Dari Obrolan Gardu Jaga, Lahir Kampung Flory yang Mendunia

Dari Obrolan Gardu Jaga, Lahir Kampung Flory yang Mendunia

Wisatawan mengamati pembibitan yang dilakukan pengelola Kampung Flory. (Foto: Noordin Djihad-aremamedia.com)

SLEMAN – Kalau ada kampung wisata yang punya mimpi omzet Rp 12 miliar, Kampung Flory, Desa Tridadi, Kabupaten Sleman tempatnya.

Yang tak pernah menyangka, kampung fenomenal ini berawal dari omong kosong di gardu ronda. “Empat pemuda yang saat itu punya obsesi ingin mengubah kampungnya,” kata penggagas Kampung Flory, Sudihartono.

Sudi lantas cerita, beberapa pemuda pada 2015 ingin mengubah mental pemuda yang enggan bertani. “Lantas muncul ide bahwa pemuda bukan pencari kerja tapi pencipta lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Kemudian dibentuklah Kelompok Taruna Tani dari kalangan pemuda desa. Mereka juga sepakat patungan Rp 2 juta per orang. “Ya namanya pemuda yang belum berpenghasilan, banyak cara dilakukan. Ada yang pinjam ke orang tuanya, bahkan malah ada yang pinjam ke saya,” guraunya.

Di Kampung Flory, wisatawan bisa terapi ikan di kolam yang disediakan. (Foto: Noordin Djihad-aremamedia.com)

Duit yang terkumpul, lanjutnya, dibuat sewa lahan 400 m2 senilai Rp 40 juta untuk dua tahun. Mereka pun fokus pada pembibitan dan penanaman serta konservasi lingkungan. Mereka kemudian melakukan penghijauan bantaran sungai dengan tanaman pohon induk dan mengembangkan tanaman hias.

Bahkan mereka studi banding
ke kampung bunga di Batu dan Malang. Dari pengalaman itu muncul ide memadukan pertanian dan wisata. Sebagai langkah awal, mereka membuat badan hukum.

Dengan berbadan hukum yang dikelola kelompok sadar darmawisata (Pokdarwis) itulah bantuan demi bantuan mengucur.

Tak ketinggalan Bank Indonesia ikut melakukan pendampingan. Alhasil Pokdarwis ini bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai pengelola kuliner, outbond, pusat oleh-oleh, hingga pembibitan tanaman hias, buah, dan bunga. “Kami juga berobsesi menjadi pendekor terbesar di DIY untuk taman di rumah maupun kantor, pengantin, serta penghijauan,” kata Sudi lagi.

Dari berbagai usaha tersebut, siapa nyana Kampung Flory didatangi sekitar 10 ribu wisatawan per bulan. “Kami bermimpi tiap bulan menghasilkan Rp 1 miliar agar setahun bisa Rp 12 miliar,” ujarnya optimistis menceritakan mimpi-mimpi pemuda desa.(*)

Pewarta : Noordin Djihad