Asal-usul Nama di Malang Raya (7)

Celaket, Ingin Tahu Nama Apa Sebenernya? Inilah Jawabannya

Celaket, Ingin Tahu Nama Apa Sebenernya? Inilah Jawabannya

Gambar 01: Peta Desa Celaket tahun 1946 (Sumber Foto: Leiden University Libraries, 1946)

Mulai edisi lalu, aremamedia.com menurunkan tulisan tentang asal-usul nama di wilayah Malang Raya. Penelusuran jurnalis aremamedia.comDevan Firmansyah yang juga pegiat di komunitas sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM) tidak sekadar di lapangan karena dikhawatirkan hanya menemukan othak-athik gathuk sesuai nama di lokasi. Karena itu penelusuran pun didukung dengan kepustakaan berbagai sumber untuk mendukung validitas asal-usul nama tempat/daerah/kampung di Malang Raya

Bagi yang baru bermukin di Kota Malang, Celaket mungkin belum begitu akrab. Namun jika disebut Jalan Jaksa Agung Suprapto dekat insitusi pendidikan Cor Jesu, biasanya langsung bisa menunjukkan arah dengan tepat. Yah, Celaket saat ini salah satu kelurahan di Kota Malang tepatnya Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Berdasarkan peta Java Town Plan tahun 1946, Desa Celaket terdiri dari tiga bagian yaitu “Tjelaket Koelon (kini areal Jl. Jaksa Agung Suprapto Gang II), Tjelaket (kini sekitar sekolah Cor Jesu dan areal Jl. Hasanudin) dan Tjelaket Wetan (kini areal Jl. WR. Supratman dan Jl. Dr. Cipto)”. Bahkan Dusun Rampal dan Dusun Klerek juga masuk dalam wilayah Kelurahan Rampal Celaket. (baca juga: Daerah Rampal yang Dulu Banyak Ditumbuhi Klerek)

Ternyata, di areal Malang Raya ada juga nama “Celaket”, tepatnya Dusun “Claket” (RW IX), Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kok bisa sama ya? Sebenarnya apa arti “Celaket” itu sendiri.

Gambar 02: Suasana Celaket Masa Kolonial Belanda
(Sumber Foto: www.tropenmuseum.nl.)

Menurut sejarawan Malang, Suwardono, “Di Jawa sangat banyak nama daerah yang mengambil nama tumbuhan, seperti Pakis, Blimbing, Lowokwaru, Karang Lo, Karang Asem, Kayu Tangan, Celaket, Pandanwangi dan masih banyak lagi”. (Diktat kecil “Candi Badut”, tahun 2008, halaman 2). Dari keterangan tersebut, ternyata Celaket adalah nama sebuah tumbuhan berasal dari Bahasa Jawa Kuna (Kawi). Dalam buku “Kamus Kawi – Indonesia”, karya Wojowasito, tahun 1977, memberikan pengertian bahwa Celaket berasal dari kata “Calakět” yang berarti sejenis bunga. Senada dengan Wojowasito, L. Mardiwasito di dalam bukunya yang berjudul “Kamus Jawa Kuna Indonesia”, tahun 1983, pada halaman 133, memberi pengertian “Calakět” berartibunga atau sesuatu yang lengket seperti kapur dengan kunyit.

Namun berbeda dengan kedua pendapat di atas, Zoetmulder dan Robson dalam kamus mereka “Kamus Jawa Kuna Indonesia”, tahun 2006, halaman 154, menjelaskan bahwa kata “Celaket” berasal dari kata Jawa Kuna yaitu “Calakět atau Calěkět” yang berarti pedas atau masam (?). Menariknya, Zoetmulder menambahkan suatu keterangan lanjutan bahwa kata Calakět tersebut terdapat didalam salah satu teks naskah susastraKakawin Ramayana (16.44) yaitu sebagai berikut: Kamalagi, Calakět, Kukap, Gintuŋan. Dalam buku tersebut di halaman 448 dijelaskan bahwa Kamalagi berarti asam. Sementara dalam halaman 528, dijelaskan bahwaKukap berarti sejenis pohon sukun (Artocarpus Incisa?). Lalu di halaman 297, diaktakan bahwa Gintuŋanberarti sejenis pohon (Schleichera Trijuga). Dan akhirnya Zoetmulder menduga dan menyamakan Calakětdengan Kamalagi yang berarti ‘Pohon Asam’. Pendapat Zoetmulder dan Robson dikuatkan oleh pendapat Anita Swandayani, alumnus Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia (UI) dalam skripsinya “Makanan dan Minuman Dalam Masyarakat Jawa Kuno Abad 9-10 M: Suatu Kajian Berdasarkan Sumber Prasasti dan Naskah”, tahun 1989, di halaman 42, yang juga menduga bahwa Calakět sama dengan pohon asam.

Gambar 03: Peta Geologi Lokasi Dusun Celaket di Kota Batu
(Sumber Foto: www.blogsidul.blogspot.com|Desain: Devan Firmansyah)

Terkait dengan pohon asam tersebut, sejarawan dan arkeolog Malang  M. Dwi Cahyono, dalam artikelnya “Orasi Budaya’Festival kampung Celaket Ke-3’: Perhelatan Budaya Kampung Tua Celaket”, tahun 2015, halaman 02, menerangkan: “Secara harafiah kosakata dalam Bahsa Jawa Kuna ‘calaket atau caleket’ berarti pedas atau masam. Istilah ini disebut dalam kakawin Ramayana (6.45) dengan kalimat ‘…. kamalagi calaket kukap gintungan’. Kata-kata yang menyertainya adalah nama-nama tanaman, yaitu kamalagi (kini ‘kemlagi’ atau asam), kukap (sejenis pohon sukun atau Artocarpusinsica), dan gintungan (kini ‘glintung’, sejenis pohon atau Schleicheratrijuga). Dalam arti pedas, istilah ini menujuk pada sejenis tanaman cabai, merica, dsb. Bila asam rasanya, maka dapat menunjuk pada sejenis pohon asam. Untuk kemungkinan terakhir, mengingatkan kita pada deretan pohon asam Jawa yang tinggi-besar di kanan kiri koridor Celaket hingga tahun 1980-an, yang sebagian diantaranya kini masih tertinggal”, terangnya.

