.tribunnews.com, Selasa (15/5/2018).

Maria mengaku tidak menyangka KH ini akan terlibat dalam aksi terorisme. Bahkan, ia kaget, saat tahu rumah KH ini sudah dikepung polisi. Maria sendiri mengenal KH sejak enam bulan yang lalu. Ia menganggap KH sebagai sosok yang ramah dan agamis. Dia rutin ke musala, dan selalu ramah dengan tetangga.

“Saya kira selama ini tidak ada masalah. Tidak ada yang berbeda atau aneh dari keluarga mereka. Saya mengiranya dia sosok yang baik,” jelasnya.

Terpisah, Mudrika mengatakan, KH ini orangnya memang sedikit misterius. Menurutnya, KH jarang berkumpul dengan tetangga. Namun, dia baik dengan tetangga. Ia mengaku nyaris tidak pernah bersinggungan dengan KH dalam hal kecil atau pun besar. Padahal, rumahnya dengan rumah KH ini berseberangan.

“Dia baik, tidak sombong. Selalu menyapa dengan tetangga. Tidak angkuh dan rendah hati. Ia juga sering menjadi imam untuk jamaah di sini. Suara mengajinya lembut dan enak didengar. Warga di sini pun senang mendengar suara KH saat memimpin salat berjamaah,” cerita Mudrika.(*)

 

Pewarta : Shinta M Lubis

Editor : Shuvia Rahma