Asal-usul Nama di Malang Raya (3)

Daerah Rampal yang Dulu Banyak Ditumbuhi Klerek

Daerah Rampal yang Dulu Banyak Ditumbuhi Klerek

Jl. Panglima Sudirman yang pada masa Belanda dikenal dengan nama Klerekstraat. (Sumber Foto: www.jalanjalandikotamalang.blogspot.com)

Mulai edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran jurnalis aremamedia.comDevan Firmansyah yang juga pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya

Gambar 01: Jl. Panglima Sudirman yang pada masa Belanda dikenal dengan nama Klerekstraat. (Sumber Foto: www.jalanjalandikotamalang.blogspot.com)

Masyarakat dulu lebih mengenal klerek untuk mencuci pakaian sebelum datang era sabun. Tapi siapa sangka, klerek yang sebenarnya nama sebuah tanaman, dijadikan nama tempat dan daerah di Malang (dekat Lapangan Rampal,red) dan Batu (Junrejo). Dusun Klerek yang di Kota Malang tepatnya di Kelurahan Rampal-Celaket, Kecamatan Klojen, sedangkan Dusun Klerek lainnya berada di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Dusun Klerek di Kelurahan Rampal Celaket kini telah hilang berubah menjadi kampung di area Jl. Panglima Sudirman, dan terpusat di wilayah Jl. Panglima Sudirman Utara. Selama penelusuran di lapangan tidak ditemukan adanya indikasi punden tokoh babat alas atau bedah kerawang di dusun ini. Sejauh ini satu-satunya data sejarah yang mengabadikan nama dusun ini adalah sebuah peta yang bernama “Java Town Plan” tahun 1946, koleksi Leiden Library University. Dalam peta itu terdapat keterangan bahwa nama kampung area “Dusun Klerek” diabadikan menjadi nama sebuah jalan oleh pemerintah Hindia-Belanda yaitu “Klerek Straat”. Jalan itu kini berubah menjadi Jl. Panglima Sudirman. Sedangkan untuk Dusun Klerek di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, berdasarkan data informasi dari laman www.pemerintah-desa-torongrejo.blogspot.com, diakses 15/08/2018:07:35 WIB, dalam artikel yang berjudul “Sejarah Nama Dusun”, yang ditulis tahun 2011, dijelaskan bahwa: “Yang diyakini membuka dusun (Mbedah Krawang) dusun ini adalah Mbah Aji Mustofa. Kuburnya di daerah Krapyak yang sampai sekarang dikeramatkan penduduk sebagai tempat berlangsungnya upacara adat bersih desa atau selamatan desa. Nama Klerek diambil dari nama sebuah pohon yang dijadikan sebagai sabun cuci. Pada waktu itu daerah ini banyak ditumbuhi pohon klerek”, tulis laman tersebut.

Gambar 02: Klerek Straat atau Jl. Klerek Diabadikan Pemerintah Kota Hinda-Belanda Berdasarkan Nama Dusun di Desa Rampal-Celaket Saat Itu 
(Sumber Foto: Leiden Library University)

Buah klerek sendiri memiliki beberapa sebutan, antara lain ciulerakrerakrerek, atau lamuran.  Ira Fatmawati dalam artikelnya yang berjudul ‘Efektivitas Buah Lerak (Sapindus Rarak de Candole) Sebagai Bahan Pembersih Logam Perak, Perunggu dan Besi’, yang dimuat di “Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, Volume 8, Nomor 2, Desember 2014, Hal. 24-31”, menjelaskan “Sapindus rarak De Candole merupakan nama binomial dari lerak yang dikenal di Jawa sebagai klerek, di Sunda sebagai rerek, di Palembang sebagai lamuran, di Kerinci sebagai kalikea, dan di Minang sebagai kanikia. Lerak termasuk dalam divisi Spermatophyta yang tumbuh di daerah Jawa dan Sumatera dengan ketinggian 450 – 1500 m di atas permukaan air laut. Tinggi tanaman dapat mencapai 15 – 42 putih kusam berbentuk bulat dan keras itu dapat berukuran 1 m. Biji tanaman berbentuk bulat, keras, dan berwarna hitam. Buahnya berbentuk bulat, keras, diameter ± 1,5 cm, dan berwarna kuning kecoklatan. Di dalam buah terdapat daging buah yang aromanya wangi. Tanaman lerak mulai berbuah pada umur 5 – 15 tahun. Pada umumnya musim berbuah pada awal musim hujan dan menghasilkan biji sebanyak 1.000 – 1.500 biji,” tulisnya.