Dari pembahasan di atas hampir semua sejarawan dan arkeolog, serta ahli Bahasa Jawa Kuna sepakat bahwa Celaket adalah pohon asam. Benarkah demikian? Mengingat pencetus teori Celaket adalah pohon asam yaitu Zoetmulder dan Robson membubuhkan tanda tanya (?) dalam tafsirnya, menandakan bahwa mereka cukup ragu dalam tafsirnya itu. Beruntung ahli botani, Iman Budhi Santosa, dalam bukunya “Suta Naya Dhadap Waru (Manusia Jawa dan Tumbuhan)”, tahun 2017, pada halaman 94, mengakhiri segala spekulasi ini. Berikut uraiannya: “Pohon Celaket (atau bahasa ilmiahnya Chrysophyllum roxburghii) yang sering pula disebutmempulut merupakan pohon berkayu yang memang sejak masa lalu jarang ditemukan di Jawa. Berdasarkan penelitian K. Heyne dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia I-IV (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan, 1987), dijelaskan bahwa pohon celaket dapat setinggi 30 m dan diameter batangnya mencapau 60 cm. Batang pohon celaket lurus dan bulat. Percabangannya berwarna merah dan berbulu. Celaket banyak terdapat di hutan ketinggian 1.200 m dpl. Konon, kayunya dapat dipakai sebagai bahan perlatan rumah dan bangunan, namun kurang memiliki sifat yang istimewa dibanding kayu jenis lain. Akibatnya, di Jawa jarang dimanfaatkan, juga karena pohon celaket jarang ditemukan. Karena jarang ditemukan maka keberadaan pohon celaket jadi tidak sebanyak pohon kayu lain yang tumbuh di Jawa”.

“Walaupun demikian, dikabarkan penggunaan kayu celaket banyak terjadi di Pulau Bangka. Kebanyakan dipakai sebagai tangkai kapak untuk menebang kayu. Selain itu kayu celaket juga digunakan untuk pembuatan birih roda yang melengkung karena cukup liat (alot). Dari informasi media sosial dikabarkan pohon celaket atau mempulut sudah sedemikian langka dan perlu dijaga kelestariannya karena celaket merupakan salah satu kekayaan flora dari masa lalu. Desa-desa di Jawa Timur/Jawa Tengah/DIY yang menggunakan nama celaket menjadi nama desa adalah Kelurahan Rampal Celaket, kecamatan Klojen, Kota Malang dan Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto”, tambah Iman dalam bukunya itu.

Gambar 04: Buah Celaket (Lawulu/Indian Star Apple) yang Telah Masak
(Sumber Foto: www.photobucket.com)

Dan memang seperti yang dikatakan Iman tentang terkait kelangkaan tumbuhan ini. Jangankan menemukan tumbuhan ini secara langsung di Jawa, menemukan gambarnya saja di mesin pencari “google” saja sulitnya bukan main. Dibutuhkan ketelatenan untuk mencari gambar tanaman ini. Dan itu setelah mencari beberapa lama terdapat informasi menarik dari lama luar negeri. Sebagai contoh dalam lamanwww.instituteofayurveda.org (Diakses 06/09/2018:18.35 WIB), dijelaskan bahwa tumbuhan ini dapat berbuah. Dalam bahasa lokal di Sri Lanka buah pohon celaket disebut dengan “Lawulu”. Dan dalam laman pengobatan online milik Barberyn Ayurveda Resorts and the University of Ruhuna, itu dijelaskan bahwa buah celaket (lawulu) berkhasiat utnuk pengobatan keputihan, penyakit mata, penyakit cacingan untuk anak-anak, dan sembelit. Kemudian dalam penelusuran dunia maya terdapat informasi menarik. Bahwa bibit buah ini dijual di situs jual beli internasional terkenal yaitu www.ebay.com dengan user name akun penjual bernama “7_heads”. Dalam akun itu dijelaskan bahwa buah lawulu (buah celaket) memiliki nama Inggris yaitu “Indian Star Apple” dan tumbuhan ini sangat langka. Dalam laman jual beli itu akun 7_heads menjual bibitnyanya dengan harga US $ 89.99 atau setara dengan Rp. 895.373,- per bibitnya sementara akun tersebut juga menjual bibit itu di laman jual beli internasional terkenal lainnya dengan harga US $ 74.98 dan US $ 29.50 atau setara dengan Rp. 1.125.000,- per bibitnya dan Rp. 450.000,- untuk pengirimannya ke Indonesia. Dan tentu itu adalah jumlah yang fantastis. Andai orang-orang Celaket baik di Kota Malang maupun di Kota Batu mau belajar melestarikan toponimi tempat tinggal mereka ini, besar kemungkinan mereka akan kaya sedari dulu. (*)

 

Gambar 05: Buah Celaket (Lawulu/Indian Star Apple) yang Belum Masak
(Sumber Foto: www.amazon.com)

 

Editor: Noordin Djihad