Gambar 03: Buah klerek yang bermanfaat sebagai sabun untuk mencuci kain. Meski berbau harus, rasanya pahit. 
(Sumber Foto: www.leraksoapnut.blogspot.com)

Buah klerek dalam tradisi masyarakat Jawa biasanya dijadikan ungkapan untuk menyindir seseorang dalam konotasi negatif. Misalnya, “Wong Iku Pait Koyok Klerek”, artinya orang itu pahit (kikir) seperti (rasa) buah klerek, untuk menggambarkan betapa kikirnya orang yang disindir itu. Sedangkan di dalam tradisi Jawa yang lainnya, juga disebutkan sebuah pribahasa yang menggunakan obyek buah klerek untuk pengungkapan sesuatu, seperti pribahasa yang dicatat oleh Sedangkan Imam Budhi Santosa, di dalam bukunya yang berjudul “Suta Naya Dhadap Watu (Manusia Jawa dan Tumbuhan)”, tahun 2017, halaman 27, yaitu “Kaya Wit Lerak (Klerekred), Kebak uler didohi sanak”. Artinya: seperti pohon lerak (Sapindus rarak) yang penuh ulat sehingga dijauhi kerabat atau tetangga. Pohon lerak setiap musim peralihan sering dipenuhi ulat yang memakan habis daun-daunnya. Gara-gara itulah sering pohon lerak dimatikan. Karena banyak orang (terutama perempuan dan anak-anak) akan ketakutan jika berada di bawahnya. Pesan moralnya, orang harus menjaga kebersihan badan dan penampilannya agar tidak dijauhi orang lain.

Namun, apakah manfaat dari tanaman ini selalu buruk seperti yang diungkapkan dalam peribahasa-peribahasa diatas? Ternyata tidak juga, justru tanaman klerek memiliki khasiat dan guna yang cukup tinggi. Dalam artikel yang berjudul “Lerak (Sapindus rarak) Tanaman Industri Pengganti Sabun”, tahun 2009, yang dimuat dalam Jurnal “Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Volume 15 Nomor 2, Agustus 2009”, pada halaman 07-08, dijelaskan bahwa “Tinggi tanaman ini dapat mencapai 15 – 42 meter, bertajuk rindang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan, dan pohon pelindung sebagai tanaman pekarangan dekat rumah. Kayu dari tanaman lerak dapat digunakan sebagai papan, dan batang korek api. Biji lerak kering bila direndam dalam air akan mengeluarkan busa saponin yang dapat membersihkan kain. Di Jawa banyak dijumpai untuk membatik, dan membersihkan barang berharga yang terbuat dari logam mulia (emas dan perak). Manfaat lainnya dapat digunakan sebagai insektisida dan nematisida serta sebagai antiseptik sering digunakan untuk mengobati kudis, sebagai kosmetik dan pembersih rambut (sampo). Komponen yang terdapat dalam buah lerak antara lain: Saponin 28%, senyawa alkaloid, polifenol, senyawa antioksidan dan golongan flavanoid, juga tannin. Harga biji kering lerak Rp 10.000 – Rp 15.000,- /kg”, tulis artikel tersebut terkait manfaat klerek. (*)

Editor : Noordin Djihad